
Papa Adrian dan mama Camelia terlonjak kaget dengan apa yang Mahen katakan. "Apa kau gila, Mahen?"
"Tidak, aku tidak gila, Pa. Kalau papa tidak percaya, tanya saja pada orangnya langsung."
Papa Adrian dan sang istri langsung melihat ke arah Vano, yang saat ini malah sedang tersenyum ke arah mereka.
"Apa Mama dan Papa berpikir seperti apa yang dia pikirkan?" tanya Vano membuat kedua orang tuanya terdiam. "Dengan mengulurkan bantuan kepada seseorang, bukan berarti aku menyukai orang tersebut. Dan kalau pun aku suka, memangnya apa masalah Kakak? Bukankah Kakak sudah membuangnya?"
"Kau-"
"Sudah cukup, hentikan kegilaan kalian ini!" Mama Camelia sampai beranjak bangun dari duduknya. "Apa kalian pikir ini saatnya untuk bertengkar, hah?" Dia menatap tajam ke arah putra-putranya.
"Yang mama kalian katakan itu benar. Seharusnya kalian fokus pada perusahaan, bukan pada hal tidak penting seperti ini. Kalian paham?"
Vano dan Mahen mengangguk, tetapi hati mereka berdua masih sama-sama membara dengan apa yang terjadi.
"Pokoknya papa tidak mau hal seperti ini terjadi lagi. Khususnya kau, Mahen." Papa Adrian menatap tajam ke arah Mahen. "Seharusnya kau fokus pada masalah yang sudah kau perbuat, dan bukannya malah bertingkah konyol seperti ini."
Mahen memilih untuk diam saja karena tidak mau semakin menyulut kemarahan kedua orang tuanya, jika tidak mereka pasti akan angkat tangan dengan masalah yang sedang dia perbuat.
"Maafkan aku Ma, Pa. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku, aku tau kalau apa yang aku lakukan adalah salah," ucap Mahen.
"Baguslah jika kau sudah sadar, papa harap kau bisa bertingkah lebih dewasa lagi dari adikmu."
Mahen mengangguk, tetapi kedua tangannya semakin terkepal erat karena masih merasa tidak terima dengan apa yang Vano lakukan.
"Sekarang kau, Vano. Minta maaf pada kakakmu!" perintah papa Adrian dengan tatapan tajamnya.
Vano menyeringai ke arah sang kakak. "Maafkan aku karena sudah memukulmu, Kak. Tapi, jika kau dan wanitamu itu melakukan hal seperti itu lagi. Maka aku akan kembali memukulmu."
"Vano!" seru mama Camelia dengan suara tertahan.
__ADS_1
"Baiklah Ma, Pa. Aku harus pergi sekarang." Vano beranjak keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya membuat mereka menghela napas kasar.
Setelah semuanya selesai, Mahen juga pergi dari rumah untuk kembali ke perusahaan. Dia harus mencari cara agar Vano tidak ikut campur lagi dalam urusan pribadinya, terutama urusannya dengan Via.
Vano yang saat itu sedang di dalam mobil terlihat galau. Kata-kata yang Mahen ucapkan terus terngiang-ngiang dalam kepalanya.
"Tidak, tidak mungkin aku menyukai wanita itu. Memang apa hebatnya dia sampai-sampai membuatku suka?" Vano menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Aku hanya kasihan saja padanya. Ya, benar. Aku hanya kasihan."
River yang sedang mengendarai mobil melirik ke arah belakang. Dia penasaran dengan apa yang Vano pikirkan, karena sejak tadi tuannya itu selalu saja menghela napas kasar.
"Bagaimana? Apa kau sudah membuat janji dengan pengacara itu?"
River mengangguk. "Sudah, Tuan. Malam ini dia akan menemui Anda."
"Baguslah." Vano kembali menyeringai. Sudah cukup dia selama ini menyimpan kebusukan kakaknya sampai sidang Via belum bisa dilanjutkan, tetapi sekarang dia akan menyerahkan semua bukti itu pada pengacara.
"Kalian yang bermain api terlebih dulu, Kak. Jadi jangan salahkkan aku jika membantu Via."
Sementara itu, di sebuah rumah sakit terlihat Via dan Riani sedang berlari ke ruang UGD. Mereka sangat terkejut saat mendapat kabar bahwa Ibu Novi ditemukan pingsan di dalam rumah dengan tubuh yang sudah babak belur.
"Sepertinya orang tuamu sedang bertengkar, jadi Paman mendengar suara teriakan ibumu. Setelah ayahmu pergi, paman memanggil-manggilnya. Tetapi tidak ada jawaban, jadi paman minta bantuan sama tetangga yang lain untuk mendobrak pintu rumahmu. Kami terkejut saat melihat ibumu sudah tidak sadarkan diri, dan langsung membawanya ke rumah sakit. Semoga dia baik-baik saja."
Via mengangguk dengan berlinangan air mata membuat Riani langsung memeluknya. "Ayah benar-benar sudah keterlaluan, Rin. Aku tidak bisa lagi membiarkan semua ini."
"Kau benar. Aku sudah menghubungi Mas Nanda, sebentar lagi dia pasti datang."
Via lalu mengucapkan banyak terima kasih pada tetangga yang sudah menolong Ibunya, dan memberikan sedikit uang untuk ongkos mereka kembali ke rumah.
Beberapa saat kemudian, Nanda sudah sampai di tempat itu dan langsung menanyakan bagaimana kabar Ibu Novi. Dia juga sudah melaporkan kasus KDRT ini pada pihak yang berwajib.
"Sudah aku katakan sebelumnya, perbuatan ayahmu pasti akan terus berlanjut."
__ADS_1
Via menundukkan kepalanya. "Be-benar, maaf karna waktu itu aku tidak mendengarkan ucapan Mas." Dia merasa menyesal dengan apa yang terjadi pada sang ibu.
"Tidak perlu minta maaf, aku tau bagaimana perasaanmu. Sekarang kau fokus saja pada keadaan ibumu, dan kabari aku kalau pemeriksaannya sudah selesai." Nanda beranjak bangun untuk pergi dari tempat itu.
"Mas sudah mau pergi?" tanya Riani.
Nanda mengangguk. "Ya, aku harus bertemu dengan seseorang." Dia lalu pamit pada mereka untuk segera pergi sebelum terlambat.
"Hah." Via menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, sepertinya saat ini Allah sedang memberikan ujian yang bertubi-tubi padanya.
Riani menggenggam tangan Via membuat wanita itu melihat ke arahnya, dia tersenyum sambil menganggukkan kepala seolah-olah mengatakan kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.
Tidak berselang lama, seorang Dokter yang memeriksa keadaan ibu Novi keluar dari ruang UGD membuat Via dan Riani langsung mendekatinya.
"Ba-bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?" tanya Via dengan khawatir.
"Keadaan pasien baik-baik saja, Nona. Untunglah dia segera dibawa ke rumah sakit sehingga pendarahan yang ada dikepala tidak membahayakan."
Via sangat terpukul sekali dengan apa yang Dokter itu katakan, walaupun di sisi lain dia merasa lega mendengar kondisi sang ibu baik-baik saja.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan, silahkan urus administrasinya, Nona."
Via langsung mengangguk dan akan segera mengurus administrasi sang ibu, tetapi tangannya ditahan oleh Riani.
"Biar aku saja, Vi. Lebih baik kau temani Bibi."
Via mengangguk lalu masuk ke ruangan di mana sang ibu berada. "Ibu, hiks. Maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa melindungi Ibu."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.