
Setelah melihat mobil Mahen masuk ke dalam kawasan apartemen, Via dan Riani segera turun dari mobil untuk mengikuti laki-laki itu.
Namun, mereka harus berhati-hati. Jangan sampai Mahen melihat keberadaan mereka, yang nantinya malah akan membuat laki-laki itu kembali beralasan.
Dari kejauhan, Via mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat melihat Mahen keluar dari mobil. Laki-laki itu segera membukakan pintu mobil itu untuk seorang wanita, yang tentu saja sudah dia ketahui sebelumnya.
"Sabar, Vi! Tahan dirimu, kita harus melihat apa yang mereka lakukan!"
Via menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan saat mendengar bisikan Riani, dan terus seperti itu agar emosinya tidak meledak saat ini juga.
Mahen yang tidak mengetahui keberadaan istrinya di tempat itu tersenyum lebar ke arah seorang wanita, mereka lalu saling berpelukan dan berjalan masuk ke dalam apartemen.
Via dan Riani terus mengikuti mereka, walaupun beberapa kali Via menangis karna melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Akan tetapi, Riani selalu menguatkannya agar kebusukan Mahen bisa terbongkar semua.
Tidak berselang lama, Mahen dan Clara berhenti di dapan sebuah unit apartemen membuat Via dan Riani terpaksa bersembunyi dibalik dinding.
"Sayang, kau tidak menyuruhku untuk masuk?"
Deg, dada Via semakin sesak saat mendengar panggilan yang suaminya katakan untuk wanita itu. "Sayang? Kau memanggilnya Sayang, Mas?"
"Tidak!" Wanita yang bernama Clara itu memalingkan wajahnya dengan kesal.
Mahen yang saat itu berdiri di belakang Clara langsung memeluknya dengan erat, tentu semua itu disaksikan oleh Via dan juga Riani.
"kenapa? Apa kau masih marah denganku?"
"Tentu saja, Mahen! Kau telah mempermalukanku!" Clara memutar tubuhnya untuk menghadap Mahen.
"Terus kau mau aku bagaimana, Clara? Aku sendiri tidak tau kenapa Via ada di sana waktu itu!"
Via dan Riani sekarang mengerti kenapa mereka berdua bertengkar, sepertinya sedang membahas pesta ulang tahun beberapa hari lalu.
"Aku tau, tapi kan kau bisa saja mengusirnya!"
Mahen menghela napas kasar. "Via itu istriku, Clara! Dan kau tau itu!"
__ADS_1
Clara langsung berdecak kesal mendengar ucapan Mahen. "Selalu saja seperti itu, kau selalu memikirkan wanita itu tapi tidak denganku! Aku juga kekasihmu, Mahen! Kita saling mencintai, apa kau lupa itu?"
Mata Via memerah melihat semua itu, tetapi dia masih menahan diri karna ingin melihat sejauh mana hubungan suaminya dengan wanita itu.
"Aku tidak lupa, Clara! Tapi kau juga tidak bisa seperti ini, bukannya kita dulu sudah membahasnya?" Mahen mulai tersulut emosi, dia paling tidak suka melihat wanita yang keras kepala.
Melihat Mahen mulai emosi, tentu Clara harus kembali bersikap manja. "Maaf, Sayang! Aku terlalu emosional, habisnya kamu tidak memberi kepastian padaku!" Dia mengelus dada bidang Mahen yang ada di hadapannya.
"tidak sekarang, Clara! Aku belum siap untuk mengatakannya pada Via!"
"Jadi kapan, Mahen? Kapan kau akan menikahiku?"
Deg, Via benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi saat mendengar ucapan Clara. "Kau bertanya kapan dia menikahimu?" Dia langsung keluar dari balik dinding.
Deg. Mahen dan Clara langsung melihat ke arah samping kanan, dan betapa kagetnya mereka saat melihat Via ada di tempat itu.
Jantung Mahen terasa ingin meloncat keluar dari rongga dadanya saat melihat sang istri, matanya membulat sempurna seperti sedang melihat malaikat maut.
"Kenapa diam? Apa tidak ada lagi pertunjukan yang ingin kalian tampilkan?"
"Hebat, hebat sekali kau, Mas!" Via berdiri tepat di hadapan Mahen yang tercengang melihatnya. "Ternyata seperti ini kau di belakangku!" Air mata mengalir deras membasahi wajahnya dengan bibir bergetar hebat.
Wajah Mahen langsung pucat saat berhadapan dengan istrinya, dia bahkan tidak bisa untuk menggerakkan lidahnya sendiri.
"Aku tidak menyangka kau tega melakukan semua ini, Mas! Bukankah rumah tangga kita baik-baik saja, tapi kenapa kau memiliki hubungan dengan wanita lain?"
Mahen terlonjak kaget saat mendengar teriakan Via, untuk pertama kalinya dia melihat kemarahan yang sangat besar diwajah sang istri.
"Sa-Sayang, ini tidak seperti yang-"
"apa? Apa Mas mau mengelak lagi? Mas mau mencari alasan lagi, hah?" potong Via dengan cepat membuat Mahen langsung terdiam.
"Sekarang katakan, kenapa Mas melakukan ini?"
Via mengusap air mata yang masih terus bercucuran, dia menatap tajam sang suami yang menundukkan kepala di hadapannya.
__ADS_1
"Jawab aku, Mas!" Darah Via sudah sangat mendidih sekarang, jika laki-laki itu tetap bungkam, bisa saja dia menghancurkan semuanya.
Mahen melihat Via dengan sendu, sungguh dia tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi. "Sa-Sayang, aku, aku tidak bermaksud seperti ini! Aku tidak ada hubungan apapun-"
"aku tanya kenapa kau melakukan ini, kenapa?"
"Sudah cukup!"
Clara yang sejak tadi diam angkat bicara, dia tidak mau kalau sampai Mahen tidak mengakui hubungan mereka.
"Cukup? Kau bilang cukup, pelakor?"
Riani juga tidak mau kalah, sejak tadi dia diam karna tidak mau ikut campur antara Via dan Mahen. Namun, pelakor itu malah berani ikut campur urusan sahabatnya.
"pelakor kau bilang?"
"Lalu apa? Bukankah itu sebutan yang pantas untuk wanita sepertimu?"
Clara mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi. "Aku bukan pelakor! Aku mencintai Mahen, dan dia juga mencintaiku!"
"tutup mulutmu, Clara!" bentak Mahen membuat suaranya menggema di tempat itu, beberapa orang yang ada di sana langsung memperhatikan mereka.
"Kenapa kau menyuruhnya untuk tutup mulut, Mas! Bukankah yang dia katakan benar?"
Mahen langsung tersudut, tetapi dengan cepat dia menggenggam kedua tangan Via. "Dengarkan penjelasan Mas, Sayang! Ini hanya salah paham, dia, dia hanya karyawanku saja!"
"Apa? Salah paham?" Via langsung tertawa saat mendengar ucapan Mahen. "Apa kau tau Mas, sudah berapa lama aku di tempat ini?" Via menghempaskan tangan Mahen, kemudian dia mundur untuk mengambil jarak.
"Aku sudah ada di sini sejak pukul 4 sore, aku melihat dan mendengar semua yang kalian bicarakan!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.