
Beberapa hari telah berlalu sejak pengakuan cinta yang Vano ucapkan pada Via, dan selama itu pula Via terus memikirkan apa yang laki-laki itu lakukan.
Lalu, bagaimana dengan Vano? Tentu saja laki-laki itu tetap bersikap seperti mana biasanya, dia tetap mengunjungi Via dan bermain bersama dengan Yara tanpa merasa telah melakukan sesuatu. Seperti saat ini, tampak Vano sedang mengajak Yara untuk pergi ke wahana bermain. Tentu saja bersama dengan Via juga, karena gadis kecil itu terus merengek minta pergi.
"Ya Allah, aku masih dalam suasana duka. Pantaskah aku bermain seperti ini?" Via merasa bersalah. Padahal ayahnya baru beberapa hari yang lalu meninggal, tetapi dia sudah pergi ke taman bermain. "Dan ada apa dengan laki-laki itu, apa dia tidak merasakan sesuatu yang aneh saat sedang bersamaku?"
Via menjadi setres sendiri. Berulang kali dia mencoba untuk melupakan apa yang Vano katakan, tetapi hati dan pikirannya tidak sejalan dengan apa yang dia inginkan. "Kenapa dia masih bersikap biasa saja, apa ucapannya kemaren itu memang hanya sekedar ucapan?"
Via tidak tau saja kalau selama ini Vano selalu menekan perasaannya saat sedang bersama wanita itu. Mungkin bagi Via, dia hanya bersikap biasa saja. Namun, percayalah kalau dia sangat tersiksa saat dalam situasi berdua dengan Via. Tetapi dia akan jauh lebih tersiksa jika tidak melihat wanita itu sehari saja.
"Si*al! Kenapa Via selalu menatapku seperti itu, sih?" Jantung Vano kembali bereaksi saat melihat tatapan Via yang seolah sedang memperhatikannya, padahal wanita itu hanya duduk diam dikursi yang ada di samping rumah pohon.
Vano lalu mengalihkan pandangannya ke arah Yara yang sedang asik menaiki wahana pesawat terbang. "Wah, dia bahagia sekali." Dia ikut tersenyum saat melihat tawa yang selalu menghiasi wajah Yara.
"Mama, Mama!" panggil Yara sambil melambaikan tangannya ke arah sang mama, dan tentu saja di balas dengan lambaian tangan Via.
Via juga ikut tersenyum senang saat melihat putrinya bahagia, dia lalu kembali melihat ke arah Vano yang masih fokus melihat Yara. "Vano, kenapa kau sangat peduli pada Yara dibandingkan ayahnya sendiri?" Hatinya terasa hangat sekaligus sedih.
Banyak orang-orang yang mengira kalau Vano adalah suaminya, karena memang mereka sering sekali bepergian seperti sebuah keluarga. Namun, semua itu membuat perasaan Via semakin tidak menentu. Di sisi lain dia merasa sangat bahagia, tapi ada sisi lain dalam hatinya yang seakan belum menerima kehadiran Vano seutuhnya.
"Tidak, aku tidak boleh terus seperti ini. Banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dariku, juga yang lebih pantas untuk bersanding dengannya. Aku hanyalah seorang janda beranak 1, aku bahkan mantan istri dari kakaknya sendiri." Via memejamkan kedua matanya untuk mengendalikan diri. Dia tau kalau saat ini hanya sedang terbawa perasaan saja, karena Vano mengungkapkan cinta padanya.
"Ada apa, apa kau sakit?"
__ADS_1
Via langsung membuka kedua matanya saat mendengar suara seseorang. "Ti-tidak. Apa, apa Yara sudah selesai bermain?" Dia menggeser duduknya agar lebih jauh lagi dari Vano.
Yara dan Vano menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. "Yala lapal, Ma. Kita makan ayam goleng, yuk!"
Via tersenyum lalu mengiyakan apa yang gadis kecil itu inginkan. Mereka bertiga lalu segera beranjak pergi dari tempat itu untuk memenuhi keinginan Yara.
Sebenarnya Via ingin pergi berdua saja dengan Yara, tetapi anaknya itu tidak mau kalau Vano tidak ikut bersama mereka. Padahal sudah berulang kali dia mencoba untuk menjelaskan pada putrinya itu, tetapi Yara tetap mau bersama dengan Vano.
Pada saat yang sama, di perusahaan Sky group terlihat seorang wanita sedang berjalan dilobi dengan angkuh. Beberapa kali dia tersenyum sinis saat berpapasan dengan orang-orang yang dulu menjadi rekan kerjanya, membuat semua orang menatap heran.
"Clara!"
Wanita itu menghentikan langkah kakinya saat mendengar panggilan seseorang, dengan cepat dia menoleh ke arah samping di mana beberapa orang sedang berkumpul.
Clara tersenyum miring. "Ya, ini aku Clara. Bagaimana kabar kalian semua?" Dia menyibakkan rambutnya yang berkilau indah.
Semua orang langsung heboh dengan kedatangan Clara, apalagi saat melihat perut buncitnya itu yang langsung menjadi bahan pertanyaan mereka.
"Suamiku ada di perusahaan ini, tentu saja aku datang untuk melihatnya,"
"Apa?" Semua orang langsung saling pandang saat mendengar apa yang Clara katakan. "Memangnya siapa suamimu, kok kami gak pernah tau, sih?" Semua orang langsung sibuk bertanya. Tentu saja mereka merasa sangat penasaran, karena Clara sempat tidak ada kabar lalu muncul ke permukaan dengan berbadan dua.
Clara tersenyum lebar saat melihat wajah penasaran semua orang, mungkin inilah saatnya untuk mengatakan pada mereka kalau dia adalah nyonya Mahendra Arkana.
__ADS_1
"Suamiku adalah-"
"Clara!".
Semua orang terlonjak kaget saat mendengar teriakan seseorang, sontak mereka berbalik dan terkejut melihat keberadaan Mahen.
Semua orang langsung menundukkan kepalanya mereka dengan takut, sementara Clara semakin melebarkan senyumannya.
"Lihat, suamiku sudah datang. Aku permisi dulu." Clara lalu berjalan ke arah Mahen dengan membusungkan dada. "Aku baru aja mau ke ruanganmu, Sayang!"
Mahen benar-benar kesal dengan apa yang wanita itu lakukan, dengan cepat dia menarik tangan Clara dan membawanya masuk ke dalam lift.
"Sakit, Mahen. Kau menyakiti anak kita."
•
•
•
Tbc.
Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini 😍
__ADS_1