Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 61. Putusan Akhir.


__ADS_3

Hakim langsung saja memulai acara persidangan hari ini, dia menjelaskan semua tuntutan dan hasil dari sidang pertama. Tidak lupa menjelaskan agenda pada sidang hari ini, sekaligus mengatakan kalau hasil akhir akan langsunh ditentukan.


"Apa-apaan ini?" Mahen langsung berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Hakim membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Dimohon untuk tetap tenang, Tuan Mahen,"


"Tenang? Bagaimana mungkin aku bisa tenang dengan semua ini?" Dia semakin murka, seenaknya saja mereka memutuskan kalau sidang ini merupakan sidang putusan perkara.


Vano menyeringai saat melihat emosi sang kakak, karena semakin Mahen membuat masalah maka Hakim pasti akan langsung menjatuhkan putusan saat ini juga.


"Tolong tenang, Tuan. Kita akan kalah jika Tuan tetap bersikeras seperti ini." Pengacara Mahen mencoba untuk menenangkannya, begitu juga dengan Clara.


"Dasar kau tidak bejus. Semua ini karena kelalaianmu, bagaimana mungkin kau tidak tau tentang semua ini?" Mahen menatap pengacaranya dengan tajam.


Duak, duak, duak. Hakim langsung saja mengetuk palu sebanyak 3 kali untuk menenangkan situasi saat ini. "Maaf, Tuan Mahen. Jika Anda tidak bisa tenang, maka kami terpaksa mengeluarkan Anda dari ruangan sidang ini."


Mahen mengepalkan kedua tangannya dengan geram, dia lalu kembali menghempaskan pantatnya ke kursi dengan kasar.


Setelah situasi kembali tenang, hakim melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda. Dia lalu mempersilahkan pihak penggugat untuk memberikan bukti-bukti yang bisa mendukung gugutannya.


"Terima kasih saya ucapkan kepada Tuan Hakim dan semua jajarannya." Nanda maju ke depan dan langsung menunjukkan semua bukti yang sudah Vano berikan padanya.


Dari mulai foto, percakapan melalui media sosial, bahkan sampai rekaman yang menampakkan kemesraan antara Mahen dan juga Clara.


Semua orang tercengang saat melihat apa yang ditunjukkan oleh Nanda, terutama Mahen dan juga Clara. Mereka tidak menyangka kalau Nanda bisa mendapatkan semua itu, bahkan Mahen langsung pucat saat menyaksikan semuanya.


Untung saja sidang hari ini bersifat tertutup. Hanya ada pihak pengadilan, pengugat, tergugat dan beberapa audiens yang masih bersangkutan dengan mereka.


"Semua ini adalah bukti untuk gugatan yang telah Nona Via ajukan, saya rasa semua sudah sangat jelas. Bahkan wanita yang bersama dengan tergugat ada di tempat ini."

__ADS_1


Deg. Tubuh Clara seketika membeku saat mendengar ucapan Nanda, begitu juga dengan Mahen yang hanya bisa terpaku menatap semua itu.


"Baiklah. Sekarang saya akan beralih pada pihak tergugat. Apa ada bantahan yang ingin Anda sampaikan mengenai semua bukti yang penggugat berikan?" tanya Hakim pada Mahen.


Mahen terdiam seribu bahasa, otaknya sedang mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi saat ini. "Bagaimana, bagaimana mungkin mereka mendapatkan semua itu?" Dia benar-benar merasa sangat terguncang. "Siapa, siapa yang telah mendapatkan semuanya?"


Suasana menjadi hening karena Mahen tidak juga menjawab pertanyaan dari hakim, membuat semua orang langsung bisa menyimpulkan kalau semua gugatan Via adalah benar.


"Apakah Anda mendengar saya, Tuan Mahen?"


Pengacara Mahen angkat suara, dia berdiri tepat di hadapan Mahen untuk mengambil alih keadaan. "Maaf, Tuan Hakim. Saya ingin kalau semua bukti itu dipastikan dulu kebenarannya, apalagi saat ini mudah saja bagi orang-orang yang mahir dalam dunia teknologi untuk merekayasa semuanya."


"Izin bicara, Tuan Hakim." Nanda langsung angkat suara dan ditanggapi oleh anggukan kepala Hakim. "Silahkan untuk mengecek semua keaslian dari bukti-bukti itu, Tuan. Maka Anda akan tau bahwa semua bukti itu adalah benar, bahkan disalah satu video terlihat jelas keasliannya."


Mata Mahen memerah dengan napas yang kian memburu, dia benar-benar murka dengan apa yang mereka lakukan. "Tidak, semua itu tidak benar. Sampai kapan pun Via akan tetap menjadi istri saya, dan kalian tidak bisa memutuskannya."


Via memandang Mahen dengan heran, bagaimana mungkin laki-laki itu menjadi gila seperti ini?


"Diam, kau!" Teriak Mahen membuat mereka semua terlonjak kaget, dia menatap tajam ke arah Nanda yang juga menatapnya tak kalah tajam.


Mata Mahen tidak sengaja melihat ke arah Vano yang juga sedang melihatnya, dan seketika dia sadar kalau semua ini pasti ulah dari adiknya itu. Vano lah yang menutupi semua perselingkuhannya, jadi sudah pasti kalau laki-laki itu juga yang membongkar semuanya.


"Dasar brengs*ek, kau benar-benar kurang ajar, Vano."


Semua orang langsung berdiri dari duduk mereka saat melihat Mahen berlari ke arah Vano dan langsung menerjangnya.


"Hentikan!" Hakim dan angotanya langsung menyuruh pihak keamanan untuk masuk ke dalam ruang sidang.


"Benar-benar bajing*an. Ternyata kau lah orangnya, ternyata kau lah yang sudah melakukan semua ini."

__ADS_1


Buak.


Mahen langsung melayangkan pukulan ke wajah Vano yang hanya diam sambil menatapnya, membuat semua orang langsung berlari ke arah mereka.


"Lepaskan tangan Anda, Tuan." Nanda berusaha untuk menarik Mahen tetapi laki-laki itu merasa tidak peduli. Begitu juga dengan Via yang berusaha untuk membuat Mahen tenang.


"Kenapa kau melakukan semua ini, Vano. Kenapa?"


Buak.


Untuk sekali lagi Mahen berhasil meninju wajah Vano sebelum diamankan oleh pihak keamanan, sementara Via langsung memegangi Vano yang berusaha untuk bangun dari lantai.


"Mohon untuk tenang semuanya." Hakim kembali mengetuk palu untuk menenangkan semua orang. "Jika kondisi masih terus seperti ini, maka saya terpaksa menunda sidang hari ini."


"Mohon izin, Tuan Hakim. Saya mohon jangan menundanya lagi, butuh banyak keberanian bagi klien saya untuk menghadapi semua ini," pinta Nanda. Jika sampai sidang ini ditunda, maka bisa dipastikan Mahen akan melakukan sesuatu yang bisa mengubah hasil akhirnya.


"Mohon untuk ditunda, Tuan Hakim. Saat ini klien saya sedang dalam kondisi yang tidak baik, sehingga tidak bisa mengikuti sidang ini sampai selesai," balas pengacara Mahen.


Hakim terdiam sambil melirik ke arah Vano yang juga sedang melihatnya dengan tajam, dia tau kalau tatapan laki-laki itu menyuruhnya untuk melanjutkan persidangan.


"Karena semua bukti sudah jelas, dan pihak tergugat tidak bisa membantahnya. Maka kami akan mengumumkan putusan dari kasus perceraian ini."


Deg. Semua orang menegang di tempat masing-masing, terutama Via dan juga Mahen yang sedang di dikelilingi oleh pihak keamanan.


"Saya, selaku ketua hakim pada sidang perceraian antara Tuan Mahendra Arkana, dengan Nona Silvia Maharani. Menyatakan bahwasannya Tuan Mahendra dinyatakan terbukti telah menjalin hubungan khusus dengan wanita lain. Kami juga telah mengambil keputusan, bahwasannya sejak hari ini. Tuan Mahendra Arkana dan Nona Silvia Maharani sudah resmi bercerai."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2