Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 29. Rencana Licik.


__ADS_3

Indra menepuk bahu Clara sambil berlalu pergi dari sana, tetapi saat di ambang pintu dia kembali melihat ke arah wanita itu. "Laki-laki bernama Mahen itu sepertinya cukup bod*oh, kau beruntung bisa mendapatkannya." Dia mengedipkan sebelah mata lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari tempat itu.


Wajah Clara merah padam karena menahan emosi, laki-laki itu benar-benar terus menempel padanya seperti parasit. "Aku harus segera membereskan Indra, atau dia akan membuat keributan sebelum aku menikah dengan Mahen!"


Clara harus memutar otak untuk membuat Indra menjauh darinya, bila perlu mati saja dan menghilang dari dunia ini.


Pada saat yang sama, Mahen sedang bertemu dengan seorang laki-laki yang dia tugaskan untuk mengikuti ke manapun Via pergi.


"Nyonya bertemu dengan seorang pengacara, Tuan. Mereka membahas tentang pengajuan gugatan perceraian anda," anda lapor laki-laki tersebut.


"Brengs*ek! Sepertinya Via tidak main-main dengan apa yang dia katakan, kenapa wanita itu keras kepala sih?" Mahen mengusap wajahnya dengannya kasar. "Sekarang katakan, siapa pengacara yang disewa oleh istriku?"


"Namanya Nanda Giovano, Tuan."


Mahen terdiam saat mendengar nama yang disebukan oleh anak buahnya, dia seperti pernah mendengar nama dari pengacara itu disuatu tempat.


"Tunggu, bukannya Nanda itu anak dari salah satu pemilik saham di perusahaanku?" Mahen menatap anak buahnya dengan tajam.


"Benar, Tuan. Beliau anak dari Tuan Neval yang menjadi seorang pengacara, beliau juga berhasil mendapat gelar pengacara nomor satu di kota ini."


Si*al, Mahen benar-benar merasa kecolongan oleh Via. Dia tidak menyangka kalau istrinya itu bisa sampai berhubungan dengan Nanda.


"Ini gawat! Kalau sampai para pemegang saham mengetahui perselingkuhanku, mereka pasti akan mencibirku dengan buruk."


Tidak, Mahen tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Orang-orang dalam perusahaan tidak boleh ada yang tau masalah ini, apalagi para awak media yang pasti akan membuat keributan.


"Baiklah, kau harus terus mengawasi istriku. Laporkan semua yang kau lihat dan kau dengar, pastikan tidak ada satu pun yang terlewat!


"Wah wah wah, ada apa ini?"


Mahen terlonjak kaget saat melihat ke datangan Vano, setelah itu dia memberi kode pada anak buahnya untuk segera pergi dari tempat itu saat ini juga.


Vano tersenyum tipis saat melihat apa yang Kakaknya lakukan, dia yang ingin bertemu dengan teman malah tidak sengaja melihat keberadaan Mahen.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini, Van?" tanya Mahen setelah melihat Vano duduk di hadapannya.


"Cuma kau ketemu teman aja. Kakak sendiri, apa yang sedang Kakak lakukan?"


Mahen menghelas napas berat. Dia tau kalau Vano bukan hanya bertanya mengenai keberadaannya saja, tetapi lebih kepada apa yang sedang dia lakukan pada istrinya.


"Vano, bisakah kau membantuku?"


Vano langsung mengernyitkan keningnya. "Bantu?"


"Ya, kakak sedang kesulitan sekarang!" Mahen menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah. "Bagaimana jadinya kalau para pemegang saham mengetahui masalah perceraianku?"


Vano langsung tertawa mendengar ucapan Mahen, membuat laki-laki itu langsung meliriknya dengan tajam.


"Memangnya apa yang salah dengan perceraian? Itu bisa terjadi pada pasangan manapun, kenapa kau harus khawatir?" Vano merasa benar-benar lucu karena Mahen mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting.


"Masalahnya bukan itu, Vano. Kalau mereka sampai tau masalah perselingkuhanku, citraku dan perusahaan pasti akan hancur!"


"Heh, citra perusahaan tidak akan hancur karena ulah satu orang saja. Tapi kalau citra Kakak sendiri, ya mungkin saja."


Kalau pun citra perusahaan akan goyah, tentu itu akan menjadi tugasnya untuk membersihkan semua kekacauan yang terjadi.


"Itu yang aku takutkan!" Mahen kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Lalu, aku harus bagaimana sekarang?"


Vano hanya mengendikkan bahunya saja dan beranjak berdiri. "Itu urusan Kakak. Kau yang sudah bermain api, maka kau sendiri yang harus memadamkannya."


"Cih, lalu apa gunanya kau jadi adikku?" cibir Mahen, "kau harus tetap membantuku, Vano!" ucapnya dengan penuh penekanan.


Vano menghela napas berat. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur dengan masalah seperti ini, apalagi urusannya sendiri sudah sangat banyak sekali.


"Tolong lah, Vano. Kau harus membantuku supaya masalah ini tidak terdengar oleh siapapun, terutama orang-orang di perusahaan!" pinta Mahen.


Vano terdiam, dan beberapa saat kemudian dia menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan permintaan Mahen.

__ADS_1


"Bagus. Kau akan mengurus masalah itu, dan aku akan mencari cara supaya nama baikku tidak hancur."


Ya, Mahen harus membuat perceraian itu seolah-olah terjadi karena bukan kesalahannya. Dia harus membuat semua orang menyalahkan Via, agar para media tidak mencium perselingkuhannya.


"Apa yang Kakak pikirkan?" Vano melihat Mahen dengam curiga, sepertinya dia tau apa yang akan kakaknya itu lakukan.


"Tidak. Aku hanya sedang berpikir bagaimana kalau kita memutar balikkan fakta yang terjadi, supaya nama baikku tetap terjaga!"


Nah, kan. Apa yang Vano pikirkan adalah benar, laki-laki itu ingin membuat Via lah yang bersalah atas apa yang sudah terjadi.


"Kau akan kehilangan wanita itu selamanya."


Mahen melihat Vano dengan bingung. "Apa maksudmu? Apa kau tidak setuju?"


Vano terdiam. Dia sedang berpikir untuk apa juga dia ikut campur urusan mereka. "Tidak ada, lakukan saja apa yang ingin Kakak lakukan." Dia berbalik dan segera menjauh dari tempat itu.


Mahen terus melihat ke arah Vano dengan bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang laki-laki itu katakan.


"Baiklah, aku harus segera membuat rencana sebelum terlambat." Mahen beranjak pergi dari tempat itu dan kembali ke perusahaan.


Pada saat yang sama, terlihat Via sedang menemani Yara bermain di taman. Matanya menatap lurus ke depan, tetapi hati dan pikiran melayang-layang ke angkasa.


"Hah!" Via menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, helaan napas terdengar lirih menandakan kalau bukan fisiknya saja yang merasa seperti itu.


"Beberapa hari lagi ulang tahunmu, Nak. Bisakah mama dan papa merayakannya bersama?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2