
Mahen hanya bisa diam karena sama sekali tidak bisa membalas ucapan Vano, membuat laki-laki itu tersenyum simpul.
Tidak berselang lama, pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Indra.
"Kenapa kalian semua ada di sini?" tanyanya dengan heran sambil berjalan masuk ke dalam ruang kerja milik Mahen.
"Kami di sini karena menunggumu, Tuan Indra. Silahkan duduk." Vano langsung mempersilahkan Indra untuk duduk disofa bersamanya membuat laki-laki itu mengernyitkan kening bingung.
Namun, Indra tetap mengikuti apa yang Vano katakan. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan saat ini.
Mahen mengepalkan tangannya dengan erat saat melihat Indra. Ingin sekali dia menghajar laki-laki itu, tetapi sebelumnya Vano sudah mengatakan untuk tidak melakukan apapun atau rencanya akan gagal.
"Jadi, sebenarnya ada apa, Tuan Vano? Tidak mungkin 'kan, Anda semua berada di sini karena ingin menyambut kedatanganku?" ucapnya dengan senyum lebar.
Vano menganggukkan kepalanya dengan senyum yang juga tampak diwajahnya. "Tentu saja tidak, Tuan Indra. Kami tidak pintar untuk memperlakukan musuh kami dengan baik."
"Wah, Anda menganggap saya musuh?" tanya Indra dengan tidak percaya. Kemudian dia tergelak saat melihat ke wajah Mahen yang sudah merah padam, sangat jelas sekali jika saat ini laki-laki itu sedang menahan emosi
"Tidak mungkin 'kan, kalau Anda saya anggap sebagai teman?" balas Vano membuat Indra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bisa saja, Tuan. Sudah lama saya ingin berteman dengan Anda. Tapi, bisakah Anda langsung mengatakan apa yang Anda inginkan? Ada banyak sekali yang harus saya kerjakan di perusahaan ini," ucap Indra.
"Benar, Anda pasti sibuk untuk berpikir apa lagi yang mungkin bisa Anda curi dari perusahaan kami ini." Vano menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, saya juga tidak akan berbasa-basi lagi. River!"
River langsung menganggukkan kepalanya dan meletakkan sebuah kertas ke hadapan Indra, membuatnya tanda tanya.
__ADS_1
"Anda bisa membaca itu dulu, Tuan Indra Geraldino."
Deg.
Indra tersentak saat Vano memanggil nama belakangnya, lebih tepatnya nama aslinya yang selama ini tidak diketahui oleh orang asing.
"Kau, kau bilang apa?"
"Silahkan dibaca, Tuan. Jangan sungkan-sungkan." Vano menunjuk ke arah kertas yang ada di hadapannya membuat Indra langsung mengambil dan membaca apa yang tertulis di kertas tersebut.
Vano melirik ke arah River membuat sekretarisnya itu mengangguk, kemudian dia kembali memperhatikan Indra dan juga sekretarisnya.
River langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku dan mengetikkan sesuatu di benda pipih itu. Kebetulan posisinya saat ini berada tepat di belakang Mahen, membuat Indra dan sekretarisnya tidak bisa melihat apa yang dia lakukan.
Pada saat yang sama, papa Adrian sudah bersama dengan beberapa interpol yang menyamar sebagai kolega bisnisnya. Mereka beranjak keluar dari ruangan kerjanya menuju ruangan Mahen setelah mendapat pesan dari River, sejak tadi mereka juga sudah memperhatikan Indra dari cctv yang sengaja dipasang di ruangan itu.
"Siap laksanakan, Pak,"
"Bagus. Anggota kita yang lain juga sudah mengamankan seluruh ruangan dalam perusahaan ini, untuk mencegah adanya anak buah Indra," sambungnya lagi yang langsung diangguki oleh anak buahnya.
Felix lalu mengucapkan banyak terima kasih pada papa Adrian yang telah memberitahukan informasi penting ini pada mereka, dia juga berterima kasih karena sudah bersedia untuk ikut andil dalam misi kali ini.
Indra yang sudah selesai membaca tulisan yang ada dikertas itu menatap Vano dengan senyum tipis. "Kenapa Anda memberikan ini pada saya, Tuan Vano. Anda tidak berpikir bahwa Indra yang ada dalam tulisan ini adalah saya, 'kan?" Dia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja tidak, Tuan. Mana mungkin saya berpikir seperti itu, karena tanpa berpikir pun, Anda memang Indra yang ada dalam tulisan itu, " ucap Vano membuat Indra terdiam.
__ADS_1
Mahen yang tidak tau apapun terus menatap Vano dengan bingung, dia bahkan ingin sekali merebut kertas yang saat ini ada dalam genggaman tangan Indra.
"Anda tidak boleh menuduh orang lain seperti itu, Tuan Vano. Bisa saja saya menuntut Anda," ucap Indra masih dengan senyum manis walaupun tangannya sudah gemetar.
"Si*alan. Tau dari mana dia tentang semua ini?" Indra merasa kesal. Dia harus segera mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini sekarang juga.
"Coba sa-" ucapan Vano terpaksa berhenti saat tiba-tiba ponselnya berdering, dan terlihatlah nama Via dilayar benda pipih itu.
"Tunggu, Via? Kenapa dia menelponku?" Vano merasa senang sekaligus bingung, tetapi saat ini dia tidak bisa mengangkat panggilan dari wanita itu, dan kenapa pula Via meneleponnya saat sedang seperti ini? Dia lalu mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku.
Via yang saat itu sedang berada di dalam ruang kerjanya merasa sangat khawatir sekali. "Dia mematikan panggilanku?" Apalagi sekarang panggilannya dimatikan oleh Vano, bahkan nomor ponsel laki-laki itu sekarang sudah tidak aktif lagi. "Apa dia membenciku?"
Via sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya lagi. Sudah hampir seminggu Vano sama sekali tidak memberi kabar, bahkan laki-laki itu juga tidak datang melihat Yara. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah dia sudah membuat kesalahan?
Dia benar-benar merasa khawatir dan rindu secara bersamaan. Setiap hari dia terus memikirkan Vano membuat pekerjaannya menjadi tidak lancar, bahkan terdapat kesalahan di mana-mana membuat Riani juga merasa kesal.
"Aku harus bertemu dengan Vano hari ini juga. Aku terus memikirkannya siang dan malam. Aku tidak bisa tidur dan juga tidak selera makan, bahkan aku terus melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Dan apa yang sudah terjadi padaku?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1