
Riani terlonjak kaget dengan apa yang Via katakan. "Apa kau udah gila, Vi?" Dia melotot ke arah Via dengan suara tertahan.
"Ini kan sudah malam, Rin. Bahaya kalau kau pulang sendiri," ucap Via.
"Ini masih jam 10, dan tidak akan ada bahaya sama sekali. Kalau gitu aku pergi sekarang, assalamu'alaikum." Riani langsung berbalik dan pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban salam dari Via.
"Wa'alaikum salam, dia benar-benar keras kepala sekali." Via menggelengkan kepalanya. "Tunggu, sepertinya ada yanh salah di sini." Via baru sadar kalau saat ini Vano masih ada di tempat itu.
"Tapi Vano, kenapa kau tidak pulang? Kenapa malah menyuruhnya untuk pulang sendiri?"
Vano terdiam mendengar pertanyaan dari Via, dan sejujurnya dia juga tidak tau kenapa sampai tidak pulang ke rumah. "Aku, aku bosan tidur di rumah. Jadi ingin tidur di sini."
"Hah?" Via tercengang dengan jawaban dari laki-laki itu. "Tunggu, apa dia ini sudah tidak waras? Memangnya ada, orang yang bosan tidur di rumah dan memilih tidur di rumah sakit? Kenapa tidak di hotel saja?" Dia benar-benar tidak habis pikir.
"Apa kau tidak salah, Vano? Lebih baik kau pulang saja, lagi pula tidak enak dilihat orang jika kita hanya berdua saja."
"Bertiga. Ada ibumu juga di sini, lalu apa masalahnya?" tanya Vano dengan tajam, pokoknya dia tidak akan pergi dan hanya mau di tempat ini saja.
"Hah." Via menghela napas berat. Walaupun merasa heran dan bingung, dia memilih untuk tidak lagi berdebat dengan Vano karena tenaganya sudah benar-benar habis.
Vano tersenyum tipis lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa, dia melirik ke arah Via yang saat itu sedang membelakanginya. "Sebenarnya apa yang aku lakukan sih?" Dia merasa bingung sendiri. "Terserahlah."
*
*
*
Keesokan harinya, Via mengerjapkan kedua mata saat mendengar suara seseorang. Terlihat Vano dan Ibunya sedang mengobrol membuat dia langsung beranjak bangun.
"Kau sudah bangun, Nak?" Ibu Novi tersenyum ke arah Via yang sedang menatap mereka dengan raut bingung.
"Ibu baik-baik saja?" Via mendekati ranjang sang ibu sambil membenahi hijabnya yang miring sana miring sini.
__ADS_1
Ibu Novi menganggukkan kepalanya. "Ibu baik, Nak. Tapi tadi pagi ibu hampir saja teriak saat melihat Vano, ibu pikir dia orang asing yang berniat jahat padamu."
Via mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Memangnya apa yang terjadi, Bu?"
Ibu Novi lalu menceritakan kalau dia terbangun saat Vano sedang mengangkat tubuh Via ke sofa
dan berpikir kalau putrinya akan diculik, dan bersiap untuk mengeluarkan suaranya.
"Rupanya Vano yang ngangkat kamu, Vi. Ibu gak tanda karna makin ganteng," ucapnya kemudian.
Wajah Via memerah saat mengetahui bahwa Vano sudah mengangkat tubuhnya. Dia merasa kesal dan juga malu. Dia kesal karena laki-laki itu sudah lancang menyentuhnya, dia juga malu karena Vano selalu saja ada di saat-saat seperti ini.
"Vano, aku ingin bicara sesuatu padamu. Bisakah kau menungguku di luar?" ucap Via sambil menatap Vano dengan tajam.
"Baiklah."
Via lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, juga menggosok gigi agar tidak menimbulkan polusi udara.
Setelah selesai, dia bergegas untuk menemui Vano. Terlihat laki-laki itu sedang duduk di kursi yang ada disudut lorong membuat Via langsung mendatanginya.
"Silahkan," jawab Vano secara langsung.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, Vano? Kenapa aku merasa kalau kau terus saja ada disekitarku, apalagi tentang sesuatu yang ibuku ceritakan tadi. Apa kau tidak tau, kalau menyentuh orang lain tanpa izin itu disebut lancang?"
Vano terdiam, dia menatap Via dengan tajam membuat wanita itu menghela napas kasar. "Sudahlah, lupakan saja. Anggap semua itu tidak pernah terjadi. Tapi jika kau mengulanginya lagi, maka aku tidak akan tinggal diam."
"Aku sudah membangunkanmu sampai beberapa kali, tetapi kau tetap saja tidur dan tidak bergeming. Kalau aku tidak mengangkat tubuhmu, kau pasti sudah terguling ke lantai,"
Untuk pertama kalinya Vano bicara penjang lebar pada Via membuat wanita itu terpaku, wajah wanita itu berubah jadi merah padam entah karena apa.
"Ka-kalau gitu terima kasih banyak. Tapi, tapi tetap kau tidak boleh melakulan hal seperti itu lagi."
Vano mengangguk. "Baiklah, aku akan mengatakannya terlebih dahulu jika ingin mengangkatmu."
__ADS_1
"Apa? Ma-maksudku-"
"Aku permisi." Vano langsung pergi dari tempat itu tanpa mendengarkan ocehan Via, membuat wanita itu hanya bisa menatapnya dengan bingung.
Setelah menghabiskan waktu seharian di rumah sakit, Via membawa ibunya untuk pulang ke rumah Riani karena dia tidak ingin kembali menempatkan sang ibu dalam bahaya.
"Nak, apa kita tidak merasa segan kalau menumpang dengan Riani?" ucap Ibu Novi, dia merasa tidak enak jika mereka semua tinggal di rumah itu.
"Ibu tenang saja. Aku sudah mencari beberapa apartemen untuk tempat tinggal kita, tapi aku belum ada waktu untuk melihat-lihat tempatnya."
Ibu Novi merasa senang saat mendengarnya. Lebih baik mereka tinggal di gubuk derita milik sendiri dari pada menyusahkan orang lain.
"Oh ya, Bu. Pengacaraku mengatakan kalau sidang perceraikanku dan Mas Mahen besok akan dilanjutkan, aku minta do'a pada Ibu supaya semuanya berjalan dengan lancar,"
"Tanpa kau katakan pun, ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu dan Yara, Nak."
Via tersenyum lebar, dia senang kalau sang ibu mendukung semua yang akan dia lakukan.
Pada saat yang sama, seorang lelaki paruh baya sedang bertemu dengan seseorang. Dialah ayah Chandra, dia memaksa untuk bertemu dengan Mahen saat ini juga.
"Ada apa? Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Mahen dengan tajam membuat ayah Chandra menatapnya dengan ragu.
"Aku, aku minta uang padamu,"
"Apa, uang? Hahaha." Mahen langsung tertawa karena apa yang ada di dalam pikiran ayah Chandra hanya uang, uang, dan uang saja. "Dengar ya, kau saja belum membayar hutang. Lalu, bagaimana mungkin kau meminta uang lagi padaku?" sinis Mahen, bisa-bisanya Via punya ayah yang sangat rendah seperti ini.
"Baik, jika kau tidak mau memberikan uang padaku. Maka jangan salahkan aku jika perselingkuhanmu ini tersebar ke mana-mana."
"Apa? Beraninya kau mengancamku?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.