
Via tercengang dengan apa yang Vano ucapkan, terlebih-lebih saat melihat sebuah cincin di hadapannya. Mata Via langsung berembuan dengan dada bergemuruh, tangannya bergetar dan mulai terangkat naik mengambil cincin itu.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku mau, Vano."
Deg.
Vano terpaku. Matanya membulat dengan mulut terbuka. Sejak tadi dia sudah gelisah, dan berpikir mungkin saja semuanya terlalu cepat untuk mereka. Hanya saja keadaan sudah seperti ini, dan sesuatu yang baik memang tidak bisa tunda lagi.
Via yang sudah mengambil cincin itu memakaikannya di jari manis, membuat dada Vano bergemuruh hebat.
"A-apa itu pas?" tanya Vano yang seketika menjadi gugup dan gelisah. Rasa bahagia dalam hatinya sangat membuncah, hingga dia bingung harus berkata apa.
"Ini pas sekali, dan juga cantik."
"Kau menyukainya?" tanya Vano kembali dengan senyum lebar.
Via mengangguk. "Aku menyukainya, terima kasih."
Ini adalah kali kedua Via menerima cincin dari laki-laki yang berbeda, tentu saja ada getaran aneh yang membuat hatinya terasa sesak. Bukan berarti dia belum bisa melupakan sang mantan suami, hanya saja dia merasa sedih karena pernikahan yang dianggap sampai selamanya hingga maut memisahkan. Kini kandas dan berganti dengan hubungan yang baru.
"Via!"
Vano yang sejak tadi memanggil Via tidak di dengar, hingga wanita itu terlonjak kaget dan menatapnya dalam.
"I-iya? Kau, kau memanggilku?" Via menatap heran dan juga kaget dari lamunannya.
"Ya. Aku mengatakan jika malam nanti keluargaku akan melamarmu, apakah kau tidak keberatan?"
Lagi. Dada Via kembali bergemuruh, dan luapan kebahagiaan membuat air mana menetes dari kedua sudut matanya.
"A-aku tidak keberatan, Vano. Aku, aku akan menyambut kedatangan kalian."
__ADS_1
Senyum lebar tercetak jelas di wajah Vano. Sebelumnya dia sudah mengatakan hal itu pada ibu Novi, dan wanita paruh baya itu sama sekali tidak keberatan. Dia menyerahkam semua pilihan ditangan Via, karena wanita itu yang akan menjalaninya.
"Baiklah. Kalau gitu aku permisi dulu." Vano beranjak dari kursi, begitu juga dengan Via. Namun, Vano tiba-tiba teringat akan satu hal.
"Ada apa, apa ada masalah?" tanya Via yang sadar jika Vano saat ini terlihat sedang berpikir.
"Aku lupa mengatakan sesuatu." Vano melihat Via dengan tajam, membuat wanita itu menatap bingung. "Aku berencana ingin langsung mengurus pernikahan kita setelah lamaran, itu sebabnya aku tidak menggelar acara resmi untuk lamaran kita. Apa kau tidak apa-apa?"
Via tersenyum. Baginya semua itu tidak ada masalah sama sekali. Mau itu acara resmi atau tidak, yang penting dengan siapa dia bersanding nanti.
"Aku tidak apa-apa, Vano. Aku tidak memikirkan semua itu, aku hanya ingin keluarga kita saja yang menyaksikan semuanya."
Vano mengangguk paham. Kemudian dia segera pergi dari rumah Via untuk menyiapkan acara malam nanti, tidak lupa memberi tahu pada semua keluarganya.
Setelah kepergian Vano, Via tersenyum sambil menatap cincin berlian yang sangat indah di jari manisnya. Dia yakin jika cincin itu pasti harganya sangat mahal.
"Ya Allah, ridhoilah niat baik kami ini."
Vano sendiri sudah berada di rumah dan memberitahukannya pada semua keluarga. Kebetulan oma Erina juga sudah kembali pulang, jadi omanya bisa menyiapkan segalanya.
"Tidak mau menggelar acara, Vano?" tanya oma Erina.
Vano menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Oma. Semua ini memang yang pertama untukku, tapi tidak untuk Via. Apalagi dia adalah mantan istri kakakku sendiri, aku ingin menjaga perasaan mereka."
Ya, Vano tidak ingin orang-orang yang ada disekitarnya mengganggu Via dan juga Mahen. Dia yakin sekali kalau berita pernikahannya nanti pasti akan kembali membuat ramai banyak orang, apalagi saat mengatahui sosok yang dia nikahi. Jadi, Vano ingin membuat acara pada saat pernikahan. Jikalau ada yang mencibir, dia bisa melindungi dan berada di sisi Via karena sudah sah menjadi suami wanita itu.
Vano juga berencana untuk langsung membawa Via dan Yara ke London begitu selesai menikah, karena dia tidak mau Via merasa tidak nyaman dan terganggu karena mulut pedas dari orang-orang yang sibuk mengurusi hidup orang lain.
****
Setelah persiapan selesai, tepat pukul 8 malam Vano dan keluarganya sudah sampai di apartemen Via.
__ADS_1
Via dan juga sang ibu menyambut kedatangan mereka dengan hangat, ada juga beberapa orang yang sengaja diundang oleh ibu Novi untuk menyambut kedatangan keluarga Vano.
Mereka semua lalu duduk di atas karpet yang sudah disiapkan sedemikian rupa. Ada beberapa bingkisan yang dibawa oleh Vano dan keluarganya, seperti seperangkat alat shalat, pakaian, berbagai macam makeup dan masih banyak lagi. Tidak lupa yang menarik perhatian adalah sepaket berlian yang ada di kotak tersebut.
Setelah berbincang, akhirnya papa Adrian mengatakan maksud dari kedatangan mereka malam ini. Tidak lupa dia menyuruh Vano untuk langsung mengatakannya pada Via.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya, yang bernama Elvano Arkajaya bermaksud ingin meminang wanita yang sangat saya cintai, yaitu Silvia Maharani. Apakah Silvia berkenan untuk menerima lamaran saya, sekaligus menjadi pendamping hidup saya?"
Semua orang memandang dengan mata berkaca-kaca, sungguh suasana ini sangat mengharukan sekali terutama untuk Mahen.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya yang bernama Silvia Maharani, bersedia menerima lamaran dan bersedia untuk menjadi pendamping hidup Mas Elvano Arkajaya."
Tepuk tangan meriah menggema di dalam ruangan itu. Air mata bahagia menetes membasahi wajah semua orang yang ada di tempat itu.
Mahen sendiri tidak kuasa untuk membendung air matanya. Bukan karena dia merasa sakit hati, tapi karena ikut bahagia melihat dua orang yang sangat dia sayangi dan cintai sudah melangkahkan kaki menuju gerbang pernikahan.
Vano dan Via sendiri juga ikut menetesakan air mata mereka. Setelah perjalanan panjang, terutama untuk Via. Akhirnya mereka maju selangkah menuju pernikahan, yang akan mengikat hubungan di antara mereka.
Semua orang mengucap syukur yang teramat besar atas suksesannya acara malam ini. Walau hanya dihadiri keluarga saja, tetapi tidak mengurangi hikmat dari acara tersebut.
Kemudian mereka mulai membahas acara pernikahan yang akan dilangsungkan minggu depan.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1