Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 37. Baik, Kita Akan Bercerai!


__ADS_3

Mahen melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, matanya berkilat tajam ke arah semua orang yang ada di tempat itu.


"Bisakah kalian membawa Yara dan menunggu kami di mobil?" Riani melihat ke arah para penbantunya, dan langsung di balas dengan anggukan kepala mereka.


"Apa-apaan semua ini?" tanya Mahen saat sudah berdiri di hadapan Via.


Via menatap Mahen dengan tajam sambil menunggu para pembantu Riani membawa Yara, dia tidak mau anaknya itu mendengar pertengkaran mereka.


"Jawab aku, Via! Apa kau mau pergi-"


"Iya, Mas. Aku memang mau keluar dari rumah ini."


Deg. Mahen mematung saat mendengar ucapan Via, matanya membulat sempurna dengan rahang yang mulai mengeras.


Via lalu beralih ke arah Riani. "Kau bisa menungguku diluar, Rin."


Riani menggelengkan kepalanya, dia tidak akan beranjak dari tempat itu sebelum memberi pelajaran pada laki-laki bajingan itu.


"Kenapa kau terus saja membuat semuanya menjadi rumit, hah?"


Via kembali mengalihkan pandangannya ke arah Mahen, terlihat laki-laki itu sudah mulai dikuasai amarah.


"Kenapa kau malah berniat pergi dari rumah? Apa tidak bisa, satu hari saja kau tidak membuat keributan?"


"Dasar laki-laki tidak tau diri! Seharusnya kau berkaca, kalau kau lah yang sudah membuat keributan, bukan Via."


Mahen menatap Riani dengan tajam. "Tutup mulutmu, kau tidak berhak untuk ikut campur urusan rumah tanggaku!"


"Wah, benarkah?" Riani bersedekap dada di hadapan Mahen, dia tidak memperdulikan ucapan Via yang memintanya untuk diam. "Kalau bukan aku yang ikut campur, lalu siapa? Jal*angmu itu?"


"Kau-"


"Cukup, Hentikan semua ucapan kalian itu," teriak Via, dia lalu beralih ke arah Riani. "aku mohon keluarlah dari sini, Rin. Please!"

__ADS_1


Riani menghembuskan napas kasar. "Baiklah, aku akan menunggu diluar. Tapi kau lihat saja, aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti Via lagi." Dia menunjuk tepat ke wajah Mahen membuat laki-laki itu terkesiap.


Via lalu beranjak ke lemari yang ada di samping sofa, dia membuka cincin pernikahan yang sudah 5 tahun tersemat dijari manisnya dan meletakkan cincin itu ke dalam laci.


Mahen yang melihatnya tentu saja bertambah murka, dengan cepat dia mendekati Via dan menarik lengan wanita itu dengan kuat.


"Sebanarnya apa maumu, Via? Kenapa kau berubah seperti ini?" ucap Mahen dengan tajam, istrinya itu sudah berubah seperti wanita lain dimatanya.


"Setiap orang harus berubah jika tidak dihargai dan dihormati oleh orang lain," jawab Via dengan santai, walaupun lengannya terasa sangat sakit akibat cengkraman laki-laki itu.


"Kau, kau benar-benar terus menguji kesabaranku, Via!" Suara Mahen terdengar bergetar pertanda bahwa dia berusaha untuk menahan emosinya.


"Aku mengujimu? Tidak, kaulah yang menguji dirimu sendiri dengan menghancurkan rumah tangga kita,"


"Rumah tangga kita tidak hancur, Via. Hanya kaulah yang keras kepala dengan melakukan semua ini." Mahen semakin menguatkan cengkramannya sampai wanita itu meringis kesakitan.


"Lepaskan tanganku!"


"Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau menghentikan kegilaan ini!"


"Kau yang berhenti, Mahen! Berhenti menghalangiku dan menggangguku."


Duak. "Aargh." Mahen memekik kesakitan saat lutut Via menghantam tepat ke asetnya yang berharga, tangan yang mencengkram lengan wanita itu langsung terlepas dan langsung memegangi area sensitifnya.


Setelah cengkraman Mahen terlepas, Via langsung mengusap lengannya yang berdenyut sakit. Dia melirik ke arah laki-laki itu yang masih menunduk dengan memegangi senjata negaranya.


"Kau, kau benar-benar wanita kurang ajar!" Mahen berusaha menekan rasa sesak didaerah itu sampai wajahnya merah padam.


"Maaf, aku tidak sengaja." Via mengalihkan pandangannya dan bersiap untuk keluar dari sana.


"Berhenti, atau kau akan menyesal dengan keputusanmu itu, Via!"


Via yang sudah melangkahkan kaki kembali berhenti, dia menoleh ke arah Mahen tanpa membalikkan tubuhnya. "Insyaallah aku tidak akan menyesal." Dia mengulas senyum tipis dan kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Baik, keluar saja kau dari rumah ini. Kau juga meminta ceraikan dariku? Bersiaplah, aku akan menceraikanmu dan membuatmu menyesal telah melakukan semua ini!" teriak Mahen dengan penuh emosi. Persetan dengan wanita si*alan itu, dia tidak akan lagi menjatuhkan harga dirinya untuk mengemis maaf dari Via.


Dia akan menceraikan Via, dan membuat wanita itu menyesal atas keputusan yang telah diambil. "Lihat saja, kau akan bersimpuh dikakiku suatu saat nanti!" Mahen menatap tajam ke arah Via pergi, dia lalu berbalik dan berjalan ke arah dapur.


"Kau tidak apa-apa, Vi?" Riani memegangi tubuh Via yang baru saja keluar dari rumah, dia membawa wanita itu ke mobil di mana sudah ada Yara di sana.


"Mama, mana papa?" tanya Yara dengan bingung, kenapa papanya tidak ikut bersama mereka, pikirnya.


"Yara diam dulu ya Sayang, saat ini mama sedang sakit,"


"Benalkah?" Yara melihat mamanya dengan khawatir, tangan mungilnya itu menyentuh kening Via seolah-olah sedang memeriksa kondisi sang mama.


Via tersenyum sambil memegang tangan Yara, dia lalu mengecup tangan mungil itu dengan terisak. "Ya Allah, beri kekuatan padaku untuk tetap bertahan demi Yara."


"Tante, mama Yala kesakitan."


Riani menganggukkan kepala dengan air mata yang juga menetes di wajahnya. "Yara do'akan mama supaya cepat sembuh ya."


Gadis kecil itu mengangguk dengan antusias, dia lalu menarik tangannya dan langsung menadahkan kedua tangan itu ke atas. "Yaolo, sembuhkan mama Yala Yaolo. Yala enggak mau melihat mama sakit, Yala mau mama sehat."


Via semakin terisak saat mendengar suara Yara, begitu juga dengan Riani dan beberapa pembantu yang ikut merasa sedih dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


Setelah merasa tenang, mereka semua pergi dari tempat itu dengan membawa barang-barang Via dan juga Yara. Saat ini mereka berdua akan tinggal bersama Riani, sampai menemukan tempat yang pas untuk mereka tinggali.


Mahen melihat kepergian mereka dari jendela kamar, tangannya terkepal erat dengan amarah yang sangat besar.


"Kau pasti akan menyesal!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2