
Vano tertawa sinis mendengar semua ucapan Via. "Bisa-bisanya kau masih membela suamimu, sifatmu yang seperti inilah yang membuat orang-orang semakin menindasmu!"
Via menghela napas berat untuk menghadapi adik iparnya yang bermulut pedas ini. "Mungkin yang kau katakan benar. Jadi, apa yang harus aku lakukan?" Dia menatap Vano dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Tentu saja aku harus bertanya padamu, kan kau yang mengatakan kalau sifatku ini membuat orang lain menindasku,"
"Cih." Vano membuang muka sebal membuat Via tersenyum tipis, sekarang wanita itu tau bagaimana caranya membuat mulut Vano tidak mengoceh lagi.
"Baiklah. Ini sudah terlalu malam, aku harus pulang sekarang." Via membalikkan tubuhnya lalu beranjak ke jalan untuk memanggil taksi.
"Aku akan mengantarmu,"
"Tidak per-"
Vano langsung berjalan ke tempat mobilnya berada tanpa menunggu jawaban Via. Dia lalu membuka pintu bagian samping kursi kemudi, dan kembali melihat ke arah wanita itu.
Via kembali menghela napas berat melihat tingkah Vano, dia lalu berjalan ke arah laki-laki itu karena tidak diberi kesempatan untuk menolak.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Baik Vano dan Via sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga tidak terasa kalau mobil itu sudah sampai di tempat tujuan.
"Terima kasih karna sudah mengantarku, Vano. Maaf karna tidak menyuruhmu untuk masuk." Via merasa sungkan membawa Vano ke dalam rumah Riani, apalagi saat ini sudah pukul 10 malam.
"Hem." Vano hanya berdehem saja dan langsung berbalik untuk masuk ke dalam mobil, membuat Via menatap heran.
"Tunggu, apa dia marah padaku?" Via mengernyitkan kening bingung, memangnya dia salah apa sampai-sampai Vano marah padanya.
"Tu-tunggu!"
Vano yang sudah akan melajukan mobil itu menahan kakinya, dia lalu menurunkan kaca mobil untuk melihat wanita itu.
"Berhati-hatilah. Tolong, tolong kalau sudah sampai rumah kabarin aku," ucap Via dengan senyum manis.
Vano terdiam mendengar ucapan wanita itu. "Untuk apa aku ngabarin dia?"
__ADS_1
Ditengah kebingungan itu, tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata yang selalu mamanya ucapkan saat dia masih berumur belasan tahun silam. Apalagi saat dia pergi keluar bersama teman-temannya.
"Ck. Aku bukan anak kecil!"
"Hah?"
Vano langsung melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu dengan kesal, sementara Via mematung di tempatnya karena bingung kenapa Vano mengatakan kalau dia bukan anak kecil.
"Memangnya aku bilang kalau dia anak kecil apa?"
"Woy!" Riani menepuk bahu Via membuat wanita itu terlonjak kaget.
"Astagfirullah. Apa kau mau membuat aku kena serangan jantung, Rin?" Via mengusap dadanya yang berdebar kencang.
"Habisnya kau sih. Bukannya masuk, malah termenung di sini. Mau, kesambet wewe?"
"Ya Allah, amit-amit amit-amit." Via lalu melangkah kan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, dengan diikuti oleh Raini yang terkikik geli melihat raut wajahnya.
Pada saat yang sama, Vano menggerutu sepanjang jalan kenangan. Em maksudnya sepanjang jalan menuju rumah, dia sangat tersinggung dengan apa yang wanita itu katakan tadi.
Sepertinya rasa khawatir Via malah membuat Vano menjadi kesal, padahal semua yang dia rasakan adalah kesalah pahaman terkejam dimuka bumi ini.
Tidak berselang lama, sampailah Vano di rumah orang tuanya. Dia bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, tentu saja dengan perasaan kesal yang sudah mendarah daging.
"Tunggu, Vano!"
Langkah Vano terpaksa terhenti karena suara seseorang. Dia langsung berdecak kesal dan berbalik untuk melihat ke arah orang tersebut.
"Sepertinya akhir-akhir ini kau sering sekali menghabiskan waktu dengan istriku ya, Vano." Mahen beranjak dari sofa untuk mendekati Vano. Jangan tanya dia tau dari mana kalau Vano habis saja bersama Via, tentu dari orang suruhannya yang selalu mengikuti wanita itu.
"Heh, memangnya kenapa? Apa kakak keberatan?" Vano bersedekap dada sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Sejak kapan kau dekat dengannya?" tanya Mahen dengan tajam. Padahal selama ini mereka jarang sekali bicara, tetapi sekarang orang suruhannya melaporkan kalau Vano beberapa kali menemui Via.
"Sejak kau membuat masalah," jawab Vano tak kalah tajam dari Mahen, "kenapa? Apa kakak tidak sadar kalau sedang membuat masalah?"
__ADS_1
Mahen terdiam. Dia lalu menghela napas berat sambil menepuk bahu sang adik. "Bukan seperti itu, kakak cuma takut tersebar gosip yang tidak enak. Kau tau sendiri kalau sekarang wartawan sedang gila-gilaan, mereka selalu ada ke manapun aku pergi." Dia merasa sangat lelah sekali.
"Itu masalahmu, dan itu semua buah dari perbuatanmu," ucap Vano.
Mahen hanya bisa melirik Vano dengan kesal. Saat ini dia tidak bisa ribut dengan adiknya itu, karena masih banyak hal yang harus Vano bereskan. "Jadi, bagaimana? Kau sudah membereskan semuanya, kan?"
Vano kembali berdecak kesal. "Kau berhutang banyak padaku, Kak! Suatu saat nanti aku akan meminta bayarannya."
"Ah, kau perhitungan sekali pada kakakmu." Mahen merangkul bahu sang adik dengan erat. "Tapi kau tenang saja. Kalau semua masalah ini selesai, aku pasti akan mengabulkan apapun permintaanmu."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sekarang katakan, apa yang kau inginkan? Apa kau ingin wanita yang sangat cantik dan seksi?" Mahen menaik turunkan alisnya untuk menggoda Vano.
"Cih, aku jauh lebih tampan darimu. Lagipula seleramu sangat rendah,"
"Hahaha. Baiklah, terserah kau saja." Mahen melepaskan rangkulan tangannya lalu beranjak ke dapur, sementara Vano melirik ke arahnya dengan sennyum licik.
"Lihat saja, suatu saat nanti aku akan meminta sesuatu yang sangat berharga darimu, Kak!" Dia lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk naik ke lantai 2.
Namun, saat sampai diujung tangga. Tidak sengaja Vano mendengar percakapan antara kedua orang tuanya yang sedang membahas tentang Via, hingga kedua kakinya berjalan ke arah kamar mama dan papanya.
"Dasar gila. Jadi dia minta uang sebesar 100 juta agar mau tutup mulut?"
Mama Camelia mengangguk. "Benar. Laki-laki itu bilang akan mengatakan semuanya pada orang-orang kalau Mahen sudah menyelingkuhi anaknya."
Vano mengernyitkan kening saat mendengar ucapan sang mama, sepertinya dia tau siapa sosok yang sedang mereka bicarakan. "Dasar tua bangka si*alan!'
•
•
•
Tbc.
__ADS_1