Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 51. Tetap Menjadi Kewajiban.


__ADS_3

Semua orang langsung menatap tajam ke arah seorang wanita yang baru saja mengatakan tentang perselingkuhan, begitu juga dengan Via dan juga Vano.


"Kenapa kalian kaget? Sudah jelas itu penyakit yang selalu menempel dengan seorang pengusaha, mereka pasti punya selingkuhan. Begitu juga dengan suaminya, ya kan Vi?" Dia mengalihkan pandangan ke arah Via.


Via menghela napas berat untuk menenangkan hatinya yang mulai bergejolak. "Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, jadi kita tidak boleh mengatakan hal seperti itu tentang orang lain."


"Kau memang benar, tapi itu bukan hal tabu lagi bagi masyarakat. Seorang pengusaha besar pasti tidak cukup dengan satu wanita saja, apalagi suamimu itu seorang sultan,"


"Iya benar. Temanku saja yang pengusaha kecil banyak selingkuhannya, apalagi kayak suaminya itu. Jelas dia punya banyak selingkuhan, tingkahnya juga pasti buruk."


Pembahasan itu sudah mulai menjalar ke mana-mana membuat dada Via membara, begitu juga Vano yang sudah mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Terima kasih atas kekhawatiran kalian padaku, tapi semua yang kalian katakan itu tidak benar." Via beranjak bangun dari tempat itu membuat semua orang terkejut, terutama Vano. "Alhamdulillah, suamiku tidak seperti yang kalian katakan. Memang benar jika kami sedang dalam proses perceraian, tetapi semua itu bukan berarti Mas Mahen adalah sosok laki-laki yang buruk."


Seketika suasana menjadi hening, baik Vano dan juga teman-temannya tampak diam mendengar apa yang dia ucapkan.


"Sudah aku katakan kalau setiap orang itu tidak sempurna, dan setiap orang pasti juga membuat kesalahan. Termasuk kita semua, tapi bukan berarti yang bersalah itu buruk, dan yang benar itu baik. Terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar, belum tentu itu sesuai dengan apa yang terjadi."


Jantung Vano bergemuruh mendengar kata demi kata yang Via ucapkan. Untuk pertama kali dadanya berdebar hebat, hingga kedua matanya tidak bisa berpaling dari seseorang.


"Maaf jika mungkin ucapanku menyinggung kalian, tapi aku ingin mengatakan kalau kami baik-baik saja. Insyallah Allah akan memudahkan segala urusan kita, insyallah Allah akan selalu menjauhkan kita dari segala hal-hal yang buruk." Via berusaha keras untuk tersenyum pada mereka walau hatinya terasa sangat sakit.


"Terima kasih karna sudah mengajakku untuk bergabung, aku benar-benar bahagia. Kalau gitu aku pamit teman-teman, semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi. Assalamu'alaikum." Via langsung berbalik dan pergi dari tempat itu. Air mata langsung menetes diwajahnya saat sudah keluar dari ruangan, sungguh hatinya terasa sangat sakit saat ini.

__ADS_1


"Cih, padahal kita cuma mengkhawatirkan rumah tangganya, tapi dia malah berceramah seperti seorang ustadzah," seru salah satu wanita sambil menggerutu kesal.


"Pantas saja kakak iparku tidak pernah bertemu dengan teman-temannya, ternyata teman-temannya seorang bajing*an!"


Semua teman-teman Via langsung menatap Vano dengan tajam. "Apa katamu? Beraninya kau mengatakan kami seperti itu!"


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah lupa kalau dia itu anak dari Tuan Adrian?" Salah seorang lelaki menahan laki-laki yang lainnya, dia memegangi tangan laki-laki itu yang hendak menyerang Vano.


"Cih, sampah seperti kalian memang harus dimusnahkan!" Vano segera berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu. Lihat saja nanti, dia akan memberi pelajaran pada mereka yang sudah menyakiti hati Via.


Via yang sudah berada di luar kafe tampak sedang bersandar di dinding samping bangunan itu. Dia menjongkokkan tubuhnya dengan kepala tertunduk, tentu saja air mata sudah mengalir deras saat ini.


"Ya Allah, kuat kan aku. Aku mohon kuatkan aku." Dia menangis dengan tersedu-sedu, padahal dia sudah berjanji agar tidak menangis lagi.


Tubuh Via tersentak kaget saat ada sebuah tangan yang mengulurkan sapu tangan untuknya, dengan cepat dia mengusap kedua matanya dan mendongakkan kepala. "Va-Vano?"


Kejadian ini kembali terulang seperti beberapa waktu lalu. Saat itu Vano mengulurkan sapu tangan saat dia menangis di perpustakaan mini milik papa Adrian, dan sekarang laki-laki itu juga memberikan sapu tangan padanya.


"Te-terima kasih." Via mengambil sapu tangan itu lalu beranjak bangun dengan wajah sembab. "Ma-maaf ya, gara-gara bersama temanku kita jadi tidak bisa berbicara dengan baik. Mungkin lain kali kita-"


"Kenapa kau melakukannya?"


Via terdiam dengan pertanyaan yang Vano lontarkan, sementara laki-laki itu menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Maaf, aku, aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka jadi lupa kalau seharusnya kita bicara," ucap Via.


Vano berdecak kesal mendengar jawaban dari wanita itu. "Kenapa kau melakukan semua itu? Kenapa kau membela suamimu, hah?"


Via terkesiap mendengar pertanyaan yang kembali Vano ucapkan, dia tidak menyangka kalau maksud pertanyaan laki-laki itu tidak sesuai dengan apa yang dia jawab.


"Aku tidak mengerti kenapa kau masih membela kak Mahen, padahal apa yang teman-temanmu katakan adalah benar. Kakakku punya simpanan, dan mungkin setelah kalian bercerai mereka akan menikah."


Via menatap Vano dengan mata berkaca-kaca, tetapi sesaat kemudian dia tersenyum tipis membuat laki-laki itu menatapnya heran. "Bukankah tugas dari seorang istri adalah menutupi aib suaminya?"


Vano terdiam. Matanya menatap tajam ke wajah Via dengan rahang mengeras, tetapi dia masih menunggu lanjutan dari jawaban wanita itu.


"Istri itu ibarat pakaian yang menutup tubuh suaminya. Jika pakaian itu robek, maka tubuh itu akan terlihat oleh orang lain. Begitu juga dengan apa yang mereka katakan tadi. Aku tau kalau apa yang mas Mahen lakukan sama dengan yang mereka katakan, tapi sudah kewajibanku untuk menutupi apa yang sudah dia lakukan,"


"Pakaian yang robek pasti akan diganti dengan yang baru, itulah yang saat ini suamimu lakukan."


Via kembali tersenyum dengan apa yang Vano ucapkan. "Kau benar. Mungkin dia memilih untuk mengganti pakaian yang lama dengan yang baru, tapi bukan berarti selama ini dia tidak merawat dan memperlakukan pakaian yang lama dengan baik ."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2