
Via menundukkan kepalanya dengan wajah memerah, entah kenapa ucapan Vano membuatnya malu tanpa sebab. Padahal laki-laki itu hanya mengatakan baguslah saja.
Vano sendiri juga ikut salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat River yang menperhatikan mereka tersenyum tipis.
"Ka-kalau gitu aku pergi dulu." Vano beranjak pergi dari tempat itu setelah mendapat anggukan dari Via dengan senyum simpul, sementara River bergegas mengikuti Vano untuk menemani laki-laki itu.
Setelah kepergian Vano, Via kembali mendekati mama Camelia yang masih berusaha untuk menenangkan Mahen dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Mahen sediri tidak mengucapkan apapun dan hanya mengangguk saja. Semua yang terjadi sungguh sangat mengejutkan baginya, hingga dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Kenapa semua ini terjadi padaku? Sejak kapan Clara berhubungan dengan Indra? Apa dari awal mereka memang berniat untuk menghancurkanku? Tapi, apa salahku pada mereka. Aku tidak pernah bermusuhan bahkan tidak mengenal mereka, dan Clara lah yang masuk ke dalam perusahaan sehingga kami saling mengenal. Tapi, kenapa semua ini terjadi? Apa kedatangan Clara ke perusahaan sengaja karena ingin menghancurkanku dan juga perusahaan?"
Berbagai pertanyaan terus berputar-putar dalam kepala Mahen, membuat kepala itu terasa sakit seakan-akan ingin meledak. "Dan apa itu, Clara seorang budak? Budak ****?" Dia benar-benar terpukul dengan kenyataan ini. Bagaimana mungkin wanita yang mengaku pernah diperkos*a menjadi budak ****?
"Heh, ternyata dari awal kau membohongiku, Clara. Aku tidak menyangka kalau statusmu sangat lah rendah, bahkan kau lebih rendah dari seekor binatang." Mahen mengepalkan tangannya dengan erat. "Kau lihat saja, Clara. Aku tidak akan memaafkanmu atas apa yang telah kau lakukan. Kau telah membohongiku, bahkan bekerja sama dengan Indra untuk menghancurkanku. Maka jangan salahkan aku jika membalas apa yang kau lakukan."
Mahen benar-benar merasa sakit dan terluka atas kenyataan Clara, dan sekarang dia tidak akan peduli lagi pada wanita itu. "Aku hanya perlu anakku saja, Clara. Jadi jangan harap aku berbaik hati padamu, juga jangan harap kalau aku akan mengizinkanmu untuk bersama putraku."
"Mahen, Mahen!"
Mahen tersentak kaget saat ada seseorang yang menggoyangkan tubuhnya, dia lalu melihat ke arah samping di mana sang mama berada.
"Apa yang terjadi denganmu, Sayang? Kenapa sejak tadi kau diam dan tidak menjawab panggilan mama?" tanya mama Camelia dengan khawatir, dia bahkan sampai hampir menangis.
Mahen menghela napas kasar. "Maaf, Ma. Tadi aku sedang memikirkan sesuatu, itu sebabnya aku tidak dengar."
Mama Camelia hanya bisa menatap Mahen dengan sendu, dan tentu saja membuat Via juga ikut merasa sedih.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Vano kembali ke rumah sakit dengan beberapa bungkus makanan di tangan River. Dia lalu mendekati mama dan juga papanya.
"Ma, Pa. Makan dulu," ucap Vano sambil menyuruh River untuk memberikan makanan itu pada kedua orangtuanya. "Kakak juga, makanlah dulu."
Kedua orang tuanya dan juga sang kakak kompak mengelengkan kepala mereka. "Mama tidak lapar, Sayang. Kau saja dan Via yang makan yah. Sama papa dan juga kakakmu ini." Mama Camelia lalu menyuruh Mahen untuk makan, tetapi laki-laki itu kembali menggelengkan kepalanya.
Vano berdecak kesal saat melihat penolakan mereka semua, dia lalu memaksa kedua orang tuanya untuk makan atau dia juga tidak akan makan sekalian.
"Mas." Via beralih mendekati Mahen membuat laki-laki itu melihat ke arahnya. "Makan dulu, Vano udah belikan makanan untukmu."
Mahen tersenyum tipis saat mendengarnya. "Kau saja yang makan, Via. Dia membelikannya untukmu." Suaranya terdengar getir.
"Dia membelikannya untuk semua orang, terutama kakaknya karena dia sangat mengkhawatirkanmu, Mas."
Mahen terkekeh. "Benarkah?" Dia lalu melirik ke arah Vano yang sedang memaksa River untuk ikut makan bersamanya.
"Tentu saja. Sejak dulu dia selalu mengkhawatirkanmu, tapi kau tidak bisa merasakannya, Mas," ucap Via. Dia merasa kesal karena Mahen selalu saja menyinggung hubungannya dengan Vano, padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa.
Via terdiam lalu memghembuskan napas kasar berusaha untuk tetap tenang. "Makanlah, Mas. Semua orang sangat mengkhawatirkanmu, terutama mama dan papa. Tolong, kasihanilah mereka."
Mahen melirik ke arah mama dan papanya yang duduk di dekat Vano, kemudian dia menghela napas kasar sambil menerima makanan yang Via berikan.
Via tersenyum senang, dia duduk di samping Mahen yang berjarak satu kursi di antara mereka.
Vano yang sedang menikmati makanannya melirik ke arah Mahen, dia lalu tersenyum karena kakaknya itu mau menerima makanan yang Via berikan.
Selesai makan, mereka semua tetap berada di tempat itu untuk menunggu kabar tentang keadaan bayi yang baru saja Clara lahirkan. Dan tidak berselang lama, keluarlah Dokter dari dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Ba-bagaimana, Dokter?" tanya Mahen sambil mendekati Dokter itu, begitu juga dengan semua orang.
"Maaf, Tuan. Kami harus melakukan operasi pada putra Anda."
Deg.
Semua orang sangat terkejut saat mendengarnya, terutama Mahen. "A-ada apa, Dokter? Apa yang terjadi pada putraku?"
Dokter itu memandang dengan sendu. "Kami menemukan adanya organ pembentuk sel darah merah yang tidak berfungsi, juga untuk memeriksakan keadaan jantung pasien melalui pembedahan."
"Ya Allah." Mahen mengusap wajahnya dengan kasar, sementara yang lain juga ikut syok dengan keadaan bayi yang baru berusia 1 hari itu. "Lakukan apa saja untuk menyelamatkan putra saya, Dokter. Apapun itu."
"Kami mengerti, Tuan. Kita juga harus melakukan tranfusi darah untuk pasien, bisakah Anda melakukannya?" tanya Dokter itu kemudian.
"Tentu saja. Ambil darahku sebanyak-banyaknya." Mahen langsung menyodorkan tangannya ke hadapan Dokter tersebut.
Kemudian Dokter membawa Mahen untuk melakukan pemeriksaan, sementara yang lain tetap menunggu di sana.
"Ya Allah, aku mohon angkatlah penyakit cucuku," pinta mama Camelia.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Mampir juga ke karya baru aku ya 😍