Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 115. Bonus Chapter (Luapan Cinta yang Membara).


__ADS_3

Mahen yang kebetulan berada di tempat itu merasa terkejut saat melihat apa yang terjadi pada Riani. Dengan cepat dia mendekati mereka dan langsung menarik bahu laki-laki itu.


"Kau? Kau bukannya mantan suami Via?" ucap Noah yang saat ini sudah melepaskan ciumannya.


Riani yang sudah terisak akibat perbuatan Noah tersentak kaget saat melihat Mahen, dengan cepat dia berlari ke belakang laki-laki itu sambil menggenggam lengannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Mahen pada Riani yang sedang menunduk sambil memegang lengannya.


Riani menggelengkan kepalanya dengan tangan bergetar. Tentu saja dia sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, kenapa pula Mahan harus bertanya saat sudah melihat semuanya.


"Jangan ikut campur urusan kami, Tuan Mahen!" ucap Noah dengan penuh penekanan. Dia menatap Mahen dengan tajam membuat Mahen tersenyum sinis.


"Aku tidak akan ikut campur jika kau tidak memaksanya, Noah."


Riani langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap Mahen, sementara Noah menatap laki-laki itu dengan tidak suka.


"Urus saja urusan Anda sendiri dan jangan pedulikan kami."


Mahen menghela napas kasar lalu beralih melihat Riani karena malas berdebat dengan laki-laki itu. "Apa kau tidak berniat untuk melaporkannya pada polisi?"


Noah tersentak kaget dengan apa yang Mahen katakan, begitu juga dengan Riani yang menatap laki-laki itu tidak berkedip.


"Awas saja kau!"


Noah memilih untuk pergi dari tempat itu sebelum orang lain mengetahui, apalagi kalau sampai melibatkan polisi yang akan merusak nama baiknya.


Riani menghela napas lega saat melihat kepergian Noah. Dia yang akan melangkahkan kakinya malah hilang keseimbangan sampai akhirnya terhuyung ke belakang.


Dengan cepat Mahen melingkarkan tangannya dipinggang Riani dan menahan tubuh wanita itu sebelum terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Mata mereka berdua saling tatap dengan tubuh menempel sempurna, membuat Jantung Riani berdegup kencang dengan apa yang terjadi saat ini. Mahen sendiri terdiam saat menatap mata Riani, hingga dia tersadar lalu segera membawa wanita itu duduk di kursi yang berada tidak jauh dari mereka.


"Te-terima kasih," ucap Riani dengan pelan. Entah kenapa dia merasa malu, gugup, dan gelisah saat ini.


Mahen menganggukkan kepalanya. "Istirahatlah di sini, aku akan menunggu di sana." Dia menunjuk ke arah tempat yang tidak jauh dari mereka saat ini.


"A-aku sudah tidak apa-apa, Mas. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena sudah menolongku."


Mahen kembali mengangguk membuat Riani tersenyum tipis. "Kau bisa melaporkan Noah ke kantor polisi atas apa yang sudah dia lakukan."


Riani kembali mengangguk. Sebenarnya dia tidak ingin berurusan dengan polisi, tetapi kejadian seperti tadi bisa saja kembali terjadi jika dia tidak tegas.


Mahen lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Riani, dia tahu jika wanita itu pasti ingin menenangkan diri atas apa yang sudah terjadi.


Pada saat yang sama, Via dan Vano sudah masuk ke dalam kamar karena acara resepsi sudah selesai dilaksanakan.


Via duduk di atas ranjang sambil memijat kakinya yang terasa pegal, sementara Vano sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Via yang mendengar suara kamar mandi terbuka langsung menoleh ke arah samping, dan betapa kagetnya dia saat melihat penampilan Vano.


Blush.


Wajah Via seketika memerah saat melihat pemandangan yang Vano berikan, sementara laki-laki itu tidak merasakan apapun dan duduk santai di atas sofa.


"A-aku mandi dulu."


Via langsug masuk ke dalam kamar mandi karena tidak tahan berlama-lama di sana. Jantungnya berdegup kencang dengan napas yang kian memburu.


"Astaghfirulah, tenangkan dirimu, Via."

__ADS_1


Via mencoba untuk mengendalikan diri, dan menghilangkan rasa gugup yang merasukinya. Sampai akhirnya menjadi tenang dan segera membersihkan diri.


Vano tersenyum simpul saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata dia tahu jika Via merasa gugup, terlihat jelas dari gerak-gerik wanita itu dan wajah yang memerah.


Setelah selesai, Via keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk. Terlihat Vano masih saja duduk di atas sofa.


Vano tersenyum saat melihat Via, dia lalu beranjak dari sofa dan membawa wanita itu duduk di atas ranjang. "Bolehkah malam ini aku mendapatkan hakku sebagai suamimu, Sayang?"


Via mencengkram erat kedua tangannya saat mendengar pertanyaan Vano. Dia lalu menghela napas kasar dan mulai menatap laki-laki itu.


"Tentu saja, Mas. Sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu sebagai suamiku."


Vano tersenyum lalu mematikan lampu hingga ruangan itu menjadi temaram terkena lampu tidur. Dia mulai merebahkan tubuh Via dan menindihnya.


Vano lalu mengecup kening Via dan memanjatkan do'a untuk kegiatan mereka malam ini, agar nantinya mendapat keturunan yang berakhlak baik dan mulia.


Setelah selesai membacakan do'a, Vano mulai mengecup seluruh wajah Via dan berakhir di bibir istrinya itu. Tidak lupa tangannya menyentuh seluruh tubuh Via membuat wanita itu mendessah dengan nikmat.


Setelah pemanasan yang cukup, Vano lalu memposisikan tubuhnya di kedua kaki Via lalu menghentakkan sesuatu yang ada di bawah sana.


Lenguhan dan dessahan menggema di seisi kamar atas kegiatan yang sedang mereka lakukan, dan mereka melewati sepanjang malam dengan luapan cinta yang membara.


"Aku mencintaimu, istriku," ucap Vano sambil terengah-engah.


Via menganggukkan kepalanya. "Aku, aku juga mencintaimu, suamiku."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2