
Vano berusaha untuk membuka pintu kamar Mahen, sampai datanglah River yang langsung mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah gagang pintu tepat di daerah kunci.
Dor
Dor
Dor
"Aaah!"
Mama Camelia dan papa Adrian yang baru masuk ke dalam rumah terlonjak kaget saat mendengar suara tembakan, apalagi diiringi dengan jeritan seseorang.
"Ya Allah, itu suara apa, Pa?" pekik mama Cemelia dengan takut sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami.
"Cepat panggil petugas keamanan dan juga polisi. Biar papa liat ke atas." Papa Adrian segera beranjak ke lantai 2 untuk melihat apa yang terjadi, sementara mama Camelia segera keluar rumah untuk memanggil petugas keamanan sekaligus menelepon polisi.
Vano tercengang dengan apa yang River lakukan, begitu juga dengan para pembantu yang ada di tempat itu.
"Vano!"
Vano yang akan masuk ke dalam kamar menoleh ke arah belakang karena panggilan seseorang. "Papa?"
"Ada apa ini? Apa rumah kita kerampokan?" tanya papa Adrian dengan panik.
"Tidak, Pa. Tadi River yang nembak pintu itu." Vano menunjuk ke arah pintu. "Kakak mengamuk, dan kami tidak bisa masuk ke dalam kamar karena dikunci."
__ADS_1
Papa Adrian ikut tercengang saat melihat apa yang terjadi, dia lalu berbalik dan pergi dari tempat itu untuk menemui istrinya. "Apa dia sudah menelepon polisi?"
Vano melihat kepergian papanya dengan bingung. "Papa kenapa sih?" Tidak mau ambil pusing, dia segera masuk ke dalam kamar Mahen dengan diikuti oleh River.
Kamar itu terlihat sangat berantakan, bahkan gudang saja mungkin jauh lebih baik dari pada keadaan di tempat itu. Vano lalu melihat ke arah Mahen yang sedang duduk di lantai, dengan bersandar ke ranjang.
"Ada apa, Kak? Kenapa kau menghancurkan semua ini?" Vano mendekati Mahen yang diam sambil menundukkan kepala. "Ayo kita keluar, tanganmu terluka." Dia berusaha untuk memegang tangan Mahen, tetapi langsung di tepis oleh laki-laki itu.
"Jangan pedulikan aku, Vano. Keluar lah," usirnya sambil beranjak bangun dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Menghancurkan barang-barang tidak akan bisa menyelesaikan masalah, Kak. Kau sudah cukup dewasa untuk tau semua itu,"
"Sudah aku katakan jangan pedulikan aku, Vano. Fokus saja pada hidupmu sendiri." Mahen yang akan ke kamar mandi tidak jadi, dan akhirnya terduduk di atas ranjang.
"Aku juga tidak ingin peduli, aku bahkan tidak ingin lagi tinggal di sini dan melihat kebod*ohanmu, Kak. Tapi mau bagaimana lagi, kita terlahir bersaudara. Jika bukan aku, lalu siapa lagi yang akan peduli padamu?"
"Sadarlah, Kak. Sekarang bukan saatnya kau seperti ini, masih banyak hal lain yang harus kau lakukan."
Mahen menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku sudah tidak bisa apa-apa lagi sekarang."
"Hah." Vano mengusap wajahnya dengan kasar, bersamaan dengan kedatangan mama Camelia dan juga papa Adrian.
"Tidak bisa apa-apa kau bilang? Bukannya selama ini kau sangat aktif sekali membuat masalah, kenapa sekarang malah tidak bisa apa-apa, hah?" seru papa Adrian dengan emosi.
Vano dan mama Camelia hanya diam mendengarkan, dan berharap jika Mahen berhenti melakukan hal tidak berguna ini.
__ADS_1
"Apa lagi yang harus aku lakukan, Pa? Nasibku begitu si*al, dan Tuhan memberikan takdir yang buruk padaku," ucap Mahen dengan lirih.
"Nasib si*al? Nasib si*al mana yang sedang kau bicarakan ini, Kak? Dan takdir Tuhan bagian mana yang kau bilang buruk? Coba katakan!" balas Vano dengan penuh penekanan membuat Mahen menatapnya tajam.
"Kau bertanya karena ingin mengejekku, hah?" Mahen merasa sangat emosi. Tanpa ditanya pun, seharusnya mereka sudah tahu apa yang saat ini sedang terjadi padanya.
"Tuhan memberikan nasib baik padamu dengan memberikan orang tua yang kaya, bahkan punya perusahaan besar hingga kau bisa menjabat sebagai seorang direktur. Dan takdir, Tuhan memberikan takdir baik dengan memberikan istri, dan anak yang baik untukmu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau berselingkuh, dan menghancurkan rumah tanggamu. Bukan hanya istrimu saja yang merasa sakit, bahkan Yara yang masih berumur 3 tahun harus menderita akibat perbuatanmu." Vano menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Setelah itu, kau bercerai dan menikah dengan wanita lain yang sudah kau hamili membuat malu perusahaan. Lalu sekarang, kau kecewa dan marah karena semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan. Kau menyalahkan nasib dan juga takdir dari Tuhan, padahal semua ini karena perbuatanmu sendiri. Ini semua karena perbuatanmu!" teriak Vano membuat Mahen tersentak. Dia lalu menarik tubuh Mahen dan mencengkram kerah kemejanya membuat mama Camelia dan Papa Adrian panik.
"Berhentilah menyalahkan Takdir dan terima semua yang sudah terjadi padamu." Vano mengguncang tubuh Mahen dengan kuat.
"Apa yang harus aku lakukan, Vano? Aku, aku sudah kehilangan semuanya,"
"Apanya yang kau bilang kehilangan, hah? Kau masih punya aku, mama dan juga papa. Oma bahkan tidak melakukan apapun walau apa yang sudah kau lakukan, jadi cukup. Berhenti menjadi laki-laki pecundang dan brengs*ek, kembalilah menjadi seorang kakak yang aku banggakan seperti dulu." Vano melepas cengkraman tangannya dan berlalu keluar dari kamar itu.
Mahen dan kedua orang tuanya terdiam mendengar semua ucapan Vano, karena apa yang laki-laki itu katakan sangat menusuk hati mereka.
Bruk.
Tubuh Mahen kembali terjatuh ke atas lantai. "Maafkan aku, aku mohon maafkan aku."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.