
Di tempat lain, terlihat Vano sedang berada di dalam mobil bersama dengan Clara dan juga supir yang tengah fokus mengemudikan mobil itu.
Suasana terasa hening, baik Clara dan juga supir itu tidak berani membuka mulut karena sejak tadi Vano hanya diam sambil memperhatikan jalanan.
Sesekali Clara akan melirik ke arah laki-laki itu, tetapi dia langsung memalingkan wajah saat Vano menyadari lirikannya.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" Vano membalikkan tubuhnya tepat berada di hadapan Clara, membuat wanita itu langsung menelan salive.
Seketika jantung Clara berdetak kencang karena posisi mereka sangat dekat, dia bahkan bisa mencium aroma mint yang keluar dari hembusan napas Vano. "Sa-saya tidak ingin mengatakan apapun, Tuan." Entah kenapa wajahnya terasa panas dan memerah.
Mata Vano terus memperhatikan garis wajah Clara, dan dia kembali membandingkan antara wanita itu dengan kakak iparnya. Tiba-tiba senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat wajah wanita itu merah padam.
"Kalau kau tidak ingin mengatakan apapun, berhenti menatapku!"
Clara tersentak kaget saat mendengar ucapan Vano. Tubuhnya menegang sempurna dan tidak berani untuk digerakkan, sementara laki-laki itu kembali melihat ke arah jalanan.
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di tempat tujuan. Vano segera turun dan berjalan masuk ke dalam restoran, dengan diikuti oleh Clara yang memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan laki-laki itu.
Awalnya Clara terkejut karena akan bekerja dengan Vano, tetapi kemudian dia merasa senang karena mungkin saja dia bisa menjalin kedekatan dengan calon adik iparnya itu.
Namun, semua yang dia pikirkan tidak berjalan dengan baik. Laki-laki itu sama sekali tidak bisa di dekati. Jangankan untuk bicara, melihat tatapan mata Vano saja sudah membuat seluruh tubuhnya menjadi tegang.
Setelah bertemu dengan klien, Vano langsung saja membahas proyek yang sedang mereka laksanakan. Sebelumnya dia sudah memeriksa berkas yang Clara beri, dan ada beberapa hal yang menurutnya kurang tepat.
"Tapi Tuan, bukankah resikonya akan semakin besar jika kita mengubah pola bangunannya?" ucap laki-laki paruh baya yang menjadi kepala proyek untuk pembangunan sebuah perumahan elit.
"Apa anda pernah mendengar kata-kata bijak dari seorang pengusaha besar?" tanya Vano pada laki-laki paruh baya itu, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala. "Semakin tinggi resiko yang kita ambil, maka semakin besar pula hasil yang akan didapat. Asal semua perhitungannya tepat, dan aku sudah menghitungnya."
__ADS_1
Laki-laki paruh baya itu terdiam, dia masih merasa ragu tetapi tidak berani untuk membantah apa yang Vano katakan.
"Lakukan saja apa yang aku katakan. Jika terjadi masalah, aku yang akan menanggung semuanya." Vano lalu melihat ke arah Clara yang terkejut dengan tatapannya. "Katakan pada kakakku tentang semua yang aku katakan ini!"
Clara langsung menganggukkan kepala, tangannya sibuk mencatat segala sesuatu yang Vano katakan tadi.
Setelah selesai, Vano dan Clara segera pergi dari tempat itu untuk kembali ke perusahaan. Namun, langkah laki-laki itu terhenti saat melihat Via dan Yara sedang makan di tempat itu juga.
Clara yang merasa kaget karena Vano berhenti, beralih melihat ke arah yang dilihat oleh laki-laki itu. Matanya langsung membulat sempurna saat melihat keberadaan Via, pancaran tidak suka langsung terlihat diraut wajahnya saat ini.
"Cih, apa yang wanita itu lakukan di tempat ini? Pasti dia sedang menghambur-hamburkan uang Mahen!" Decakan kecil berhasil lolos dari mulut Clara, membuat Vano melirik ke arahnya dengan smirik iblis.
"Ikut aku!" Vano memutuskan untuk menyapa Via dengan tetap diikuti oleh Clara, dia ingin melihat apa yang akan terjadi jika kedua wanita itu bertemu.
Via yang sedang asyik mengobrol tidak sadar akan keberadaan Vano dan juga Clara, sampai tiba-tiba Riani menyenggol lengannya.
"Ada apa?" tanya Via sambil menikmati dessert yang tersaji di hadapannya.
Via langsung memutar tubuh untuk melihat ke arah belakang, sontak dia terbelalak kaget saat melihat Vano dan Clara sedang berjalan ke arahnya.
"Wah, Kakak ipar. Kau sedang makan di sini juga?"
Suara Vano berhasil menghentikan keterkejutan Via, refleks dia langsung memutar tubuhnya ke arah depan. "Tunggu, kenapa aku malah membelakanginya?" Via mengernyitkan wajah karena reaksi yang dia lakukan.
"Om Pano!" Yara yang melihat Vano langsung melompat turun dari kursi, dan berlari menubruk tubuh laki-laki itu.
"Oh Yara, apa yang kau lakukan di sini?" Vano langsung menggendong tubuh gadis kecil itu.
__ADS_1
"Yala mamam sama Mama dan Ante." Yara menunjuk ke arah Via dan juga Riani. "Om sama siapa tuh? Pacal Om ya?" Gadis kecil itu senyum-senyum tidak jelas seperti mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Bukan. Apa kau mau kenalan dengannya?"
Baik Via, Riani dan juga Clara tersentak kaget mendengar ucapan Vano. Sontak Via langsung berdiri dari duduknya.
"Ma-"
"Yara, habiskan dulu makananmu!" potong Via dengan cepat, membuat putri kecilnya itu langsung nyengir kuda.
Dengan cepat Yara turun dari gendongan Vano membuat Clara menatap Via dengan tajam. "Memang apa salahnya kalau berkenalan denganku sebentar?" dia tau kalau Via pasti sengaja menghalangi Yara untuk dekat dengannya.
Semua orang langsung melihat ke arah Clara, termasuk Yara yang sudah kembali duduk di atas kursi. "Ke sini, Sayang." Clara melambaikan tangannya untuk meminta Yara mendekat.
"Cih, dasar pelakor. Apa kau tidak tau, kalau sedang makan itu harus dihabiskan terlebih dulu?" sindir Riani, yang tentu saja membuat emosi Clara kian naik. "tapi iya juga sih, kau tidak mungkin tau. Sedangkan kau saja tidak tau mana laki-laki yang masih single, dan mana yang sudah beristri."
"Tutup mulutmu!" Suara Clara menggema di tempat itu membuat orang-orang yang sedang menikmati makanan beralih melihat ke arahnya.
"Kenapa aku harus menutup mulut, toh yang aku katakan benar bukan? Dasar pelakor!"
"Kau!" Clara langsung melangkahkan kaki dan mengangkat tangan untuk menampar pipi Riani.
Namun, tangan Clara menggantung di udara saat ada tangan lain yang mencekalnya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.