
Indra!" Suara teriakan Clara menggema di ruangan itu membuat Indra langsung mengusap telinganya yang berdegung, dia menatap laki-laki itu dengan wajah merah padam karena terbakar emosi.
"Baiklah, lupakan tentang siapa ayah dari bayi yang kau kandung itu. Lagipula semua itu tidak penting," sinis Indra sambil mendekati Clara yang masih menatapnya dengan tajam.
"Kalau gitu cepat pergi dari sini, dan jangan menggangguku lagi!" usir Clara sambil menunjuk ke arah pintu.
Indra langsung tertawa saat mendengarnya. "Kau jangan lupa, Clara. Kau belum melakukan apa yang aku perintahkan, dan jangan terus menguji kesabaranku atau aku akan merusak semua kebahagiaanmu ini."
Deg.
Clara terdiam saat mendengar ucapan Indra, sementara laki-laki itu sudah duduk di samping tubuhnya sambil memegang sesuatu yang ada di dadanya.
"Le-lepaskan tanganmu, Indra." Clara menahan tangan Indra yang sudah meremmas gundukan sintalnya.
"Ternyata benar, Clara. Wanita hamil itu sangat menggoda sekali, dan kau tampak sangat seksi dimataku." Indra berkata tepat ditelinga Clara membuat wanita itu langsung merinding ngeri. "Bagaimana kalau kita menghabiskan malam seperti dulu, hem." Dia mulai mengecup tengkuk Clara membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya.
"Ti-tidak, Indra. Aku, aku tidak mau," tolak Clara. Dia tidak mau kalau sampai Mahen mengetahui semua ini, dan rumah tangga mereka menjadi rusak.
"Ayolah, Clara. Aku sudah sangat bergairah sekarang. Apa kau tidak merindukannya, hem?" Indra menarik tangan Clara dan meletakkannya tepat di atas tonjolan yang ada di antara kedua kakinya.
Tubuh Clara meremmang dengan apa yang Indra lakukan, tetapi sekuat tenaga dia menahan semua gejolak itu dan menarik tangannya dengan paksa.
"A-aku akan segera melakukan apa yang kau inginkan. Ja-jadi aku mohon, aku mohon jangan lakukan itu padaku," pinta Clara dengan wajah memelas.
Indra langsung tertawa sinis saat mendengarnya. "Kau tidak berhak untuk menolakku, Clara. Biar bagaimana pun, kau ini masih peliharaan yang harus menuruti semua yang aku perintahkan."
"Tidak, perjanjian kita sudah selesai, Indra. Aku tidak ada hubungan apapun lagi denganmu,"
"Diam!" bentak Indra membuat Clara langsung terkesiap. "Datang ke apartemenku malam ini juga, atau kau akan menyesal jika menolak perintahku," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Dia lalu berbalik dan hendak keluar dari ruangan itu, tetapi langkahnya terhenti saat mencapai pintu. "Dan satu hal lagi." Dia menoleh ke arah Clara. "Cepat selesaikan tugasmu dalam minggu ini, atau aku akan benar-benar menghancurkan hidupmu."
Clara langsung menganggukkan kepalanya membuat Indra beranjak pergi dari ruangan itu. "Si*alan. Kenapa aku harus berurusan dengan laki-laki brengs*ek itu sih? Kenapa harus dia yang menebusku waktu itu, kenapa, Tuhan?" Clara memukul-mukul ranjang yang dia tempati untuk meluapkan segala kekesalannya.
Awalnya dia mengira pertemuannya dan Indra adalah sebuah pertolongan dari Tuhan, di mana laki-laki itu rela membayar mahal untuk membebaskannya dari tangan seorang laki-laki yang menjadikannya budak sek*s.
Namun, lambat laun perilaku Indra mulai berubah. Laki-laki itu selalu menyuruh Clara untuk melakukan sesuatu yang bisa merusak kehidupan orang lain. Seperti menipu, merusak kerja sama, bahkan menguras harta seseorang. Itu sebabnya Indra mengirim Clara ke perusahaan Sky group, guna untuk mendapatkan saham dan juga aset-aset berharga yang ada di perusahaan itu. Namun, siapa sangka kalau dia benar-benar jatuh cinta dengan Mahen.
"Apa yang kau pikirkan?"
Lamunan Clara langsung terhenti saat mendengar suara Mahen. "Ti-tidak. Aku, aku hanya sedang memikirkan anak kita saja." Dia mengulas senyum tipis agar laki-laki itu tidak curiga.
"Baiklah, sekarang ayo kita pulang!" ajak Mahen kemudian. Mereka lalu pergi dari rumah sakit itu menuju rumah.
"Em ... Mahen, apa, apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" tanya Clara saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Aku, aku ingin kembali bekerja, apa-"
"Jangan gila, Clara. Apa kau mau memberitahu semua orang kalau kau sedang mengandung?" bentak Mahen sambil menginjak rem secara mendadak.
"Memangnya kenapa kalau orang-orang tau, toh kita sudah menikah, Mahen. Mau sampai kapan kau terus menyembunyikanku?" teriak Clara sambil memegangi perutnya.
"Kau tidak mengerti, Clara. Aku melakukan itu demi nama baik perusahaan, aku-"
"Tidak. Kau melakukan itu supaya bisa kembali pada Via, 'kan?"
Mahen langsung terdiam karena tidak bisa membantah ucapan wanita itu membuat Clara tersenyum sinis.
"Lihat, kau bahkan tidak bisa membantahnya." Dia menunjuk ke arah Mahen. "Kalau kau benar-benar ingin kembali padanya, maka aku akan pergi saja dari hidupmu."
__ADS_1
"Apa?" Mahen merasa terkejut saat mendengarnya.
"Ya, aku akan pergi dengan membawa putra kita ini. Jangan harap kau bisa menemukan anak ini lagi,"
"Hentikan, Clara!"
"Tidak. Seharusnya kau yang berhenti, Mahen. Berhentilah berharap pada wanita itu, karna akulah istrimu. Jika kau tidak berhenti mengganggunya, maka aku akan pergi atau akan membunuh anak ini sekalian,"
"Kau-" Mahen yang akan kembali berteriak terpaksa menahan emosinya. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada bayi yang sedang dikandung oleh Clara, karena keluarganya sudah tau jenis kelamin dari bayi itu.
"Baiklah, terserah kau mau melakukan apa. Tapi aku tidak akan mengizinkanmu untuk kembali bekerja."
Clara langsung tersenyum lebar dan memeluk tubuh Mahen dengan erat. "Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu."
Mahen hanya diam saja saat dipeluk oleh Clara, sementara wanita itu merasa sangat senang saat ini.
"Baiklah. Aku akan segera menjalankan apa yang Indra inginkan, setelah itu laki-laki itu tidak akan lagi menggangguku."
•
•
•
Tbc.
Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini 😍
__ADS_1