Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 36. Bersiap Untuk Pergi.


__ADS_3

Via hanya bisa menganggukkan kepala untuk menanggapi ucapan Riani, karena saat ini dia tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Ayo!" Riani menarik tangan Via untuk bangun, sementara Via sendiri menatapnya dengan bingung.


"Kita mau ke mana?" tanyanya.


"Bukannya kau mau mengajak Yara ke mall? Kasihan dia udah nunggu dari tadi. Aku akan menyuruh pembantu untuk ke rumahmu, biar mereka yang membereskan barang-barangmu di sana."


Via terlonjak kaget dengan apa yang Riani ucapkan. "Ke-kenapa, Rin? Kenapa kau menyuruh mereka untuk mengemas barang-barangku?"


"Kau harus segera keluar dari rumah itu, dan tinggallah bersamaku."


Via langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rin. Aku merasa tidak enak dengan Om dan Tante jika tinggal di sini, aku akan mencari apartemen untukku dan Yara."


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan semua itu, karena aku sudah menceritakan semuanya pada mereka. Untuk saat ini, kau harus tinggal bersamaku sampai kita mendapat apartemen untuk tempat tinggalmu dan Yara."


Via terdiam untuk memikirkan apa yang Riani ucapkan, sementara Riani langsung menariknya untuk keluar dari rumah.


"Tapi Rin, aku segan dengan-"


"Diam! Mama dan papa sendiri yang menyuruhmu untuk tinggal bersamaku. Lagipula mereka ikut sedih dengan apa yang terjadi padamu, Vi." Riani sudah menceritakan tentang rumah tangga Via pada kedua orangtuanya, dan kedua orangtuanya pun sudah sangat mengenal Via selama ini.


Via yang sudah tidak bisa lagi menolak hanya menganggukkan kepala saja, lalu mereka semua pergi ke mall untuk mengajak Yara jalan-jalan.


Untuk sejenak Via melupakan semua masalah yang sedang dialami, sebisa mungkin dia ikut bersenang-senang dengan Yara yang tampak sangat bahagia di atas wahana bermain anak.


Beberapa jam kemudian, Mahen yang sedang memimpin rapat dengan para pemegang saham mendapat panggilan dari petugas keamanan yang menjaga kompleks rumahnya.


Dia membiarkan panggilan itu karena masih berada di tengah rapat, dan menyimpan ponsel itu ke dalam saku jasnya.


"Tahun ini kenaikan harga saham kita sangat signifikan sekali, Tuan. Kami berharap semoga tahun depan kita bisa mencapai angka maksimal."


Mahen tersenyum senang dengan hasil yang karyawannya laporkan. "Tentu saja semua itu bisa terjadi, apalagi saat ini sudah ada Vano yang akan terjun langsung untuk mengamati indeks pasar saham." Dia menunjuk ke arah Vano yang hanya diam di tempat itu.

__ADS_1


"Anda benar, Tuan. Saya harap kemampuan Tuan Vano sama seperti kemampuan Anda, atau kalau bisa malah lebih lagi."


Ucapan dari salah satu pemegang saham itu disetujui oleh semua orang, padahal mereka tidak tau kalau selama ini Vano lah yang selalu memberikan ide-ide cemerlang pada Mahen.


"Tentu saja, saya akan menunjukkannya pada kalian semua." Vano tersenyum tipis sambil melihat ke arah Mahen yang sedang mengembangkan senyumannya.


Setelah selesai, semua orang bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan Vano dan Mahen yang masih betah berada di sana.


"Jangan tersinggung dengan ucapan mereka, Van. Mereka hanya tidak tau kalau selama ini kaulah yang banyak menyelesaikan masalah di perusahaan." Mahen takut kalau Vano merasa tersinggung, adiknya itu tipekal laki-laki yang gampang sekali marah.


"Aku tidak tersinggung, Kak. Yang mereka katakan benar, aku harus banyak belajar dan berlatih."


Mahen menganggukkan kepala lalu menepuk bahu Vano, tangannya sibuk mengambil ponsel yang sedang bergetar dalam saku.


"Kenapa dia terus-terusan meneleponku sih?" Mahen segera mengangkat panggilan itu dengan kesal.


"Halo Tuan, saya Mardi petugas keamanan di kompleks rumah Tuan,"


"Maaf Tuan, saya melihat ada beberapa orang yang membereskan barang-barang di rumah Tuan. Apa Tuan akan pindah rumah?"


Mahen mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"


Vano yang akan beranjak keluar tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar ucapan Mahen.


"Ya, Tuan. Pak RT minta tolong pada saya untuk menanyakannya pada Anda, karena sebentar lagi ada sensus penduduk. Jika Anda pindah rumah, itu berarti-"


Tut. Mahen langsung mematikan panggilan itu dengan kesal, jawaban dari perugas keamanan itu tidak nyambung dengan apa yang dia tanyakan.


"Ada apa, Kak? Kenapa kau panik seperti itu?" tanya Vano.


"Kakak mau pulang dulu, Van. Kau bisa menghendel pertemuan dengan Tuan Borin, kan?" tanya Mahen, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Vano.


"Bagus, Clara akan menemanimu nanti." Mahen menepuk bahu Vano dan segera beranjak pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Ya, saat ini Clara sudah naik menjadi sekretaris pribadi Mahen. Tentu saja atas kerja keras dengan membuka lebar kedua kakinya, dan memberi kepuasan untuk laki-laki itu.


"Clara? Hem ... mari kita lihat, seperti apa jal*angmu itu." Vano ikut keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah ruangan Mahen.


Dia membuka pintu ruangan yang ada di hadapannya, membuat seorang wanita yang sedang duduk di depan komputer langsung mendongakkan kepala.


"Tu-Tuan Vano?" Clara segera berdiri untuk menyambut kedatangan laki-laki itu, dia sedikit membenahi pakaiannya agar tidak berantakan.


Vano memperhatikan penampilan Clara dari atas sampai bawah, dan terus seperti itu hingga Clara merasa sangat gugup.


"Tidak lebih cantik dari Via."


Clara mematung saat mendengar ucapan Vano, dia yang tadi menunduk kini beralih melihat ke arah laki-laki itu. "Maaf Tuan?"


"Aku yang akan bertemu dengan Tuan Borin, siapkan berkas-berkasnya." Vano berbalik dan segera keluar dari ruangan itu.


Clara tercengang saat mendengar ucapan Vano, dia yakin kalau tadi laki-laki itu sedang menilai penampilannya, dan membandingkan dengan Via. "Cih, aku jauh lebih cantik dan seksi dari wanita kampung itu. Tapi, kenapa Vano terlihat sangat tampan dan gagah sekali? Dia jauh lebih sempurna dari Mahen."


Baru kali ini Clara berhadapan langsung dengan Vano, karena memang mereka tidak pernah berada dalam satu pekerjaan yang sama.


Sementara itu, Mahen yang baru sampai di rumah sangat terkejut saat melihat ada 4 buah koper besar yang sudah berada di halaman rumahnya.


"Apa-apaan ini?"


Riani, Via dan beberapa pembantu yang ada di sana terlonjak kaget saat mendengar suara baritone seseorang.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2