Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 91. Berhasil Melumpuhkan Indra.


__ADS_3

Semua orang terlonjak kaget dengan serangan dari River dan juga beberapa polisi yang ada di belakang Indra dan anak buahnya.


"Tidak, Clara!" Mahen berteriak sangat kencang saat melihat apa yang mereka lakukan.


Dor.


River langsung menembak tangan Indra membuat pistol yang sedang digenggam langsung terjatuh ke lantai, sementara Vano yang melihat ada kesempatan ikut menembak kaki Indra membuat tubuh laki-laki itu tersungkur ke lantai.


"Aaarrgh!" Indra memekik kesakitan karena tangan dan kakinya terkena tembakan, sementara kedua anak buahnya juga sudah tersungkur ke lantai karena berhasil ditembak oleh Felix dan juga anak buahnya.


Begitu Indra tertembak, Clara langsung berlari ke arah Mahen. "Mahen!" kakinya bergetar dengan tangan yang memegangi perut menahan sakit.


Mahen langsung memeluk tubuh Clara yang bergetar karena ketakutan. "Tenanglah, kau sudah aman."


"Brengs*ek, bedeb*ah si*alan!" umpat Indra sambil menahan sakit di tubuhnya.


Para polisi langsung meringkus Indra dan juga anak buahnya yang sudah tidak berdaya, sementara Vano dan juga River segera keluar dari tempat itu.


Via yang sedang menunggu kedatangan Vano merasa benar-benar khawatir, dia lalu berlari ke arah papa Adrian yang saat itu sedang bicara dengan kepala kepolisian.


"Papa!"


Papa Adrian langsung melihat ke arah samping saat mendengar panggilan seseorang. "Via, kau di sini?"


Via menganggukkan kepalanya dan segera menyalim tangan sang mantan mertua. "Apa Papa baik-baik saja?"


Papa Adrian tersenyum melihat kekahwatiran diwajah Via. "Papa baik-baik saja, Via. Tapi papa tidak tau bagaimana keadaan Vano dan juga Mahen." Dia melihat ke arah perusahaan yang sudah diberi garis polisi.


Beberapa wartawan berita sudah memadati lokasi perusahaan, membuat para polisi dan petugas pemadam kebakaran segera mengamankan mereka. Para komandan TNI dan petugas negara lainnya bahkan sudah berada di tempat itu untuk menemui papa Adrian.


Para masyarakat yang ada diwilayah perusahaan juga berkerumun memadati lokasi, membuat para petugas terpaksa membubarkan mereka secara paksa dengan dibantu para satpol PP dan yang lainnya.


Berita tentang perusahaan Sky Group menjadi trending nomor 1 yang ada didunia internet, membuat semua kolega bisnis atau pun perusahaan lain langsung mencari kabar tentang apa yang terjadi.


Mama Camelia dan juga oma Erina sudah mengetahui tentang kejadian itu dan mengamankan para pemegang saham serta para dewan direksi perusahaan. Itu sebabnya mereka tidak datang ke lokasi perusahaan karena harus mengurus kekacauan yang terjadi.


Vano dan River sudah keluar dari perusahaan dan langsung disambut oleh papa Adrian dan juga Via.

__ADS_1


"Vano, kau, kau baik-baik saja?" tanya papa Adrian sambil memeluk tubuh putra bungsunya itu.


"Aku baik-baik saja, Pa. Kakak dan Clara juga baik-baik saja," jawab Vano sambil tersenyum ke arah Via.


Papa Adrian langsung menghela napas lega saat mendengarnya, begitu juga dengan Via yang langsung mengucapkan alhamdulillah melihat semua orang baik-baik saja.


Para polisi segera membawa Indra dan juga kedua anak buahnya untuk keluar dari perusahaan, para petugas kebakaran juga sudah berhasil memadamkan api yang memang tidak besar.


Mahen dan Clara juga segera keluar dari tempat itu karena semuanya sudah selesai, dan mereka harus segera ke rumah sakit karena Clara merasa perutnya sangat sakit sekali.


Indra menatap punggung Mahen dan Clara yang berjalan di depannya penuh emosi. Gara-gara mereka dia ditangkap oleh polisi, bahkan harus menerima beberapa tembakan yang sangat menyakitkan.


Bruk.


"Clara!" teriak Mahen saat tubuh Clara tersungkur ke atas lantai, membuat beberapa polisi menghampiri mereka.


Wajah Clara terlihat sangat pucat dengan keringat yang membasahi keningnya, dia mengerrang kesakitan sambil memegangi perut.


"Cepat, bantu saya!" teriak Mahen meminta bantuan pada yang lain untuk mengangkat tubuh Clara.


Mereka lalu segera membawa Clara untuk keluar membuat papa Adrian dan yang lainnya khawatir saat melihat semua itu.


"Aku tidak tau, Pa. Tiba-tiba dia-"


"Darah." Via menunjuk ke arah kaki Clara membuat ucapan Mahen terhenti, sontak semua orang langsung melihat ke arah kaki Clara.


"Cepat, kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"


Mereka semua lalu segera memasukkan Clara ke dalam ambulance, yang memang sudah datang ke tempat itu untuk mengevakuasi orang-orang yang terluka.


Ternyata dorongan dari Indra tadi membuat Clara pendarahan, karena punggung dan pinggang wanita itu menghantam dinding dengan kuat menyebabkan perutnya juga ikut terkena imbas.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Vano? Kenapa Clara sampai pendarahan?" tanya Via yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama dengan Vano dan juga River.


"Dia menjadi tawanan Indra." Vano lalu menceritakan apa yang sudah terjadi beberapa waktu lalu pada Via, juga tentang siapa Clara sebenarnya.


"A-apa?" Via tercengang dengan apa yang Vano ucapkan, dia benar-benar tidak menyangka kalau Clara adalah anak buah Indra. "A-apa kalian tidak salah? Mungkin saja ada kesalah pahaman."

__ADS_1


"Tidak, Via. Memang begitu kenyataannya," ucap Vano.


"Ka-kalau gitu kenapa Indra menjadikannya sandra?"


Vano menatap Via dengan kesal membuat wanita itu mengkerut takut. "Dari pada membahas wanita itu, lebih baik membahas tentang kita, Via."


Deg.


"A-apa maksudmu?" tanya Via dengan tergagap.


Vano langsung tersenyum simpul. "Kenapa kau datang ke perusahaan, Via? Apa kau ingin menemuiku?"


Via menelan salivenya dengan kasar saat mendengar pertanyaan Vano. "A-aku, aku, aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja." Dia merasa gugup dan juga malu.


"Kenapa?" tanya Vano kembali.


Via mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Vano. "I-itu, itu karena aku merasa khawatir, Vano. Kau tidak pernah datang atau pun menelepon, aku dan Yara sangat khawatir. Kau juga tidak mengangkat panggilanku, itu sebabnya aku berniat untuk menemuimu."


"Benarkah?" tanya Vano yang langsung mendapat anggukan dari Via. "Kau mengkhawatirkanku?"


"Ya,"


"Apa kau memikirkanku?"


"I-itu ... ya, aku, aku juga memikirkanmu." Via menunduk malu.


"Kau menunggu kabar dariku?" Entah apa yang Vano lakukan dengan terus bertanya membuat Via menjadi kesal.


"Ya, aku menunggu kabarmu,"


"Apa kau menyukaiku?"


"Ya, aku- apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2