Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 104. Meminta Kembali.


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak keributan yang terjadi di taman bermain. Vano sudah memasukkan Clara ke dalam rumah sakit jiwa, di mana dia sudah memerintahkan orang-orangnya agar memasung dan tidak melepaskan Clara apapun yang terjadi. Bahkan jika wanita itu mati, mereka harus memberitahukannya dulu padanya.


Sementara itu, beberapa hari belakangan Mahen terus melakukan pendekatan pada Yara. Dia mengajukan cuti pada perusahaan, agar bisa bermain dengan Yara sepanjang hari.


Usahanya itu ternyata membuahkan hasil. Sekarang Yara sudah mau bermain berdua atau bepergian berdua dengannya, tetapi gadis kecil itu masih selalu menanyakan tentang Vano bahkan setiap malam selalu melakukan panggilan video call.


Vano sendiri tengah sibuk membereskan masalah yang Indra ciptakan di perusahaan keluarganya. Dia turun langsung mengatasi semuanya hingga membuat perusahaan itu malah semakin berkembang pesat, dan menarik banyak sekali pengusaha lain yang ingin bekerja sama dengan mereka.


"Hah." Vano menyandarkan tubuhnya ke sofa. Rasa lelah terus menggerogoti jiwa dan raganya, tetapi dia harus segera menyelesaikan semuanya.


"Apa Anda ingin sesuatu, Tuan?" tanya River yang selalu setia berada di sisi Vano.


Vano menggelengkan kepalanya. "Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" Dia melirik ke arah River yang berdiri di sampingnya.


"Semua sudah selesai, Tuan. Besok kita sudah bisa berangkat,"


"Baguslah. Lebih cepat lebih baik." Vano memegang dadanya yang terasa sesak. Bayangan Via dan juga Yara melintas dalam pikirannya, membuatnya menghela napas kasar.


"Tuan, apa Anda tidak ingin menemui Nona Via?"


Vano melirik River dengan tajam saat mendengar pertanyaan yang laki-laki itu ucapkan. "Kenapa aku harus menemuinya?" Dia lalu kembali melihat ke arah depan.


"Bukankah Anda harus berpamitan padanya juga, Tuan?"


Vano mengusap wajahnya dengan kasar. "Keluarlah, River. Aku ingin sendiri." Dia merasa frustasi sendiri.


"Baiklah, Tuan. Maafkan saya." River menganggukkan kepalanya lalu beranjak keluar dari ruangan itu.


Vano kembali menyentuh dadanya yang berdenyut sakit, dan sudah beberapa hari ini rasa sakitnya semakin membuatnya sesak.

__ADS_1


"Haruskah aku berpamitan padanya? Tapi, aku juga ingin berpamitan pada Yara. Sudah pasti aku akan bertemu dengannya juga." Vano benar-benar frustasi. Dia takut tidak sanggup untuk meninggalkan mereka, tetapi inilah yang terbaik untuk semua orang.


Pada saat yang sama, Mahen sedang dalam perjalanan mengantar Yara pulang ke apartemen Via. Cuaca sedang hujan membuat jalanan menjadi basah.


Setelah sampai, Mahen segera menggendong Yara sambil memegang payung agar mereka tidak terkena hujan. Dia lalu segera berjalan masuk ke dalam apartemen sebelum Yara semakin kedinginan.


Via yang saat itu sedang menyiapkan makan malam terpaksa berhenti sejenak saat mendengar suara ketukan di pintu unit apartemennya. Dengan cepat dia berjalan ke depan untuk melihat siapa yang bertamu.


"Mama!"


Begitu pintu terbuka, suara teriakan Yara langsung menyambut Via membuatnya geleng-geleng kepala. "Kalau baru bertemu dengan orang lain itu bilangnya apa, Sayang?"


"Assalamu'alaikum, Mama," ucap Yara sambil tersenyum malu-malu membuat Via dan Mahen merasa gemas.


"Wa'alaikum salam, Sayang."


Via yang akan mencubit pipi Yara tidak sengaja bersentuhan dengan pipi Mahen yang sedang mengecup pipi gadis kecil itu, membuat mereka berdua tersentak kaget.


Mahen tersenyum. "Tidak apa-apa." Dadanya selalu berdebar-debar saat bersama dengan wanita itu.


"Ka-kalau gitu, silahkan masuk, Mas." Via segera mempersilahkan Mahen untuk masuk, lalu dia beranjak ke dapur untuk membuatkan laki-laki itu minuman dan makanan ringan.


Vano yang baru pulang dari perusahaan memutuskan untuk singgah ke apartemen Via, dia ingin menemui Yara sekaligus berpamitan jika besok dia akan segera berangkat ke London.


Setelah selesai, Via kembali ke ruang tamu di mana Mahen dan Yara berada. Tampak Mahen sedang berbincang dengan Ibu Novi, apalagi dengan ocehan Yara membuat suasana kian ramai.


"Em ... Via, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Mahen saat Ibu Novi membawa Yara ke kamar untuk mandi.


"Tentu saja bisa, Mas. Katakan saja apa yang ingin Mas bicarakan," ucap Via dengan senyum tipis.

__ADS_1


Mahen menatap Via dalam dan meyakinkan hati jika dia harus mengatakannya saat ini juga. "Apa, apa kau masih marah denganku?" tanya Mahen membuat kening Via mengerut.


"Marah? Marah untuk apa, Mas?" Via merasa tidak mengerti.


Vano yang sudah berdiri di depan unit apartemen Via tidak jadi mengucap salam saat melihat keberadaan Mahen. Kebetulan pintu apartemen itu tidak tertutup, hingga dia bisa melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Untuk apa yang sudah aku lakukan di masa lalu, aku benar-benar menyesal, Via. Aku mohon maafkan aku," lirih Mahen dengan tatapan sendu.


Via tersenyum simpul membuat hati Mahen semakin berdebar, sementara Vano yang melihatnya merasa berdenyut sakit.


"Tentu saja aku sudah tidak marah lagi, Mas. Aku sudah memaafkanmu, dan biarlah semua itu menjadi kenangan dan pelajaran untuk kita semua," ucap Via membuat hati Mahen benar-benar lega. Beban yang membuat hatinya sesak kini lenyap sudah.


"Jadi, kau tidak membenciku, 'kan?" tanya Mahen kemudian yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Via.


"Jika seperti itu, bisakah, bisakah kita memperbaiki semuanya, Via? Mahen menatap Via dengan tajam membuat wanita itu menatap bingung. "Bisakah kita kembali seperti dulu? Bisakah, bisakah aku kembali menjadi suamimu?"


Deg.


Baik Via dan Vano sama-sama terkejut dengan apa yang Mahen katakan. Bahkan Vano sudah memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


"Sebenarnya apa yang aku lakukan di sini? Kenapa aku tidak langsung pergi dan malah menguping pembicaraan mereka?" Vano merutuki kebod*ohannya sendiri.


"Jelas-jelas aku tau jika kakakku masih mencintai Via, tapi aku malah berharap bisa bersamanya. Mama dan papa juga ingin mereka kembali bersama, lalu apa yang aku lakukan sekarang? Aku memang harus pergi dari tempat ini."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2