
Setelah keributan yang terjadi, Mahen duduk di ruangannya sambil mencoba untuk menenangkan diri. Dia yakin setelah ini pasti berita tentang Clara akan cepat tersebar luas.
"Baiklah. Terserah apa yang mau dilakukan oleh wanita itu, karena setelah dia melahirkan. Aku akan segera mengambil anak itu dan mengusirnya." Mahen melirik ke arah Clara yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu juga.
Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan dipintu membuat Mahen langsung menyuruh orang tersebut untuk masuk.
Terlihat sekretaris pribadi Mahen masuk ke dalam ruangan sambil membawa berkas di tangannya, membuat Clara juga ikut beranjak bangun dari sofa.
"Ada apa?" tanya Mahen sambil melihat ke arah sang sekretaris.
"Ada berkas yang harus Anda tanda tangani, Tuan."
Mahen langsung menerima berkas yang baru saja diberikan oleh sekretarisnya itu, membuat sang sekretaris melirik ke arah Clara.
Dia memberikan kode pada Clara untuk segera mengalihkan perhatian Mahen, agar tidak membaca dengan jelas isi dari berkas yang harus ditanda tangani.
Clara yamg seolah tau kode dari laki-laki itu segera menarik napas panjang, dan berjalan mendekati sang suami.
"Sayang."
Mahen melirik ke arah Clara yang sudah berada di samping tubuhnya seakan-akan bertanya apa yang wanita itu inginkan.
"Sayang, aku, aku ingin minta maaf untuk apa yang sudah aku lakukan," ucap Clara sambil menatap Mahen dengan sendu. Sekuat tenaga dia mencoba untuk mengeluarkan air matanya.
Mahen hanya diam sambil menerka-nerka apa yang saat ini sedang Clara lakukan, atau jangan-jangan wanita itu ingin kembali membuat masalah?
"Aku tau kalau selama ini aku tidak menjadi istri yang baik untukmu, tapi aku benar-benar mencintaimu,"
"Hentikan, Clara. Aku sedang tidak ada waktu untuk mendengar ocehanmu ini." Mahen kembali melihat berkas yang diberi sekretarisnya tadi dan mulai membacanya.
Sekretaris itu melotot ke arah Clara dengan gigi bergesekan, kemudian dia membuat kode ditangannya yang menandakan kalau wanita itu akan mati jika tidak berhasil menjalankan rencana ini.
__ADS_1
"Hiks, hiks. Aku mohon maafkan aku, Sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku."
Mahen berdecak kesal sambil membanting berkas yang ada ditangannya, dia lalu beralih melihat ke arah Clara dengan tajam.
"Sebenarnya apa maumu, Clara? Berhenti membuat masalah untukku!"
Clara menggelengkan kepalanya. "Aku cuma ingin meminta maaf, Mahen. Aku, sssh. Aah."
Mahen tersentak kaget saat Clara mendesis kesakitan, dengan cepat dia memegangi tubuh wanita itu. "Tolong jangan lakukan apapun yang bisa membahagiakan anakku, Clara!"
Clara terus meringis kesakitan membuat Mahen semakin khawatir, padahal saat ini dia sedang pura-pura. "Ba,baiklah, aku, aku minta maaf. Lebih baik aku pergi saja." Dia berkata dengan terengah-engah.
"Aku akan mengantarmu,"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Clara menolak tawaran Mahen membuat laki-laki itu murka.
"Diam atau aku akan marah, Clara," ancam Mahen sambil memegangi tubuh Clara yang pura-pura lemas.
Clara yang tidak bisa lagi menolak menganggukkan kepalanya, membuat Mahen langsung menuntunnya hendak pergi dari tempat itu.
Hampir saja Mahen melupakan pekerjaannya. Dia lalu mengambil berkas itu, membacanya sekilas dan langsung menandatanganinya sampai 6 lembar.
"Tunggu, kenapa banyak sekali yang harus aku tanda tangani?" Mahen merasa heran.
"Memang seperti itu, Tuan. Peraturan sekarang harus lebih dari 5 tanda tangan dalam sekali proyek,"
"Apa?" Mahen merasa baru dengar peraturan seperti itu. "Sebaiknya-"
"Mahen, perutku tiba-tiba sangat sakit."
Mahen lalu menandatangani semuanya dan memberikan berkas itu pada sang sekretaris. "Kau urus semuanya." Dia lalu beranjak keluar sambil menuntun tubuh Clara.
__ADS_1
Sekretaris itu langsung tersenyum lebar karena rencana mereka sudah berhasil dengan sempurna. Bukan hanya saham saja yang sudah berpindah nama, tapi juga beberapa aset pribadi milik Mahen.
"Aku harus segera memberikan semua ini pada tuan Indra, agar beliau bisa menyelesaikan seluruh urusan kepemilikan semua ini." Dia lalu beranjak keluar dari ruangan itu sambil menelepon sang tuan untuk melaporkan segalanya.
"Semuanya sudah selesai, Tuan. Saya sudah mendapatkan semua tanda tangan tuan Mahen."
River yang sejak tadi bersembunyi di balik lemari yang ada di ruangan sekretaris itu, benar-benar tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam ruangan Mahen. Namun, dia beruntung karena sekretaris itu menelepon saat sudah keluar ruangan.
"Aku harus segera memberitahukannya pada Tuan." River segera menelepon Vano untuk melaporkan apa yang baru saja dia dengar, sekaligus mengikuti ke mana sekretaris Mahen itu pergi.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Indra dan beberapa orang sudah menunggu kedatangan anak buahnya. Dan tidak berselang lama, datanglah orang yang mereka tunggu-tunggu.
"Ini berkas-berkasnya, Tuan." Laki-laki itu memberikannya pada Indra.
"Bagus, bagus sekali." Indra merasa sangat senang karena rencananya berjalan lancar. Dia lalu menyerahkan berkas itu pada tiga orang lelaki yang akan melegalkannya.
"Maaf, Tuan. Pengalihan saham ini hanya akan berhasil jika mendapat persetujuan dari seluruh pemilik saham dari Sky group, komisaris, dan dewan direksi juga harus menyetujuinya," ucap salah satu lelaki yang ada di tempat itu.
"Persetan dengan semua itu, lakukan apa saja agar aku bisa menguasai saham itu."
Ketiga laki-laki itu saling pandang. "Untuk pengalihan aset, mungkin seperti ini bisa, Tuan. Tapi tidak untuk saham."
"Diam atau ku bunuh kau!" Indra langsung menodongkan pistol ke arah ketiga laki-laki itu membuat mereka ketakutan. "Selesaikan semuanya dalam waktu 2 hari, karena aku akan datang ke RUPS sky group 3 hari lagi sebagai pemilik saham itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini ya 😍