Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 23. Mulut Setajam Pisau.


__ADS_3

Via terus menumpahkan segala kesedihan di ruang perpustakaan mini milik Papa mertuanya, dia benar-benar tidak menyangka kalau rumah tangganya akan hancur berkeping-keping seperti ini.


Namun, disatu sisi dia juga sangat terkejut dengan keputusan Papa Adrian. Dia tidak menyangka kalau laki-laki paruh baya itu memberi izin untuk perceraiannya dengan Mahen, padahal sebelumnya mereka sendiri yang menentangnya.


"Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Tolong tunjukkan jalan keluarnya padaku, aku sedang dilanda kebingungan, ya Allah!"


Via terus menumpahkan segala rasa sakit yang sedang dirasakan, kalau selama ini dia selalu bergantung pada Mahen untuk semua masalah yang terjadi. Lalu, harus pada siapa dia mengadu saat suaminya sendiri menghancurkan hidupnya?


Tiba-tiba sebuah sapu tangan terulur tepat di hadapan Via membuat dia langsung mendongakkan kepalanya. "Va-Vano?" Dia terkesiap saat melihat siapa yang memberikan sapu tangan untuknya.


"Air matamu bisa membuat buku-buku di sini basah!"


Via langsung mengusap air matanya saat mendengar ucapan Vano, dia lalu berdiri di hadapan laki-laki itu yang masih mengulurkan sapu tangan.


"Te-terima kasih!" Via mengambil sapu tangan yang diberi oleh Vano walaupun tidak akan digunakan.


Untuk beberapa saat mereka berdua saling diam, Via yang memang tidak dekat dengan laki-laki itu bingung harus mengatakan apa. Sementara Vano sendiri memang tidak suka bicara, dan kerjaannya hanya menatap tajam pada orang lain.


"Ka-kalau gitu aku permisi dulu!" Via harus cepat-cepat pergi dari tempat itu, sungguh rasanya canggung sekali saat ini.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu, Kakak ipar?"


Deg. Langkah Via yang sudah hampir mencapai pintu terpaksa berhenti saat mendengar ucapan Vano, untuk pertama kalinya laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan kakak karna memang mereka seumuran.


Dia lalu membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Vano. "Ma-mau nanya apa?" Senyumnya terlihat kikuk sekali.


"Kenapa suamimu selingkuh?"


Via tercengang saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Vano, kenapa laki-laki itu tidak bertanya pada kakaknya saja? Jelas-jelas kakaknya lah yang selingkuh.

__ADS_1


"Ke-kenapa kau tidak bertanya pada kakakmu saja?" Entah kenapa dia selalu saja gagap saat bicara dengan Vano.


"Karna aku sedang bertanya padamu!"


Via mengernyitkan keningnya dengan bingung, sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh adik iparnya ini? "Aku tidak tau kenapa Mas Mahen selingkuh, tapi seharusnya kau bertanya langsung padanya. Kenapa dia sampai melakukan hal seperti itu!"


Vano tersenyum sinis mendengar ucapan wanita itu. "Laki-laki tidak akan selingkuh jika wanitanya tidak bermasalah!"


Deg. Kata-kata yang Vano ucapkan itu terasa menusuk hati Via, seolah-olah laki-laki itu ingin mengatakan kalau dialah penyebab Mahen sampai selingkuh.


"Aku tidak mengerti kenapa kau mengatakan itu, adik ipar! Tapi, kau harus tau satu hal!" Untuk pertama kalinya Via menatap laki-laki itu dengan tajam. "Jangan menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang kakakmu lakukan, dan jangan mencari pembenaran untuk hal tersebut. Karna apapun alasannya, seorang suami seharusnya tidak mengkhinati istrinya!"


Via langsung beranjak pergi dari tempat itu dengan menahan tangis, walaupun kata-kata yang Vano ucapkan sangat singkat, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sungguh sangat menyengat hatinya.


"Kenapa? Kenapa malah aku yang dihakimi?"


"Mama, Yala cali ke mana-mana tapi gadak!" Gadis kecil itu memajukan bibirnya menyerupai mulut bebek, dengan kedua pipi gembul yang membuatnya tampak sangat menggemaskan.


"Mama abis dari perpustakaan, kita pulang sekarang yuk!" Via mencubit pipi putrinya itu dengan gemas.


"Tapi tapi, Yala mau es klim!"


Via menganggukkan kepalanya dan langsung menggendong tubuh Yara. "Oke, nanti kita berhenti beli es krim!"


Wajah yang tadi terkekuk kini sudah berubah sumringah dengan mata bulat yang berbinar-binar, dengan semangat Yara melingkarkan tangannya dileher sang Mama.


Via lalu segera membawa putrinya untuk meninggalkan tempat itu, tanpa sadar kalau sejak tadi Mahen memperhatikan mereka.


"Tidak, kau tidak bisa lepas dariku, Via! Aku tidak akan membiarkannya!"

__ADS_1


Entah apa yang sedang dilakukan oleh Mahen, dia ingin menikah dengan Clara tapi tidak ingin berpisah dari Via. Sepertinya dia ingin bersama dengan kedua wanita itu, dan tidak ingin kehilangan salah satunya.


Bersama Via, dia merasa tenang dan damai. Wanita itu selalu membuatnya tersenyum dan bisa menenangkan hatinya di saat gundah, Via juga selalu melayaninya dengan baik. Memastikan semua kebutuhannya terpenuhi, dan selalu mengutamakan dirinya daripada siapapun.


Sementara dengan Clara, dia merasa adrenalinnya terpacu dengan kuat. Wanita itu seperti megnet yang membuatnya selalu menempel dengan erat, apalagi gairahnya selalu meninggi karna godaan yang diberikan oleh Clara.


Mahen tidak mau kehilangan keduanya, dia merasa hidupnya pasti akan sangat bahagia jika bisa bersama dengan Via dan juga Clara.


"Kak!"


Tubuh Mahen terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, dia lalu menatap tajam ke arah Vano yang selalu saja mengagetkannya. "Kau ini kenapa, Vano? Selalu saja mengagetkan kakak!" Dia merasa kesal melihat adiknya itu.


"Cepat selesaikan masalahmu, aku ingin kembali ke London!" Padahal baru sehari dia menginjakkan kakinya di rumah, tetapi Vano sudah ingin cepat-cepat kembali ke London.


"Sebenarnya apa sih, yang kau cari di sana? Jangan-jangan kau sudah punya pacar ya?" Mahen menaik turunkan alisnya untuk menggoda Vano, terlihat adiknya itu langsung membuang muka sebal.


"Ayolah, Van! Jujur padaku, kau sudah punya kekasihkan?" Mahen melingkarkan tangannya di leher Vano, walaupun adiknya itu sedikit lebih tinggi darinya.


"Wajar jika aku punya pacar, yang gak wajar itu laki-laki yang sudah menikah!"


Uuh ... kata-kata Vano memang selalu menyakitkan hati semua orang, mulutnya itu tidak punya filter sehingga kata-kata yang keluar tidak disaring terlebih dahulu.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2