
Semua orang terkejut dengan apa yang akan Clara lakukan, dan lebih terkejut lagi saat Via mencekal tangan wanita itu sebelum mendarat diwajah Riani.
"Lepaskan tanganku!"
"Manusia diberi mulut oleh Allah untuk berbicara saat ada sesuatu, dan bukannya langsung memakai kekerasan seperti seekor hewan."
Wajah Clara kian memerah saat mendengar ucapan Via, dengan cepat dia menarik tangannya sampai cekalan wanita itu terlepas.
"Beraninya kau mengatai aku hewan? Dasar wanita kampung!"
"Kau-"
Via menahan Riani yang sudah akan menyerang wanita itu, dia tidak mau membuat keributan di tempat usaha orang lain.
"Maaf Nona, apa yang sedang terjadi?" Tiba-tiba seorang lelaki mendekati mereka, dialah manager yang ada di restoran ini.
"Usir wanita itu, Pak. Dia sudah membuat keributan di sini." Riani menunjuk tepat ke arah Clara.
"Apa kau bilang?"
"Hentikan, Nona. Tolong jangan membuat keributan di tempat ini, atau saya terpaksa mengusir kalian semua dari sini!" Manager itu memberikan teguran keras, karena apa yang mereka lakukan sudah mengganggu pelanggan yang lain.
Via menghembuskan napas kasar dan langsung mengajak Riani dan Yara untuk pergi dari tempat itu, dia lalu melirik ke arah Vano yang juga sedang melihatnya. "Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, Vano? Apa kau sengaja mempertemukan aku dan wanita itu?" Dia lalu memalingkan wajah saat melihat senyum tipis di bibir laki-laki itu.
"Benar, pergi saja kalian. Dasar wanita kampung!" Lagi dan lagi Clara mengeluarkan suara, sepertinya dia tidak ingat kalau saat ini masih ada Vano di tempat itu.
"Kami bukan-"
"Wanita kampung terkadang bisa lebih menjaga harkat dan martabatnya dibandingkan yang lain," potong Via dengan mengulas senyum, dia sedikit geram karena sejak tadi Clara mengatainya dan Riani wanita kampung.
"Apa? Hahahah, kau lucu sekali. Pantas suamimu tidak betah bersamamu, dan memilih bersama wanita lain."
"Alhamdulillah, itu pertanda bahwa Allah masih sangat menyayangiku dengan menjauhkan seorang laki-laki yang tidak baik," balas Via dengan santai, membuat Clara langsung bungkam.
"Cih, memang jaman sekarang pelakor itu semakin di depan!" Riani langsung menggendong Yara dan menarik tangan Via untuk pergi dari tempat itu, sementara orang-orang yang mendengar ucapannya mulai bisik-bisik tetangga.
Clara tersenyum sinis melihat kepergian mereka, dia lalu mengibaskan rambutnya dengan bangga seperti sedang iklan shampo.
"Cih, jadi wanita itu pelakor?"
__ADS_1
"Pantas saja gayanya selangit. Aku yakin dia pasti merebuat suami dari wanita berhijab tadi, menjijikkan!"
Clara langsung menatap tajam ke arah orang-orang yang baru saja bergosip ria, lalu berbalik dan pergi dari tempat itu.
Vano yang masih setia menjadi penonton terkekeh dengan apa yang baru saja terjadi. "Luar biasa sekali mereka. Tapi, Via lumayan juga." Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk mengejar langkah Via.
"Dasar perempuan sinti*ng!" Riani yang sudah berada di samping mobil langsung mencak-mencak, dadanya naik turun karena emosi yang sedang meletup-letup.
"Mama, sinti*ng itu apa?" Yara menarik celana mamanya dengan wajah bertanya-tanya.
"Em ... sinti*ng itu tidak baik, Sayang. Ayo, sekarang kita pergi." Via langsung membuka pintu mobilnya dan membawa Yara masuk ke dalam, sebelum gadis kecil itu semakin mendengar hal yang tidak-tidak.
"Tunggu!"
Via yang sudah akan menutup pintu tarpaksa menghentikan tangannya, dia lalu melirik ke arah Vano yang sedang mendekat.
"Mau apa lagi dia, Vi?" tanya Riani.
Via kembali keluar dari mobil tanpa menjawab pertanyaan Riani, dan berdiri tepat di hadapan Vano.
"Apa kau baik-baik saja?"
Via mengernyitkan kening dengan bingung. "Aku baik-baik saja, dan tidak terluka sedikitpun." Dia memandang Vano dengan tajam. "Lalu, bagaimana denganmu?"
"Apa kau sudah puas dengan tontonan tadi?" Untuk pertama kalinya Via berbicara dengan ketus seperti ini, dia berpikir kalau laki-laki itu sedang bermain-main dengannya.
"Cukup puas." Jawaban Vano berhasil membuat Via tercengang. "Tapi kau jangan salah sangka, aku hanya ingin melihat bagaimana jika kalian berdua bertemu. Bukannya sebentar lagi momen itu akan terjadi?"
"Hah." Via menghembuskan napas dengan kasar. "Kalau gitu terima kasih karna sudah mempertemukan aku dengannya. Permisi, assalamu'alaikum." Dia segera berbalik dan kembali masuk ke dalam mobil.
"Aku kagum dengan jawabanmu."
Via yang sudah menutup pintu kembali melirik ke arah Vano, sementara Laki-laki itu sudah menjauh dari sana.
"Vi, aku merasa ada sesuatu pada adik iparmu itu."
Via lalu mengalihkan wajahnya ke arah Riani. "Apa maksudmu?"
"Entahlah. Aku cuma merasa dia sedang mengujimu, seperti ingin melihat sejauh apa kekuatanmu untuk menghadapi semua ini."
__ADS_1
"Hah, memangnya aku power ranger yang punya kekuatan." Via tergelak sambil menggelengkan kepala.
"Dasar, aku serius tau!" Riani mendengus sebal, lalu melakukan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu.
*
*
*
Beberapa hari kemudian, Via kembali bertemu dengan pengacaranya untuk membahas sidang perdana yang akan diadakan esok hari.
"Semuanya sudah selesai, Nona. Jadi, besok Nona hanya perlu menyiapkan diri untuk hadir di persidangan."
Via menganggukkan kepalanya, dia lalu mengucapkan banyak terima kasih pada pengacara itu.
"Anda tidak perlu berterima kasih, Nona. Ini memang sudah tugas saya, dan Nona Riani meminta agar proses perceraian ini berjalan dengan cepat."
Via menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Lebih cepat malah akan lebih baik, itu akan membuat saya merasa tenang."
"Saya mengerti, Nona. Dan saya dengar, suami anda sudah menyetujui perceraian ini,"
"Ah, iya. Dia sempat mengatakannya, bukankah itu baik?" tanya Via.
"Tentu saja, Nona. Tapi kita harus tetap waspada untuk hal buruk yang mungkin saja terjadi, walaupun kemungkinannya sangat kecil."
Via kembali menganggukkan kepalanya. "Tapi Tuan, apakah akan menjadi masalah jika-"
"Via!"
Via dan Nanda terlonjak kaget saat mendengar teriakan seseorang, sontak mereka langsung melihat ke arah pintu di mana orang tersebut berada.
"A-Ayah?"
Ayah Chandra berjalan cepat untuk masuk ke rumah Riani, di mana Via dan Nanda sedang duduk di ruang tamu.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.