
"Apa?"
Mata Via langsung terbuka lebar saat mendengar perkataan dari sang penelpon, rasa kantuknya juga langsung hilang dengan apa yang terjadi saat ini.
"A-apa Anda yakin, Pak?" tanya Via dengan terbata-bata, dia berharap kalau kabar yang baru saja dia dapatkan ini tidaklah benar.
"Kita harus menunggu hasil otopsi dari rumah sakit dulu, Nona. Itu sebabnya Anda dan keluarga harus segera datang ke rumah sakit Pelita, karna ada beberapa barang dan identitas korban,"
"Ba-baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana sekarang juga."
Panggilan itu langsung terputus begitu saja membuat Via langsung lemas. Dia tidak menyangka akan menerima kabar seperti itu dari pihak kepolisian, dan semoga semua itu tidaklah benar.
"Ya Allah, aku bermohon padaMu. Aku tau jika selama ini Ayah sudah sangat lalai, tapi aku mohon belas kasihanMu, Ya Allah."
Via segera turun dari ranjang dan berjalan ke kamar sang Ibu dia berharap kalau Ibunya akan baik-baik saja mendengar kabar ini.
"Bu, Ibu." Via menggoyang lengan ibu Novi untuk membangunkannya, terlihat wanita paruh baya itu mulai mengerjapkan matanya lalu memandang Via dengan heran.
"Loh, apa ini udah pagi, Nak?" Ibu Novi jadi panik kalau sampai dia bangun kesiangan.
"Tidak, Bu. Ini masih jam 3,"
"Ooh, Ibu kira kesiangan." Dia menghembuskan napas lega. "Tapi, kenapa kau udah bangun? "
Via terdiam mendengar pertanyaan dari sang Ibu, dia mencoba menguatkan hati untuk mengatakan alasan dia bangun dijam segini.
"Bu, kita harus segera ke rumah sakit."
__ADS_1
Ibu Novi langsung terkejut saat mendengar ucapan Via. "rumah sakit? Apa kau sakit, Nak? Atau Yara sakit?"
Via langsung menggelengkan kepalanya. Dia lalu menceritakan kalau beberapa menit yang lalu dia mendapat kabar dari pihak kepolisian, bahwasannya ditemukan mayat yang sudah membusuk di pingir sungai. Dan dari identitas yang ada di dalam dompet, sepertinya mayat itu adalah Ayah Chandra.
"Ya Allah ya Tuhanku." Ibu Novi langsung lemas dengan kabar yang anaknya ucapkan, membuat Via langsung memeluk tubuh sang ibu dengan erat.
"Ya Allah, Nak. Ayah mu, Nak. Ayahmu, huhuhu." Ibu Novi tidak kuasa untuk mengendalikan diri dengan kabar yang sangat mengejutkan ini, dan Via hanya bisa berusaha untuk menenangkannya.
"Sabar, Bu. Semoga itu bukan Ayah, mungkin itu orang lain." Via memeluk tubuhnya dengan erat. "Sekarang kita harus segera ke rumah sakit, Bu. Kita harus bertemu dengan pihak kepolisian."
Ibu Novi mengangguk lemah. kemudian Via mengambilkan hijab dan juga jaket untuk sang ibu agar tidak terkena angin malam.
Via juga mengambil kain untuk menggendong Yara, tidak mungkin dia meninggalkan putrinya di apartemen seorang diri.
Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat ke rumah sakit Pelita sesuai dengan arahan polisi. Jalanan yang sunyi membuat Via bisa lebih cepat melajukan mobilnya hingga tidak terasa sudah sampai di tempat tujuan.
Dengan menggendong Yara dan juga merangkul Ibunya, Via berjalan pelan untuk masuk ke rumah sakit. Dia segera bertanya pada pihak administrasi dan di antar ke ruang otopsi.
"Selamat malam juga, Pak. Ba-bagaimana hasilnya? A-apa sudah selesai?" tanya Via dengan terbata-bata.
"Kita masih harus menunggu sebentar lagi, Nyonya. Tapi sebelum itu, ini adalah barang-barang yang ditemukan ditubuh korban, Anda bisa melihatnya dulu."
Via mengambil sesuatu yang ada di dalam kantong plastik itu, dan memperhatikannya dengan teliti.
Deg.
"I-ini, ini cincin Ayah." Via meletakkan tangannya tepat di depan mulut dengan tidak percaya. Matanya berkaca-kaca saat melihat bukan hanya cincin saja, bahkan barang-barang lain yang ada di plastik itu juga milik ayah Chandra.
__ADS_1
Bruk.
Via langsung mengalihkan pandangan ke arah kursi di mana ibunya berada. "Ya Allah, Bu!" Dia langsung berlari saat melihat sang ibu sudah tergeletak dia atas lantai, begitu juga dengan beberapa polisi yang ada di tempat itu.
"Ya Allah, Ibu. Bangun, Bu. Hiks, huhuhu,"
"Mama?"
Salah satu polisi terpaksa mengambil Yara dari gendongan mamanya, karena gadis kecil itu terkejut saat melihat wanita itu menangis.
"Mama, mama. Yala mau sama mama!" Yara memberontak dalam gendongan polisi itu dan minta untuk bersama dengan mamanya, sementara Via sudah pergi ke dalam salah satu ruangan untuk mengantar Ibunya yang sedang pingsan.
"Yala mau sama mama. Hua, hua,"
"Sssh, bentar ya, Sayang. Mama masih bawa nenek periksa, jadi kamu sama Paman dulu ya." Polisi itu berusaha untuk menenangkan Yara tetapi tangisan gadis kecil itu malah semakin menggelegar.
Via yang sedang berada di dalam ruangan langsung beranjak keluar saat mendengar tangisan Yara, dia berlari dikoridor rumah sakit sambil mengusap air mata yang masih saja keluar.
"Ma-maaf karna sudah merepotkan Anda, Pak." Via merasa tidak enak hati dan langsung mengambil Yara dari tangan polisi tersebut.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Apa ada keluarga lain yang mungkin bisa kami hubungi untuk menemani Nyonya?" Polisi itu merasa iba dengan keadaan Via saat ini, di mana wanita itu harus mengurus Ibu dan juga putrinya seorang diri.
Via langsung menganggukkan kepalanya. "Terima kasih karna sudah mengingatkan saya, Pak. Saya akan menghubungi keluarga yang lain." Via lalu menghubungi Riani untuk meminta agar wanita itu segera datang ke rumah sakit.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.