Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 63. Kerinduan Yara.


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak sidang putusan perceraian itu, saat ini Via sudah berhasil menata hidupnya dengan ditemani oleh Ibu dan juga putri kecilnya.


Dia juga sudah meminta pada Riani untuk dipindahkan agar tidak menjadi seorang asisten lagi, karena Mira sudah ketahuan melakukan kecurangan padanya. Dia tidak mau hal seperti itu terulang kembali, jadi memutuskan untuk pindah ke bagian penjualan.


"Mama, Yala kangen Papa!"


Sudah sebulan berlalu, dan sejak saat itu Yara sama sekali tidak bisa bertemu dengan Mahen. Seolah-olah laki-laki itu sengaja menghindari mereka.


"Sabar ya, Sayang. Papa pasti masih sibuk," ucap Via. Sebenarnya dia sedih dengan semua ini, tetapi dia juga tidak bisa menghubungi Mahen. "Kalau gitu mama berangkat dulu ya, Sayang. Yara baik-baik di rumah sama nenek."


Gadis kecil itu mengangguk walaupun matanya menggantung mendung. "Tapi, nanti Mama pulangnya bawa papa kan?" Bola matanya menatap Via dengan berkaca-kaca.


Via mengangguk dengan sedih. Bagaimana pun caranya, hari ini dia harus bertemu dengan Mahen. Dia lalu pamit pada sang Ibu untuk segera pergi kerja.


Dalam perjalanan, Via memutuskan untuk menelepon Vano. Dia ingin menanyakan di mana keberadaan Mahen saat ini, karena dia ingin menemui laki-laki itu sebelum mulai bekerja.


"Kak Mahen ada di kantornya. Tapi kau tenang saja, setelah ini aku akan bicara padanya,"


"Tidak perlu, Vano. Aku tau bagaimana hubunganmu dan Mas Mahen sekarang, jadi jangan membuatku semakin merasa bersalah."


Ya, sejak perceraian itu terjadi. Hubungan Mahen dan Vano tentu saja menjadi renggang, walaupun mereka masih sering bersama saat menyelesaikan pekerjaan. Selain itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka.


"Baiklah. Sekarang mungkin kakak sedang tidak sibuk, kau bisa menemuinya," ucap Vano.


Via lalu mematikan panggilan itu dan bergegas untuk menemui Mahen, walaupun suasana di antara mereka pasti akan sangat canggung sekali.


Sesampainya di tempat tujuan, Via langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan.


"Via!"


Langkah Via terhenti saat mendengar panggilan seseorang, tampaklah Vano dan juga papa Adrian di tempat itu.


Via lalu bergegas untuk mendekati mereka. "Assalamu'alaikum, Pa." Via langsung menyalim tangan papa Adrian walaupun hubungan mereka sudah bukan menantu dan mertua lagi.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Via. Bagaimana kabarmu?" tanya papa Adrian dengan ramah.


"Alhamdulillah sehat, Pa. Papa dan mama bagaimana?"


"Ya, tetap seperti ini," jawab papa Adrian, "oh ya, katanya Oma rindu dengan Yara,"


"Be-benarkah, Pa?"


Papa Adrian mengangguk, dia bahkan tidak percaya kalau ibunya bisa sampai rindu dengan Yara.


"Baiklah, nanti malam aku akan mengantar Yara ke rumah Papa," ucap Via kemudian.


"Oh ya, Vano bilang kau ingin bertemu dengan Mahen?"


Via menganggukkan kepalanya. "Benar, Pa. Yara ingin sekali bertemu dengan papanya, dan aku tidak bisa menghubungi Mas Mahen."


"Dasar anak itu, makin lama tingkahnya semakin gila saja. Yaudah, ayo ikut papa!"


Vano yang sejak tadi diam hanya mengikuti mereka saja, sejujurnya dia sangat merindukan Via karena sudah hampir seminggu tidak bertemu dengan wanita itu. "Dia semakin tampak bersinar saja, sekarang. Senyumnya itu semakin menawan."


Sejak bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga, Via memang tampak sangat dewasa dan juga mempesona. Dia yang biasanya terlihat cantik dan juga kalem, kini berubah menjadi dewasa. Tampilannya terlihat modis dan juga anggun walaupun dalam balutan hijab.


Papa Adrian langsung membawa Via untuk bertemu dengan Mahen, yang saat ini sedang berada di ruangan.


Brak.


Mahen yang sedang mengerjakan pekerjaannya langsung melihat ke arah pintu, dan betapa kagetnya dia saat melihat Via ada di depan matanya.


"Via ingin bertemu denganmu, Mahen!" ucap papa Adrian dengan penuh penekanan.


Mahen tersadar dari keterkejutannya saat mendengar suara sang papa. "Aku sedang sibuk, Pa. Kenapa dia tidak bertemu dengan adikku saja?" Mahen tersenyum dengan sinis.


"Jangan terus mengungkit masalah yang sudah lalu, Mahen. Apa yang dilakukan adikmu itu benar, dia tidak-"

__ADS_1


"Ya ya ya, aku tau kalau dia benar. Jadi tolong ajak mereka untuk keluar dari ruanganku, Pa. Aku benar-benar sibuk."


Papa Adrian mengepalkan tangannya dengan kesal, tetapi saat dia ingin kembali bicara. Terlihat Via maju untuk mendekati Mahen.


"Maaf kalau aku mengganggumu, Mas. Aku hanya ingin minta tolong, tolong temui Yara. Dia, dia sangat merindukanmu," mohon Via. Mahen boleh saja membencinya, tapi jangan lakukan itu pada putri kecil yang tidak tau apa-apa.


Untuk beberapa saat Mahen terpaku saat memandang wajah Via. Padahal baru sebulan mereka tidak bertemu, tetapi kenapa seolah-olah wajah wanita itu sangat bersinar dimatanya.


"Aku mohon, Mas. Tolong temui Yara, aku tidak mengharapkan apapun darimu." Via menangkupkan kedua tangan di depan dada membuat Mahen tersadar.


"Kau benar-benar tidak punya pikiran ya, Mahen. Bagaimana mungkin kau tega melakukan ini pada anakmu sendiri, hah?" Papa Adrian sudah tidak bisa lagi tinggal diam. Kalau sampai Mahen menolak keinginan Via, maka dia sendiri yang akan menyeret laki-laki itu untuk bertemu dengan cucunya.


"Bisakah Papa meninggalkanku dan Via berdua saja?" ucap Mahen dengan kesal, dia lalu melirik ke arah Vano seakan-akan mengusir laki-laki itu dari ruangannya.


"Papa akan keluar kalau kau bertemu dengan Yara!"


"Iya iya, nanti aku akan menemuinya." teriak Mahen.


Papa Adrian lalu beranjak keluar dari tempat itu dengan diikuti oleh Vano, walaupun dia sangat enggan sekali untuk meninggalkan Via.


Setelah kepergian mereka, Mahen lalu beralih melihat ke arah Via. "Sepertinya hidupmu sangat baik sejak berpisah denganku ya, Via." Dia memperhatikan tampilan Via dari atas sampai bawah membuat wanita itu merasa risih.


"Mas, kau boleh membenciku. Atau apapun itu, tapi tolong jangan lakukan ini pada Yara. Dia benar-benar sangat merindukanmu," ucap Via, dia bahkan sudah hampir menangis sekarang.


"Baiklah, aku akan menemuinya nanti. Tapi dengan satu syarat."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2