
Papa Adrian memalingkan wajah ke arah sang istri. "Kau yang seharusnya menesehati dia, jalan pikirannnya itu benar-benar sudah rusak!" Dia berbalik dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Kok jadi aku yang disalahin sih?" Mama Camelia melirik suaminya dengan kesal, dia lalu beranjak masuk ke dalam rumah saat mobil papa Adrian sudah meninggalkan tempat itu.
Pada saat yang sama, Via dan Yara sudah siap untuk pergi ke rumah Riani. Mereka bertemu di depan pintu dengan mama Camelia yang baru masuk ke dalam rumah.
"Mau pulang sekarang, Vi?"
Via menganggukkan kepalanya, lalu menyalim tangan Mama Camelia diikuti oleh Yara juga. "Kami pamit, Ma. Assalamu'alaikum."
"Mau mama antar?" tawar Mama Camelia, keningnya mengernyit heran dengan raut wajah Via yang tampak tidak seperti biasanya.
"Tidak perlu Ma, aku sudah pesan taksi. Assalamu'alaikum." Via kembali mengucap salam dan bersiap pergi dari sana.
Mama Camelia menatap menantunya itu dengan sendu, dia lalu memeluk tubuh Via dengan erat membuat wanita itu tersentak. "Jaga diri kalian baik-baik. Apapun keputusanmu, mama dan papa akan mendukungnya." Dia lalu melepaskan pelukan itu dan menatap Via dengan dalam.
Via menganggukkan kepala. "Terima kasih, Ma." Dia lalu menggandeng tangan Yara dan membawanya beranjak pergi dari sana.
Mama Camelia terus melihat ke arah Via pergi, entah kenapa raut wajah wanita itu terasa sangat mengganggu. Biasanya Via akan selalu tersenyum kepada semua orang, atau akan menatap sendu jika ada masalah seperti waktu itu.
Namun, tatapan Via sekarang hanya datar saja. Seperti sedang menatap hamparan yang kosong. Tidak ada semangat, dan tidak ada gairah untuk hidup.
"Via, tunggu!"
Lamunan mama Camelia terhenti saat mendengar teriakan Mahen, dengan cepat tangannya mencekal lengan laki-laki itu. "Mau ke mana kau? Biarkan Via dan Yara pergi!"
Mahen melihat ke arah mamanya dengan tajam. "Aku ingin mengantar mereka, Ma."
__ADS_1
"Tidak perlu, pikirkan saja wanita yang sedang mengandung anakmu itu. Bukankah kau harus mengurus pernikahan kalian?"
Kata-kata yang mama Camelia ucapkan terasa menusuk hati Mahen. "Ma, bisakah Mama tidak mengatakan hal seperti itu? Aku tau aku salah, dan aku sudah minta maaf pada Mama dan Papa, kan?"
"Maaf saja tidak menjamin semuanya kembali baik-baik saja, Mehen. Apalagi kau menolak untuk bercerai dengan Via. Sebenarnya ada masalah apa dengan otakmu itu? Apa kau tidak bisa berpikir dengan benar lagi sekarang?" ucap mama Camelia dengan tajam, wajahnya memerah karena emosi yang mulai menguasai diri.
"Kau sudah menyelingkuhi istrimu dengan wanita lain, bahkan wanita itu sampai hamil sekarang. Tapi kau, kau malah menolak untuk berpisah dari istrimu sementara kau harus menikah dengan selingkuhanmu itu. Apa kau waras?" teriaknya lagi, ingin sekali dia memukul wajah Mahen yang terdiam di hadapannya.
Vano yang mendengar suara sang mama beralih ke luar, dia lalu menyandarkan tubuh ke dinding untuk menonton pertunjukan antara kakak dan juga mamanya.
"Aku memang salah karna sudah berselingkuh, Ma. Tapi aku tidak salah jika ingin menpertahankan mereka berdua. Apalagi saat ini Clara sedang mengandung anakku, dan aku juga sangat mencintai Via."
Mama Camelia memandang Mahen dengan takjub, dia sangat kagum dengan jalan pikiran laki-laki itu. "Jika kau sangat mencintai Via, maka kau tidak akan membagi cintamu untuk wanita lain. Itulah hakikat cinta yang sesungguhnya."
Mahen berdecak kesal saat mendengarnya, karena selalu saja cinta itu yang dipermasalahkan oleh semua orang. Memang apa salahnya jika dia mencintai 2 wanita?
Sekilas dia melirik ke arah Vano yang ternyata ada di tempat itu juga, lalu berjalan cepat untuk naik ke lantai 2.
Vano tersenyum sinis ke arah Mahen, dia lalu mendekati laki-laki itu dan menepuk bahunya. "Pilihlah salah satu di antara wanita itu, Kak. Karena kau tidak bisa memiliki keduanya. Jangan sampai suatu saat nanti kau menyesal jika sudah kehilangan."
Mahen menghempaskan tangan Vano tanpa menanggapi ucapan laki-laki itu, dia lalu berjalan ke arah mobil dan pergi dari tempat itu.
"Hah, semua orang jadi susah karena ulahmu, Kak!" Vano mendessah frustasi, dia lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju perusahaan.
Sementara itu, Via yang sudah berada di rumah Riani tampak diam di hadapan gadis itu. Dia tidak mengucapkan apa-apa, juga tidak menjawab pertanyaan yang Riani ucapkan.
"Jangan seperti ini terus, Vi. Kasihanilah Yara, dia pasti sedih jika melihatmu seperti ini."
__ADS_1
Via memalingkan wajah ke arah samping, air mata mulai kembali menetes dari kedua matanya.
"Vi, kau adalah wanita yang kuat dan hebat. Kau sahabatku yang sangat sabar dan tabah, semua cobaan yang Allah berikan pasti bisa kau lewati dengan mudah,"
"Ternyata aku tidak sekuat itu, Rin. Aku tidak sanggup."
Riani langsung memeluk tubuh Via dengan erat. "Tidak. Kau sangat kuat, Vi. Sangat kuat." Dia mengusap punggung Via untuk menenangkannya.
"Aku masih bisa bertahan saat dia menghancurkan cintaku, tapi aku tidak bisa bertahan jika dia menghancurkam harga diriku."
Riani langsung melepaskan pelukannya dan menatap Via dengan tajam. "Sekarang katakan padaku, apa yang sudah bajing*an itu lakukan!"
Via terisak sambil menceritakan semua yang sudah terjadi, membuat darah Riani mendidih seketika.
"Bajing*an, brengs*ek! Dia benar-benar laki-laki biad*ab." Riani mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Kau lihat saja, Mahen. Aku pasti akan membunuhmu, aku akan membunuhmu!"
Via langsung memeluk tubuh Riani dengan erat, kini gilirannya lah yang gantian menenangkan wanita itu.
"Kau tenang saja, Vi. Aku akan melakukan segala cara agar proses perceraianmu cepat selesai, aku juga akan menghubungi semua orang untuk semua itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1