Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 79. Kejujuran dihadapan Keluarga.


__ADS_3

Vano yang saat itu sedang di berada di sebuah kafe bersama dengan River, terkejut saat mendapat panggilan dari Mahen. Dia juga semakin terkejut saat laki-laki itu menyuruhnya untuk segera datang ke sana.


"Si*alan. Dia pasti memberitahukan semuanya pada mama dan papa. Dasar!" Vano mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia takut kalau Via akan terseret-seret dalam masalah keluarganya, apalagi saat ini omanya juga ada di tempat ini.


"Baiklah, River. Lakukan semua apa yang aku perintahkan, dan tetaplah tenang agar semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan." Vano menepuk bahu sang sekretaris yang langsung mendapat anggukan dari River. "Sekarang aku akan kembali, dan kau juga pulanglah."


"Baik, Tuan."


Vano dan River segera pergi dari tempat itu untuk tujuan masing-masing. Sepanjang perjalanan, Vano meyakinkan diri kalau akan mengatakan semuanya pada seluruh keluarganya. "Aku tidak akan melibatkanmu dalam hal ini, Via. Dan aku harap keluargaku tidak akan mengganggumu karena masalah ini."


Beberapa saat kemudian, Vano sudah sampai di halaman depan rumah Mahen. Dia lalu beranjak keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tersebut.


Kedatangan Vano langsung di sambut oleh semua orang yang sudah menunggunya di ruang keluarga. "Mama, papa? Apa yang kalian lakukan di sini?" Dia langsung duduk di samping sang mama yang hanya diam sambil menatapnya.


Papa Adrian menghela napas berat saat melihat putra bungsunya itu. Dia lalu menenangkan diri sebelum menanyakan tentang kebenaran dari ucapan Mahen tadi.


Vano melirik ke arah Mahen yang sedang menatapnya dengan tajam, dia lalu menyunggingkan senyum tipis membuat Mahen langsung membuang muka.


"Apa kau tau kenapa kami menyuruhmu untuk datang ke sini, Vano?" tanya papa Adrian membuat Vano langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang papa.


"Aku tau, Pa."


Ya, papa Adrian sudah menduga kalau Vano tau alasan kenapa mereka memanggil. Karena selama ini, laki-laki itu selalu tau tentang apapun sebelum orang lain memberitahukannya.


"Jadi, apa yang kakakmu katakan itu benar, Vano?" tanya oma Erina yang sudah mendengar cerita dari Mahen.


Vano menatap semua orang dengan tajam, tetapi dia tidak melihat ke arah Clara sedikit pun karena merasa tidak sudi.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan Oma, bisakah kalian berjanji satu hal padaku."


Semua orang mengernyitkan kening mereka saat mendengar apa yang Vano katakan, terutama Mahen.


"Kau tidak dalam posisi bisa-"

__ADS_1


Vano langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Mahen, membuat suasana mulai tegang.


"Baiklah, katakan janji apa yang harus kami lakukan," ucap mama Camelia membuat Mahen menatap mamanya dengan sinis.


"Cih, kalian memang lebih menyayanginya dari pada aku." Mahen menjadi sangat kesal.


"Aku ingin, kalian berjanji padaku untuk tidak mengganggu, atau pun melakukan sesuatu pada Via setelah apa yang terjadi nanti."


Deg.


Semua orang terdiam mendengar ucapan Vano, karena apa yang laki-laki itu ucapkan seolah-olah sudah menjawab pertanyaan mereka.


"Jadi, kau benar-benar berhubungan dengan Via?" tanya papa Adrian dengan tidak percaya.


Vano diam sejenak membuat suasana menjadi hening dan mencekam, dia lalu menarik napas panjang sebelum mengatakan semuanya.


"Baiklah, aku anggap kalian semua sudah setuju dengan janji yang aku buat. Maka aku akan mengatakan semuanya pada kalian."


Semua orang menatap Vano dengan jantung berdegup kencang, seolah sedang menunggu sesuatu yang baik atau buruk.


Deg.


Semua orang tercengang dengan apa yang Vano katakan. Tubuh mereka mendadak jadi kaku bahkan tidak bisa untuk mengucapkan apa-apa, seolah-olah waktu sedang berhenti saat ini juga.


"Aku tau kalau kalian semua pasti terkejut, bahkan aku sendiri juga tidak menyangka kalau akan jatuh cinta pada Via sampai seperti ini,"


"Dan kau mengatakan kalau kalian tidak punya hubungan apapun?" ucap Mahen dengan sinis. "Lalu, yang kau katakan ini apa?"


"Aku mengatakan kalau aku mencintainya, Kak. Tapi bukan berarti kami menjalin hubungan spesial lebih dari sekedar teman,"


"Itu tidak mungkin!" Mahen beranjak bangun dari duduknya sambil menatap Vano penuh kemarahan. "Kau pikir kami semua bod*oh apa?"


Vano langsung tertawa melihat reaksi Mahen. "Apa kakak pikir, semua orang itu sama sepertimu dan wanita itu?" Vano menunjuk Clara melalui mulutnya membuat wanita itu tersentak.

__ADS_1


"Kau-"


"Aku dan Via tidak seperti kalian yang tidak bisa menjalin persahabatan, dan malah jatuh ke dalam hubungan gelap."


Mahen mengepalkan tangannya karena tidak bisa membantah ucapan Vano, sementara yang lain masih belum bereaksi apa-apa.


"Aku memang mencintai Via, tapi kami hanya berteman karena aku sering menghabiskan waktu bersama dengan Yara. Bersama seorang gadis kecil berumur 3 tahun yang tidak dipedulikan oleh ayahnya sendiri, bahkan untuk bertemu dengan ayahnya saja. Ibunya harus diancam habis-habisan. Sungguh malang sekali gadis kecil itu,"


"Tutup mulutmu, Vano. Jangan mengkambing hitamkan Yara dalam masalah ini. Aku tau kau sengaja menemui anakku agar bisa bertemu dengan Via, kau menjadikan Yara alasan agar bisa memadu kasih dengan ibunya," ucap Mahen dengan tajam.


"Serendah itukah kasih sayangku pada Yara dimatamu, Kak?" tanya Vano sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Tapi yah, semua itu jauh lebih baik dari apa yang kau lakukan pada Yara. Kau bahkan tidak tau kalau setiap saat putrimu itu menangis karena merindukanmu, kau malah asyik menyusun rencana untuk kembali pada ibunya. Apa kau pikir itu tidak keterlaluan, Kak?"


"Kau tidak tau apapun, Vano. Jadi jangan-"


"Aku tau. Aku tau semuanya karena aku yang selama beberapa bulan ini bersama dengan mereka!"


"Cukup, sudah cukup!" Mama Camelia beranjak bangun dari duduknya sambil menarik tangan Vano agar ikut berdiri. Lalu tiba-tiba ....


Plak.


Semua orang terlonjak kaget saat sebuah tamparan melayang ke wajah Vano, tentu saja tamparan itu berasal dari mama Camelia. Wanita paruh baya itu lalu berjalan menghampiri Mahen, dan seketika ....


Plak.


Plak.





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2