Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 70. Murka Vano.


__ADS_3

"Via, di mana kamu? Dasar wanita murahan!" Clara melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Via sambil berteriak memanggil wanita itu, sementara Via yang sedang berada di dapur terperanjat kaget mendengar suara teriakan seseorang.


"Siapa ya, Bu?" tanya Via pada Ibunya sambil beranjak bangun dari kursi.


Ibu Novi menggelengkan kepalanya. "Coba lihat sana."


Via segera berjalan ke arah luar untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya, dan terlihatlah seorang wanita sedang berdiri di ruang tamu rumah itu.


"Clara, apa yang kau-"


Plak.


Belum sempat Via menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah tamparan melayang tepat ke wajahnya. Tentu saja tamparan itu berasal dari tangan Clara.


"Dasar wanita tidak tau diri. Jangan sementang ayahmu mati, kau bisa kembali menggoda suamiku," teriak Clara seperti orang yang kesetanan membuat Via langsung menatap nyalang padanya.


"Apa kau, hah? Kau pikir bisa menarik simpati orang-orang dengan wajah kampunganmu itu, mimpi saja kau. Sampai mati pun aku tidak akan membiarkanmu merebuat suamiku, kau ingat itu baik-baik."


Via mengepalkan kedua tangannya dengan erat sambil menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


"Kau dengarkan aku baik-baik." Clara melangkahkan kakinya hingga jarak tubuhnya dan Via hanya tinggal beberapa senti saja. "Jika kau berani mengusik rumah tanggaku, maka akan ku pastikan bahwa kau bukan hanya kehilangan ayahmu saja, tapi juga akan kehilangan ibumu."


Plak.


Via yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya langsung saja melayangkan tamparan ke wajah Clara, membuat wanita itu langsung berteriak marah.


"Beraninya kau menamparku!"

__ADS_1


Plak.


Via melayanhkan tamparan untuk yang kedua kalinya. "Aku bukan hanya berani menamparmu, tapi aku juga akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini jika kau berani mengusik ibuku!" Via berucap dengan tajam. Wajahnya merah padam dengan napas tersengal-sengal akibat luapan emosi yang sangat besar.


Ibu Novi yang mendengar keributan, tentu saja langsung berlari ke arah luar. Dia sangat terkejut saat melihat apa yang terjadi, terutama kemarahan Via yang selama ini belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Kau mengatai aku murahan, hina, atau apapun juga aku tidak peduli. Tapi jika sekali saja kau mengusik keluargaku, maka aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kau lupakan." Via menunjuk tepat ke wajah Clara membuat wanita itu berdiri kaku.


Ibu Novi langsung menarik tubuh Via agar menjauh dari wanita itu membuat Via tersentak kaget. "Istighfar, Nak. Istighfar." Dia mencoba untuk menenangkan sang putri.


Via menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. "Maafkan aku, Bu. Aku tidak bisa mengendalikan diri, tapi aku tidak membuat kesalahan. Wanita itu pantas mendapatkannya." Dia kembali melihat ke arah Clara dengan tajam.


Clara mengepalkan tangannya sampai gemetar dengan apa yang Via lakukan. "Beraninya, beraninya dia melakukan ini padaku!" Dengan cepat dia melangkah maju dan mengangkat tangannya untuk kembali memukul wanita itu.


Namun, belum sempat tangan Clara menyentuh pipi Via. Tiba-tiba ada seseorang yang mencekal tangan itu membuat Clara langsung menoleh ke arah belakang.


Clara sangat terkejut saat melihat keberadaan Vano, begitu juga dengan Via dan Ibu Novi yang melihat laki-laki itu sedang mengcengkram tangan Clara dengan kuat.


"Va-Vano, i-itu-" Clara meringis kesakitan saat cengkraman laki-laki itu semakin kuat seolah-olah ingin meremukkan tulangnya.


Via yang melihat semua itu langsung mendekati Vano. "Vano, lepaskan tangannya. Kau bisa mematahkannya nanti." Dia menarik tangan laki-laki itu agar melepaskan tangan Clara, tetapi Vano sama sekali tidak bergeming dan hanya menatap wanita itu dengan tajam.


"Va-Vano, to-tolong lepaskan tanganku. Aarggh." Clara memekik kesakitan membuat Via semakin panik.


"Tolong lepaskan dia, Vano. Aku mohon." Via menarik-narik tangan Vano agar laki-laki itu melepaskan tangan Clara, tetapi semakin mereka mencoba untuk membujuknya. Maka cengkramannya akan semakin bertambah kuat.


Mahen yang saat itu masih berada di luar rumah, langsung sadar saat mendengar teriakan Via dan juga seorang wanita yang dia kenali. Dengan cepat dia berjalan masuk ke dalam rumah, dan terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu, Vano!" teriaknya membuat semua orang langsung melihat ke arahnya.


Vano tersenyum sinis saat melihat Mahen, dia lalu kembali melihat ke arah Clara yang sedang menahan sakit. "Sekali lagi kau berani menyentuh Via, maka akan ku pastikan kalau seumur hidupmu kau tidak akan pernah merasakan punya tangan lagi."


Deg.


Tubuh Clara langsung bergetar takut dengan wajah pucat mendengar ancaman Vano, begitu juga dengan orang-orang yang ada di tempat itu.


Vano segera menghempaskan tangan Clara dengan kasar sampai tubuh wanita itu limbung ke belakang, dengan cepat Mahen menangkap tubuh wanita itu sebelum menabrak meja.


"Beraninya kau menyakiti dia, Vano! Apa kau tidak tau kalau dia sedang hamil?" teriak Mahen lagi dengan emosi.


Vano hanya tertawa sinis saja mendengar ucapan Mahen. "Makanya, jaga wanitamu itu baik-baik. Agar dia tidak mengganggu wanitaku, apalagi berani meletakkan tangan kotornya itu ditubuhnya."


"Kau-" Mahen yang ingin kembali marah tiba-tiba mengurungkan niatnya saat melihat Ibu Novi dan Via ada di tempat itu juga. Dia tidak ingin kedua wanita itu menilainya dengan buruk, padahal dia memang sudah buruk sejak awal.


"Tapi bukan seperti ini caranya, Vano. Kau bisa menyakiti janin yang ada dalam kandungannya," ucap Mahen.


"Heh, aku tidak peduli sama sekali. Dan katakan pada wanitamu itu, sebaiknya dia berkaca terlebih dulu sebelum menghina wanita lain. Karna perbuatannya itu lebih rendah dari seekor binatang."





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2