
Vano segera pergi meninggalkan tempat itu dengan hampa. Seharusnya sejak dulu dia sadar jika perasaannya itu tidak akan terbalas, dan sudah seharusnya dia menghilangkan segala rasa yang ada dalam hatinya.
Via sendiri menatap Mahen dengan tidak percaya, tetapi dia masih mencoba untuk tersenyum.
"Aku memang sudah memaafkanmu, Mas. Bahkan tidak ada sedikit pun kebencian dalam hatiku untukmu, aku sudah ikhlas dan berdamai dengan apa yang terjadi." Via menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, dan kebetulan Ibu Novi sedang menuruni anak tangga.
"Semua sudah menjadi masa lalu, begitu juga dengan hubungan di antara kita. Aku tidak bisa lagi menjalin hubungan denganmu, Mas. Tidak ada lagi sisa perasaan yang tertinggal untukmu."
Mahen terdiam dengan apa yang Via katakan, bahkan tanpa sadar air mata mengalir dari kedua matanya membasahi wajah.
"Maafkan aku, Mas. Tapi akan lebih baik jika hubungan kita tetap seperti ini, aku sudah melupakanmu juga melupakan cinta yang ada di antara kita."
Deg.
Hati Mahen terasa seperti sedang dihantam oleh batu besar hingga membuat dadanya menjadi sesak. "Apa, apa kau tidak bisa memberi kesempatan sekali saja padaku, Via? Aku janji, aku janji akan memperbaiki segalanya." Dia menatap Via dengan sendu dan lelehan air mata.
Via menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. Sungguh sudah tidak ada lagi cinta untuk Mahen, dan perasaan cinta itu kini sudah berpaling pada orang lain.
"Maaf, Mas. Maafkan aku. Sungguh, aku tidak bisa lagi kembali padamu."
Mahen menatap Via dengan nanar. Sekuat tenaga dia menahan gejolak perasaan yang terasa sangat sakit dan ingin meledak. "Apa, apa kau mencintai Vano?"
Deg.
Via yang sejak tadi menunduk kini menatap Mahen. Tanpa menjawab pertanyaannya pun, Mahen sudah tahu jawabannya dari sorot mata wanita itu.
"Aku, aku-"
"Vano adalah adikku satu-satunya. Dia, dia laki-laki yang dingin, tapi hatinya sangat hangat." Mahen tersenyum sambil mengusap air mata yang ada diwajahnya. Tiba-tiba bayangan Vano melintas dalam pikirannya membuat air mata kembali menetes.
__ADS_1
"Aku sudah banyak berhutang padanya, padahal selama ini aku sudah banyak menyakiti dan membuatnya kesal,"
"Tidak, Mas. Vano, Vano sangat menghormati dan menyayangimu" bantah Via membuat Mahen kembali tersenyum.
"Baiklah. Aku mengerti, Via. Aku, aku senang karena kau mencintainya, dan aku yakin dia tidak akan pernah menyakitimu seperti apa yang aku lakukan,"
"Mas." Via menatap Mahen dengan mata berkaca-kaca, sungguh hatinya merasa sangat sedih dengan keadaan saat ini.
"Dia juga mencintaimu, Via. Jadi, berbahagialah. Aku, aku akan selalu mendo'akan dan mendukung kalian berdua. Kalau gitu aku permisi, Via. Assalamu'alaikum." Mahen beranjak keluar dari unit apartemen Via dengan langkah lebar membuat wanita itu tidak sempat untuk mengucapkan kata-kata.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku." Via terisak membuat Ibu Novi segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
"Ibu, aku, aku bersalah, Bu. Aku-"
"Sssshh. Tidak, Nak. Kau tidak bersalah, perasaanmu itu tidak salah." Ibu Novi mengusap punggung Via dengan ikut meneteskan air mata, dia bisa merasakan bagaimana perasaan putrinya itu saat ini.
Mahen melangkah gontai keluar dari apartemen. Hujan mengguyur seluruh tubuhnya, tetapi tidak mampu untuk menghapus kepedihan yang sedang dia rasakan.
Bruk.
Tubuh Mahen terjatuh bersimpuh di atas tanah, dia memukuli dadanya sendiri yang terasa sangat sesak.
"Ya Tuhan. Inikah balasan atas apa yang sudah aku lakukan? Kenapa, kenapa rasanya sakit sekali? Aku, aku tidak-" Mahen terisak sambil menundukkan kepalanya. Tangannya kini mencengkram rerumputan yang ada di bawahnya.
"Aaarrggh. Sakit, hatiku sangat sakit." Dia terus meluapkan emosinya dengan deraian air mata, bahkan derasnya hujan tidak bisa menghapus air matanya.
Sementara itu, Vano yang sudah sampai di rumah tampak duduk di balkon kamarnya. Air hujan tampak membasahi tubuh, tetapi dia tidak peduli dan terus berada di sana.
Kedua mata Vano terpejam menahan gejolak rasa sakit yang sedang dirasakan. Tidak pernah sedikit pun dia membayangkan bahwa hatinya akan sesakit ini, bahkan rasa sakitnya tidak bisa untuk diucapkan dengan kata.
__ADS_1
"Kepada hujan, aku mohon hapuslah rasa sakit dalam jiwa dan ragaku. Sungguh aku tidak mampu untuk melakukannya, dan kepada Allah. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dan cintaku ternyata tidak pada tempatnya. Bukankah cinta berasal dari-MU? Jika benar, tolonglah ambil kembali. Aku bisa mati karenanya, aku tidak sanggup menahan cinta ini. Aku mohon." Vano membuka kedua matanya dan menatap langit gelap, berharap bahwa esok hatinya sudah baik-baik saja.
Via sendiri sedang bersimpuh di atas sajadah. Dia menumpahkan segala resah dan gelisah yang ada dihatinya, juga mencurahkan segala rasa cinta yang selama ini sedang dirasakan.
"Ya Allah, engkaulah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Aku mohon, aku mohon berikanlah ketenangan dan kedamaian dalam hatiku. Jika rasa cintaku bisa menyakiti hati orang lain, maka tolong tenangkanlah. Aku percaya bahwa maut, jodoh, dan rezeki semua ada di tangan-MU. Aku juga percaya bahwa KAU akan memberikan yang terbaik untuk kami."
Tepat pukul 7 malam, Mahen kembali ke rumah dengan pakaian basah kuyup membuat mama Camelia memekik kaget.
"Kau kehujanan, Sayang?" tanyanya, lalu menyuruh pembantu untuk mengambil handuk.
"Iya, Ma. Kalau gitu aku ke kamar dulu." Mahen beranjak ke kamar setelah mendapat handuk dari pembantu.
"Baiklah. Cepat mandi agar tidak demam, dan jangan lupa segera turun untuk makan."
Mahen menganggukkan kepalanya. Ketika akan masuk ke dalam kamar, dia melihat Vano yang baru saja keluar dari kamar membuatnya terdiam untuk menunggu laki-laki itu.
"Loh, Kakak baru pulang?" tanya Vano sambil memperhatikan pakaian sang kakak.
Mahen menganggukkan kepalanya. "Iya, kakak abis mengantar Yara dan mengobrol dengan Via."
Vano hanya ber-oh ria saja untuk menanggapi ucapan Mahen. "Kalau gitu cepatlah mandi, Kak. Setelah itu turunlah, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada semua orang."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1