Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 54. Lempar Batu Sembunyi Tangan.


__ADS_3

Via dan Riani sangat terkejut dengan apa yang sekretarisnya Rayen katakan. "Maaf, Tuan. Anda tidak bisa asal menuduh saya seperti itu." Via merasa tidak terima.


"Leo, tenangkan dirimu." Rayen menepuk bahu sang sekretaris membuat laki-laki itu terdiam. "Maaf, Nona. Sekretaris saya tidak bermaksud seperti itu, tapi ya Nona sendiri juga sudah melihat adanya kesalahan dalam berkas ini."


Via mengangguk paham. Dia sendiri juga sudah melihat kesalahan itu, lalu melihat ke arah Riani yang juga sedang melihatnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa setiap orang tidak pernah melakukan kesalahan?" Riani tersenyum ke arah Via. "Salah itu wajar, toh kau juga tau kan letak kesalahannya di mana?"


Via kembali mengangguk. "Saya minta maaf untuk semua ketidak nyamanan ini. Saya akan segera memperbaikinya."


"Tidak perlu merasa seperti itu, Nona. Itu wajar saja terjadi, mungkin Nona lupa atau sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Jadi bisa saja salah masukkan nominal angka."


Via kembali mengangguk, setelah itu dia permisi pada Riani untuk memperbaiki berkas itu dan kembali mengeprintnya di foto copy terdekat.


Setelah kepergian Via, Riani terdiam di tempat duduknya. Otak cerdasnya sedang berpikir dengan apa yang terjadi, karena tidak mungkin Via melakukan kesalahan itu.


"Jelas-jelas tadi malam aku sudah memeriksa semuanya, dan tidak ada yang salah. Tapi, hari ini nominalnya berubah. Hem ... sepertinya ada yang coba bermain-main denganku." Riani mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukan semua ini, dan orang tersebut tidak tau kalau dia dan Via tingggal serumah.


"Maaf Nona, apa yang sedang Anda pikirkan?"


Riani terkesiap saat mendengar ucapan Rayen. "Ma-maafkan saya, Tuan. Saya hanya sedang memikirkan pekerjaan saja." Dia mencoba untuk mengulas senyum.


"Apa Anda sedang memikirkan masalah tadi?" tanya Rayen yang dijawab dengan senyuman Riani, "itu tidak masalah, Nona. Jadi Anda tidak perlu memikirkannya. Anggap saja tidak pernah terjadi,"


"Tapi itu sangat fatal sekali jika kita tidak mengetahuinya, Tuan,"


"Diam!" Rayen melirik ke arah Leo dengan tajam, dia kemudian kembali melihat ke arah Riani dengan senyum manis.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat seorang wanita paruh baya sedang bertengkar dengan suaminya.


"Kau benar-benar sudah gila, Yah. Kau sudah gila!"

__ADS_1


"Diam!" Ayah Chandra menarik istrinya ke dalam kamar lalu menghempaskannya dengan kasar. "Tutup mulutmu. Aku melakukan semua ini demi keluarga kita, jadi kau hanya perlu mengikuti apa yang aku ucapakan."


"Tidak, kau sudah keterlaluan. seharusnya kau tidak meminta uang pada keluarga Mahen, kau benar-benar tidak punya akal."


Plak!


Sebuah tamparan melayang tepat ke wajah Ibu Novi membuat wanita itu tersungkur ke atas lantai. Dia lalu menatap suaminya dengan nanar. "Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan Via, aku tidak akan membiarkannya!"


Ayah Chandra murka dengan apa yang istrinya lakukan, padahal dia hanya meminta 100 juta saja pada keluarga Mahen. Dia lalu memukul dan menendang seluruh tubuh Ibu Novi, sampai-sampai wanita paruh baya itu jatuh pingsan.


"Cih, begini lebih baik. Aku harus mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari mereka, bila perlu aku juga harus memeras Mahen dan memintanya untuk menganggap utang itu lunas." Ayah Chandra segera keluar dari rumah itu dan mengunci pintunya, dia tidak mau wanita itu kabur dari sana.


Setelah memperbaiki semua berkas itu, akhirnya Via kembali bergabung dengan Riani dan yang lainnya. Mereka lalu kembali melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda.


2 jam kemudian, mereka sudah selesai dengan pertemuan itu dan kembali ke tempat masing-masing.


"Rin, aku benar-benar minta maaf soal masalah tadi," ucap Via saat dalam perjalanan ke kantor.


Via terdiam dengan apa yang Riani ucapkan. Benar juga, tidak mungkin semua itu berubah begitu saja sementara dia tidak ada mengotak-atiknya.


"Kau tidak perlu memikirkan itu, biar aku yang menyelesaikan semuanya." Riani melihat sekilas ke arah Via dengan senyumnya dan dibalas dengan anggukan kepala wanita itu.


Sementara itu, di perusahaan Sky Group terlihat semua karyawan sedang membicarakan tentang percerain Mahen dengan Via.


"Apa gosip itu benar?"


"Katanya sih gitu, gak nyangka ya kalau istri Tuan Mahen seperti itu,"


"Iya benar. Padahal dia ramah dan baik loh, rupanya suka menghambur-hamburkan uang. Udah gitu, katanya orangtua Nona Via itu setiap hari suka mintain uang Tuan Mahen, pantas saja Tuan Mahen tidak tahan."


Gosip itu terus menyebar dikalangan karyawan, bahkan sampai ke telinga para direksi dan jajaran tinggi di perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Siapa yang sudah menyebarkan gosip itu?"


Brak!


Vano memukul meja yang ada di hadapannya dengan kuat, dia benar-benar emosi saat mendengar orang-orang mulai membicarakan hal buruk tentang Via.


"Tenangkan diri Anda, Tuan." River menahan tangan Vano yang akan kembali memukul meja. Ya, dia sudah beberapa hari yang lalu datang ke perusahaan itu.


"Benar, ini pasti ulah Mahen dan wanita itu. Padahal aku sudah menutup semua bukti tentang perselingkuhan mereka, tapi beraninya mereka melakukan ini?" Rahang Vano mengeras dengan wajah memerah. "River, bungkam semua mulut orang-orang biad*ab itu. Pastikan tidak ada lagi yang berbicara buruk tentang Via, atau akau akan membunuh mereka semua!"


"Baik, Tuan." River menganggukkan kepalanya untuk menjalankan semua perintah sang tuan, sementara Vano segera keluar dari ruangan itu untuk menemui Mahen.


"Apa kau sudah gila, Clara?" Mahen sendiri tampak murka dengan apa yang Clara lakukan, ternyata wanita itulah yang telah menyebarkan gosip buruk tentang Via.


"Kenapa kau marah? Aku melakukan semua ini untuk kita, Mahen. Kau lihat sekarang, tidak ada lagi desas-desus tentang perselingkuhan," ucap Clara. Dia sudah merasa jenuh karena tidak bisa berlaku bebas.


"Sudah aku katakan agar tidak melakukan apapun, Clara. Apa kau tidak tau kalau saat ini para wartawan sudah tenang, hah?"


Brak!


Mereka berdua terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan itu dengan kasar, dan tampak lah Vano berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Va-Vano, apa yang kau-"


Buak.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2