
Ibu Novi langsung melihat ke arah suaminya dengan tajam. "Apa maksudmu bicara seperti itu?" Sorot matanya terlihat sangat menyeramkan saat ini.
"Kenapa kau malah bertanya padaku? Seharusnya kau tanya anakmu itu, bisa-bisanya punya suami lari ke pelukan wanita lain!"
Via menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan, jika ditanya pun dia tidak akan mau semua ini terjadi dalam hidupnya.
"seharusnya kau memberi semangat untuk anakmu, Yah! Bukan mengatakan hal seperti ini, apa kau tidak sadar kalau ucapanmu itu sangat keterlaluan?"
"Lihat, Via jadi perempuan bod*oh karna punya Ibu kayak kau gini!"
Via mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu memandang Ayahnya itu dengan tajam. "Sudah, Yah! Aku tidak mau ada pertengkaran di antara kalian, lagipula semua ini diluar kuasa ku, aku tidak bisa mengendalikan hati suamiku, aku juga tidak bisa menjaganya 24 jam dari wanita lain!"
Ayah Chandra langsung mendessah frustasi melihat apa yang sudah terjadi, dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Jadi, karna itu kau mau cerai dari Mahen?"
Via langsung menganggukkan kepalanya. "Benar, Yah! Aku akan ber-"
"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu!"
Deg. Via dan Ibunya tercengang saat mendengar apa yang ayah Chandra katakan. "Ke-kenapa?" Bibir Via bergetar sambil menatap laki-laki paruh baya itu dengan pilu.
"Kenapa kau bilang? Seharusnya kau sadar kalau selama ini kita hanya menumpang hidup dengannya, jadi jangan sok hebat dengan memutuskan untuk bercerai! Kau mau mati dijalanan?"
Suara Ayah Chandra menggema di tempat itu membuat tubuh Via dan Ibunya terlonjak kaget. "Jadi dengarkan Ayah, kau tidak boleh bercerai darinya! Kau harus mencari cara untuk menyelesaikan masalahmu!"
Genggaman tangan Via semakin menguat dengan debaran jantung yang kian bertambah, tidak, dia tidak bisa melakukan apa yang Ayahnya katakan.
"Maaf, maafkan aku, Yah! Aku tidak bisa lagi bersama dengan Mas Mahen, dia sudan mencintai wanita lain!"
__ADS_1
Rahang Ayah Chandra semakin mengeras dengan gigi yang saling bergesekan, dia tidak akan membiarkan sumber uangnya menghilang begitu saja.
"memang apa salahnya kalau dia mencintai wanita lain, hah?" bentaknya pada Via. "Kau pikir cuma suamimu saja yang melakukan hal seperti itu? Tidak!"
"Cukup, sudah cukup!" Ibu Novi sudah tidak bisa lagi menahan diri mendengar semua perkataan suaminya. "Kau sebagai orangtua seharusnya memahami bagaimana perasaan putrimu, bukan malah menghakiminya! Di mana nuranimu sebagai seorang Ayah?"
"Diam kau, kau jangan ikut campur urusanku dengannya!" Ayah Chandra menunjuk tepat ke arah sang istri. "Aku mengatakan itu karna memikirkannya, memikirkan masa depannya. Mau makan apa dia kalau bercerai dari Mahen?"
"tidak, kau tidak memikirkan Via tapi hanya memikirkan dirimu sendiri saja! Kau tidak mau kehilangan sumber uangmu, karna kau selalu saja meminta uang pada Mahen untuk berjudi!"
"apa? Beraninya kau mengatakan itu!"
"Sudah, cukup!" Untuk pertama kalinya Via meninggikan suaranya pada kedua orangtuanya. "Sudah cukup Ibu, Ayah! Aku tidak mau kalian jadi bertengkar karna aku!" Via memegang tangan Ibunya dengan sendu.
"Pokoknya Ayah tidak akan mengizinkanmu untuk bercerai, seharusnya kau bersyukur punya suami kaya sepertinya. Tidak masalah jika dia bersama wanita lain, toh kau tetap istri sahnya dan punya hak atas semua harta Mahen! Pikirkan masa depanmu dan Yara, juga orangtuamu ini. Mau makan apa kami, kalau kau bercerai dengannya?"
"Cukup, Ayah tidak mau mendengarnya lagi! Kalau kau memang ingin bercerai darinya, maka jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di rumah ini, kau bukan anakku!"
Deg. Via mematung mendengar ucapan Ayahnya, di saat seperti ini. Harus ke mana dia jika tidak kembali pada kedua orangtuanya? "Ayah!"
"Kau ingat itu baik-baik!" Ayah Chandra langsung pergi dari tempat itu dengan kesal, dia harus segera menelpon Mahen agar tidak berpisah dengan Via.
Air mata Via langsung tumpah tidak terkendali melihat apa yang terjadi, dia mengira kalau Ayahnya akan memeluknya dan memberikan semangat untuk segala masalah yang sedang dia hadapi.
Ibu Novi menatap putrinya dengan sedih, dia menarik tubuh Via dan memeluknya dengan erat. "Kau tidak usah memikirkan apa yang Ayahmu katakan, cukup pikirkan keinginan hatimu saja, Nak! Karna apapun yang kau lakukan, Ibu akan selalu mendukungnya!"
"Ibu, huhuhu! Maafkan aku!"
__ADS_1
"Sstt, kau tidak bersalah, Nak! Semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa, kau harus menerimanya dengan berlapang dada!" Ibu Novi mengusap puncak kepala Via dengan lembut.
"aku tau, Bu! Tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali, aku, aku merasa tidak kuat untuk menghadapinya!"
"Nak, setiap ujian yang Allah berikan itu pertanda bahwa Dia sangat menyayangimu. Dia ingin menaikkan derajatmu sebagai hamba Allah yang taat dan sabar, yakinlah, Nak! Allah sudah menyiapkan sesuatu yang sangat luar biasa jika kau bisa melewati semua cobaan ini!"
Via menganggukkan kepalanya dengan lemah, dia tetap memeluk Ibunya dengan erat untuk memberi semangat padanya.
"Ka-kalau gitu aku pulang dulu, Bu! Aku akan menghubungi Ibu jika sudah mengajukan gugatan ke pengadilan!"
Ibu Novi menganggukkan kepalanya. "Kau hati-hati ya Nak, jaga kesehatan. Kau tidak boleh sakit ataupun lemah, kau harus tetap kuat seperti Via yang biasanya. Kau tidak perlu memikirkan Ayah dan Ibu, cukup pikirkan kebahagiaanmu dan Yara!"
Via menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk sang Ibu, dia bersyukur punya Ibu yang sangat mengerti akan apa yang sedang dia rasakan.
Setelah itu, Via memutuskan untuk kembali ke rumah Riani. Dia harus menjemput Yara sekaligus mengurus perceraiannya dengan Mahen.
Dia sudah tidak bisa lagi untuk mundur walaupun putrinya akan kehilangan sosok Ayah, mungkin itu akan lebih baik daripada bersama tetapi akan ada hati lain di antara mereka.
"Ya Allah, aku tau kalau semua ini adalah ujian dariMu. Tapi aku mohon ya Allah, berikanlah kekuatan padaku supaya aku bisa menghadapi semuanya!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1