
Setelah acara lamaran berlangsung, dan tanggal pernikahan sudah di tentukan. Semua orang tampak sibuk menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan, mulai dari undangan, gedung serta pakaian yang akan digunakan.
Urusan gedung dan semua perlengkapan yang lainnya, langsung diserahkan pada wedding organizer yang sudah ditunjuk langsung oleh Vano. Lalu sisanya dia juga sudah menyerahkan semua perlengkapan pada River yang selalu bisa diandalkan dalam hal apapun.
Hari ini, Vano dan Via tampak disebuah butik yang paling terkenal di kota itu. Mereka sedang mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan pada acara akad sampai resepsi, sekaligus semua pakaian yang akan dipakai oleh seluruh keluarga.
"Kami sudah mempersiapkan kain yang terbaik untuk gaun Anda, Nona. Sekarang Anda ingin model yang seperti apa?" Seorang desainer menunjukkan beberapa model gaun miliknya pada Via, agar calon pengantin bisa memilihnya secara langsung.
Via tampak bingung saat melihat ada banyak sekali model gaun yang sangat cantik dan juga indah. Dia lalu melirik ke arah samping di mana Vano berada.
"Va- eh Mas, bisakah kau membantuku?" tanya Via dengan tergagap karena mulai dari sekarang dia harus memanggil calon suaminya dengan sopan.
Vano tersenyum tipis mendengar pangilan Via, apalagi saat melihat rona malu-malu yang terpancar dari wajah calon istrinya itu.
"Mau pakai model bagaimana pun, kau tetap cantik, Sayang."
Deg.
Via mematung dengan apa yang Vano katakan, sementara desainer yang ada bersama mereka tersenyum simpul. Beberapa kali Via mengedipkan matanya untuk kembali mengumpulkan nyawa yang beterbangan akibat ucapan Vano, dan sejak kapan laki-laki itu menyematkan kata sayang untuk panggilannya?
"Sa-sayang?" Via bertanya dengan kaku, malu dan semuanya bercampur aduk.
Vano tersenyum sampai membuat matanya menyipit, dia lalu mengambil katalog yang ada di tangan Via membuat wanita itu menatap heran.
"Aku tidak ingin calon istriku memakai gaun yang modelnya sama dengan yang lain. Jadi, kau harus membuatkannya dengan khusus, dan hanya dia saja yang memakai model seperti itu."
Baik Via dan juga desainer itu menatap cengo. Ternyata sejak tadi Vano diam bukan berarti tidak peduli, tetapi dia ingin dibuatkan gaun sendiri untuk Via.
"Bagaimana, apa kau sanggup?"
Desainer itu terkesiap, dengan cepat dia menganggukkan kepalanya. "Ba-baik, Tuan. Saya akan menyiapkan gaun yang paling istimewa untuk Nona, dan akan saya selesaikan 2 hari sebelum pernikahan. Supaya bisa melakukan fitting terlebih dahulu."
Tentu saja Vano senang saat mendengarnya. Setelah itu, mereka beranjak dari butik menuju sebuah hotel bintang 5 yang akan digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan.
Vano dan Via sangat semangat sekali untuk menyiapkan semua acara pesta, sampai-sampai mama Camelia dan juga ibu Novi terus berteriak agar mereka seharusnya tidak keluar rumah.
__ADS_1
Setelah memastikan gedung aman dan para pekerja sudah mulai mempersiapkannya, Vano dan Via segera beranjak pulang ke apartemen.
"M-Mas gak mampir dulu?" Sungguh lidah Via sangat susah sekali untuk memanggil Vano dengan sebutan, mas. Dia bahkan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengucapkannya.
Vano sendiri tergelak setiap Via kesusahan memanggilnya, dan semua itu sangat memghibur sekali untuknya.
"Ja-jangan menertawaiku!" Via memalingkam wajah malu. Tentu saja dia malu karena di ejek oleh calon suaminya.
"Tidak, aku tidak menertawaimu." Tidak tertawa tapi mulutnya masih mengeluarkan kekehan. "Panggil saja aku senyamanmu, Via. Hanya sekedar panggilan saja, tentu tidak masalah bagiku."
Via mengangguk paham. Setelahnya dia kembali menawari Vano untuk mampir, tetapi karena ada hal lain yang ingin laki-laki itu kerjakan. Jadilah Vano langsung pamit untuk kembali ke rumah.
Sementara itu, Mahen juga terlihat sangat sibuk bersama dengan River. Walaupun hubungan mereka sempat memanas, tetapi saat ini mereka bekerja sama untuk mempersiapkan acara pernikahan Vano.
"Apa adikku hidup dengan baik selama di London, River?" tanya Mahen yang mencoba untuk menghilangkan kesunyian di antara mereka. Sudah hampir satu jam mereka bersama, tapi tidak juga mengeluarkan suara persis seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Ya, Tuan." Singkat, padat dan jelas. Itulah jawaban yang River berikan membuat Mahen menatap kesal.
"Lalu, kenapa dia bisa bertemu denganmu? Apa sebelumnya Vano ikut bergabung dengan semacam mafia di sana?" Mahen merasa khawatir.
Jujur saja, dia sangat terkejut saat mengetahui identitas River yang seorang mafia. Bukan hanya terkejut, Mahen bahkan takut jika adiknya bergabung dengan kelompok semacam itu.
Wah. Mahen merasa terharu sekaligus tidak percaya, memangnya Vano melakukan apa sampai manusia seperti River mengabdi padanya? Dia merasa sangatkah penasaran.
Namun, saat Mahen akan bertanya kembali. Tiba-tiba River beranjak bangun membuat pertanyaan yang ada di dalam kepalanya menguap ke udara.
"Kau mau ke mana?"
"Saya akan menyebarkan undangan ke seluruh teman-teman tuan." River menundukkan kepalanya dan berlalu dari ruangan itu.
Mahen menatap River dengan tajam, dia tahu kalau laki-laki itu pasti ingin menghindar darinya, itu sebabnya dia pergi.
"Ck. Terserahlah kenapa mereka bisa bertemu, yang pasti aku senang ada seseorang seperti River di samping Vano. Sementara aku, aku tidak punya siapapun yang setia berada di sampingku."
Sejak pengkhianatan yang dilakukan oleh sekretaris pribadinya, Mahen merasa trauma dan sampai saat ini tidak menggunakan sekretaris. Dia takut kejadian serupa terulang kembali.
__ADS_1
River yang sengaja pergi karena memang tidak ingin ditanya lebih jauh oleh Mahen, langsung masuk ke dalam mobil. Namun, dia tidak bohong jika ingin menyebarkan undangan pada semua teman-teman Vano.
Mohon kehadirannya untuk semua pembaca ke acara pernikahan mereka ya 🤭 resepsinya akan diadakan dihari yang sama dengan akad, itu yang nyetak undangan harus di sentil ginjalnya 🤧 Jangan lupa 🥰🤣
*
*
*
Setelah beberapa hari dihantui oleh kesibukan, hari ini seluruh keluarga Vano maupun keluarga Via sudah berada di hotel tempat diadakannya pesta.
Besok adalah hari yang sangat penting untuk mereka semua, terutama untuk kedua calon pengantin yang sudah sama-sama merasa gugup dan gelisah.
"Kau gugup?" tanya Riani yang duduk di atas ranjang bersama dengan Via.
Via menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, aku merasa benar-benar gugup. Tapi Rin, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Sejak semalam dia ingin bertanya, tapi karena kesibukan jadi lupa.
"Tanya apa?"
"Kau baik-baik saja 'kan, bersama Mas Noah?"
Deg.
Wajah Riani berubah pias, tetapi secepat mungkin dia tersenyum agar Via tidak menaruh curiga.
"Kami baik-baik saja Vi, tapi sepertinya dia tidak bisa datang karena sedang di LN."
Walaupun merasa sedikit aneh, tetapi Via tetap menganggukkan kepalanya. "Semoga kalian segera menyusulku dan Vano ya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.