
Papa Adrian merasa benar-benar emosi melihat laki-laki yang di bawa entah dari mana oleh Vano. Laki-laki itu selalu saja mengabaikan orang lain, dan hanya tunduk pada Vano saja.
"Tunggulah aku di luar, River,"
"Baik, Tuan." River langsung pergi dari ruangan itu tanpa memperdulikan kemarahan papa Adrian, dia bahkan tidak memperdulikan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu kecuali Vano.
"Hah, benar-benar seperti seekor anji*ng yang hanya setia pada tuannya," gumam papa Adrian. Dia lalu kembali melihat ke arah putra-putranya dengan tajam. "Ikut papa!" Dia beranjak keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh semua orang, terutama Vano dan juga Mahen.
Berita tentang perkelahian antara Mahen dan juga Vano tentu saja menjadi topik hangat di dalam perusahaan, bahkan berita itu mengalahkan gosip buruk tentang Via yang sengaja disebarkan oleh Clara.
"Bagaimana ini? Bagaimana kalau Vano mengatakan pada keluarganya tentang apa yang aku lakukan?" Clara merasa cemas, dia menggigiti kukunya sendiri jika dalam keadaan seperti ini.
"Kau masih tidak berubah juga ya, Clara?"
Clara langsung membuang muka sebal saat mendengar suara seseorang. "Berhenti mengikutiku, Indra. Kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi!"
"Wah, kau sudah berani menggonggong pada majikanmu sendiri ya," sindir Indra.
"Hubungan kita sudah selesai, Indra. Aku sudah melakukan semua yang kau katakan, tapi tidak untuk kali ini. Aku sangat mencintai Mahen, aku tidak mau-"
"Cinta? Kau bicara tentang cinta?" Indra menatap dengan tidak percaya. "Seorang budak sepertimu bicara tentang cinta? Hah, sangat tidak pantas sekali." Indra tertawa dengan keras mendengar apa yang wanita itu katakan.
Clara mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Cukup sudah, dia tidak bisa lagi menahan semua intimidasi dari laki-laki itu. "Sudah cukup, Indra. Sekarang katakan apa maumu?"
Indra tersenyum simpul. "Nah, itu baru budakku. Tidak percuma selama ini aku menyayangimu." Dia mengusap puncak kepala Clara yang langsung ditepis oleh tangan wanita itu. "Semenjak berhubungan dengan Mahen, kau sudah sangat berani ya, padaku."
"Tidak usah bertele-tele lagi, Indra. Katakan saja apa maumu!" ucap Clara dengan tajam.
"Baiklah. Jika kau berhasil melakukannya, maka aku tidak akan pernah menganggumu lagi,"
__ADS_1
"Benarkah?" Clara menatap dengan tidak percaya. "Kau, serius?"
"Ya, aku tidak akan mengganggumu lagi dan aku akan melepaskanmu sepenuhnya."
Clara merasa sangat senang sekali dengan apa yang Indra ucapkan, tetapi dia yakin kalau apa yang laki-laki itu inginkan pasti juga akan sangat berat. "Tapi, apa yang kau inginkan?"
Indra mencondongkan tubuhnya hingga mulutnya tepat berada di depan telinga Clara. "Alihkan saham kepemilikan perusahaan Mahen padaku."
"Apa kau gila?" Clara langsung terlonjak kaget dengan apa yang laki-laki itu inginkan.
"Ya, aku memang sudah gila. Kau sendiri juga tau bagaimana gilanya aku ini."
Clara benar-benar tidak percaya dengan apa yang Indra inginkan. Ssbelumnya laki-laki itu hanya menginginkan uang saja dari perusahaan-perusahaan yang dia masuki, tetapi kali ini permintaan laki-laki itu sangatlah berat.
"Tidak, aku tidak bisa melakukannya," tolak Clara. Dia tidak akan bisa melakukan itu, dan kalau pun bisa sudah pasti kehidupannya dan Mahen nanti akan hancur.
"Oh, jadi kau tidak bisa melakukannya?" Indra memasang smirik iblisnya dan itu membuat Clara langsung cemas. "Kau tau, aku masih ingat betul saat-saat aku membelimu dari tempat menjijikkan itu."
"Lalu, bagaimana ya reaksi Mahen kalau mengetahui semua itu?" Indra menatap Clara dengan sinis. "Wah, dia pasti akan sangat terkejut sekali." Wajah Clara berubah pucat dengan apa yang dia katakan. "Dan jangan lupa, Clara. Akulah orang yang telah memasukkanmu ke dalam perusahaan ini, jadi kau harus melakukan apa yang aku perintahkan!"
Clara hanya bisa diam dengan tangan terkepal. Sungguh dia sudah tidak bisa lagi menolak apa yang laki-laki itu inginkan, atau hubungannya dengan Mahen akan hancur.
"Tapi, bagaimana aku melakukannya? Aku tidak mungkin sanggup untuk melakukan itu," ucap Clara. Walaupun dia nanti sudah menikah dengan Mahen, tetapi dia tidak punya kuasa atas saham yang laki-laki itu miliki.
"Kau tenang saja, salah satu anak buahku ada di perusahaan ini. Kau hanya tinggal melakukan apa yang aku perintahkan, dan urusan yang lain biar dia yang melakukannya." Indra langsung berbalik dan pergi dari tempat itu.
"Hah. Baiklah, aku akan melakukan semua ini," gumam Clara sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Pada saat yang sama, papa Adrian dan juga kedua putranya sudah sampai di rumah. Mereka berkumpul di ruang kerjanya dengan dihadiri oleh mama Camelia juga.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa orang kantor bilang kalau kalian bertengkar?" tanya mama Camelia dengan heran.
Mahen tersenyum sinis sambil melirik ke arah Vano. "Memangnya aku harus apa lagi, Ma. Anak kesayangan mama dan papa ini sepertinya sudah melewati batas."
"Apa maksudmu, Mahen? Dan berhenti mengatakan kalau Vano adalah anak kesayangan kami!" ucap papa Adrian dengan marah. Baginya tidak ada yang namanya anak kesayangan, dia dan sang istri tidak pernah membedakan kasih sayang antara kedua putranya.
"Kenapa papa menyuruhku untuk berhenti? Bukankah yang aku katakan itu adalah benar?" ucap Mahen.
Vano melirik Mahen dengan penuh emosi, tetapi dia masih menahan diri karena ingin melihat sejauh mana laki-laki itu akan bertindak.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Mahen! Sejak dulu kau selalu saja mengatakan hal seperti itu, sifatmu yang seperti inilah yang membuatmu tidak pantas untuk menggantikan posisi papa,"
"Benar, itu sebabnya papa ingin memberikan perusahaan itu pada Vano," balas Mahen dengan tajam.
Suasana menjadi sangat menegangkan untuk semua orang, di mana masing-masing orang sedang dikuasai amarah saat ini.
"Berhengi membahas sesuatu yang tidak penting. Sekarang katakan kenapa kalian bertengkar?" ucap Mama Cemelia, "Vano?" tanyanya sambil melirik ke arah Vano.
"Aku tidak suka karna-"
"Vano menyukai istriku,"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.