
Beberapa hari telah berlalu sejak sidang pertama kasus perceraian antara Via dan juga Mahen. Saat ini Nanda bersama tim nya sedang menyelidiki tentang bukti-bukti yang akan mendukung tuntutan Via, di mulai dari apartemen yang ditinggali oleh Clara.
"Maaf, Tuan. Sepertinya cctv yang ada di tempat ini sudah dibereskan oleh orang lain, karena ada beberapa rekaman yang tampak seperti direkayasa,"
"Si*al. Aku tau kalau Mahen pasti sudah membereskan semuanya, apalagi saat ini para wartawan sedang mencoba untuk mengetahui alasan perceraian mereka." Nanda kalah cepat dari Mahen. Dia yakin kalau tempat-tempat lain pun pasti sudah dibereskan oleh laki-laki itu.
"Cctv itu bisa dikembalikan seperti semula, Tuan,"
"Benarkah?"
Salah satu tim Nanda mengangguk. "Benar, tapi sedikit sekali orang-orang yang bisa melakukannya."
"Itu jauh lebih baik dari pada tidak bisa mendapatkan apa-apa. Jadi, tugas kalian yang selanjutnya adalah mencari programmer hebat yang bisa mengendalilan cctv ini. Semua harus selesai dalam minggu ini, atau perceraian itu akan dibatalkan."
3 orang karyawan yang berada di dalam tim Nanda mengangguk paham, mereka lalu meminta izin untuk melaksanakan perintahnya.
"Dasar licik. Aku cuma bisa menghadirkam beberapa saksi yang pernah melihat Mahen datang ke apartemen ini, tapi kalau tidak ada bukti fisiknya. Maka semua sia-sia saja." Nanda mengusap wajahnya dengan kasar, dia lalu pergi dari apartemen itu untuk melakukan penyelidikan selanjutnya.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Via sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Hari ini dia harus menemani Riani untuk bertemu dengan klien penting, itu sebabnya semua berkas harus dipersiapkan dengan baik.
"Tolong printkan file ini ya, Vi. Mesin print di sini rusak." Mira meletakkan sebuah flashdisk tepat di hadapan Via.
"Baik, tunggu sebentar ya." Via segera menyimpan file yang baru saja dia buat, lalu keluar dari ruangan untuk mengerjakan perintah dari Mira.
Mira tersenyum sinis saat melihat Via keluar dari ruangan itu, dia lalu duduk dikursi Via dan mulai mengotak-atik laptop milik wanita itu.
"Enak saja dia mengambil posisi yang sudah susah payah aku dapatkan. Dia pikir dia itu siapa, mentang-mentang teman Nona Riani jadi bisa seenaknya," ucap Mira dengan kesal. Selama ini dia selalu menemani Riani ke mana pun wanita itu pergi, tapi sekarang dia malah terkurung di dalam kantor.
"Kau lihat saja. Aku pasti akan mengacaukan hidupmu, dasar wanita kampung!" Mira sudah mengubah beberapa bagian dalam file yang dikerjakan oleh Via tadi, setelah itu dia kembali ke tempat duduknya.
Beberapa saat kemudian, Via kembali ke ruangan dan memberikan hasil print yang dia bawa pada Mira. Setelah itu dia kembali duduk dikursinya dan kembali melihat berkas yang sedang disiapkan.
__ADS_1
"Bagaimana, Vi? Sudah siap semua, kan?" Riani membuka pintu ruangan Via lalu memasukkan kepalanya.
"Sudah, ini tinggal print saja." Via langsung mencabut flashdisk yang ada dilaptopnya membuat Mira tersenyum penuh arti.
"Kalau gitu cepatlah, aku tidak mau mereka sampai lebih dulu dari pada kita."
Via langsung mengangguk dan menyiapkan segalanya, setelah itu dia dan Riani segera pergi untuk menemui seseorang.
"Selamat siang, Tuan Rayen," sambut Riani pada seorang lelaki yang merupakan kliennya. Saat ini mereka sudah berada di ruangan VIP sebuah restoran.
"Selamat siang juga, Nona Riani. Maaf jika anda menunggu lama,"
"Ah tidak, Tuan. Kami juga baru saja sampai, silahkan." Riani langsung mempersilahkan Rayen dan juga sekretarisnya untuk duduk. Mereka lalu mulai membahas kerja sama antar perusahaan yang akan dilakukan.
"Ini semua berkas-berkasnya, Tuan. Mohon diperiksa kembali." Via menyerahkan berkas-berkas itu pada mereka, yang langsung diterima oleh Rayen dengan senyum manisnya.
"Apa anda sekretaris baru Nona Riani?" tanya Rayen dengan ramah, matanya terus menatap Via dengan dalam.
"Wah. Sepertinya saya juga harus mencari seorang asisten seperti asisten Anda ini, Nona Riani."
Riani tersenyum lebar mendengar ucapan Rayen. "Tentu saja, Tuan. Asisten saya ini sangat cantik dan juga pintar."
Via langsung menatap Riani dengan tajam, sementara Riani melirik ke arah Via sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Bukan hanya itu saja, asisten saya ini juga jago sekali memasak. Apa Tuan mau- aaw!" Riani memekik kesakitan saat tangan Via mencubit tangannya.
"Apa Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Rayen dengan khawatir.
Riani mengusap-usap tangannya yang terasa panas, dia lalu melirik Via dengan kesal tetapi wanita itu merasa tidak peduli sama sekali
"Nona?"
__ADS_1
"Ah iya. Saya, saya baik-baik saja, Tuan. Tadi ada seekor semut nakal yang menggigit tangan saya."
Rayen menganggukkan kepala dengan bernapas lega, dia kemudian kembali melirik ke arah Via yang sibuk melihat ke arah berkas.
Via memilih untuk kembali membaca berkas yang dia buat daripada meladeni ucapan Riani yang kurang ajar itu, bisa-bisanya wanita itu mengatakan hal seperti itu pada klien mereka.
"Tuan, sepertinya ada kesalahan di sini."
Semua orang langsung melihat ke arah sekretarisnya Rayen, termasuk Via yang langsung memeriksa berkas itu.
"Em ... ya, kau benar." Rayen juga baru saja membaca pada bagian yang salah. Kemudian dia meletakkan berkas itu dan melihat ke arah Riani.
"Maaf, Nona. Sepertinya ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan perjanjain kita."
Riani dan Via terlonjak kaget saat mendengarnya. "Be-benarkah, Tuan?" Mereka langsung memeriksa kembali berkas itu. Padahal kemarin semua sudah siap, dan tadi pagi hanya tinggal membuat bagian penutup saja.
"Astaga." Mata Riani melotot saat membaca bagian produksi juga anggaran pengeluaran, dia lalu melirik ke arah Via yang masih fokus melihat berkas.
"Vi." Riani memegang tangan Via membuat wanita itu mengangkat kepalanya.
"Benar. Ada beberapa bagian yang tidak sama dengan perjanjian." Via langsung menyebutkan bagian-bagian apa saja yang berubah dari sebelumnya membuat semua orang tercengang.
"Anda hapal semua isi perjanjian itu, tapi kenapa di sini nominalnya berubah? Apa Anda berniat untuk melakukan korupsi?"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.