
Mahen merasa tertohok saat mendengar ucapan Vano, secara tidak langsung laki-laki itu sedang menyindirnya saat ini.
"Ayolah, Van! Kau tidak mengerti dengan apa yang sedang ku rasakan!" Mahen menghela napas berat, padahal dia sendiri yang membuat semuanya menjadi rumit.
Vano hanya diam sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, tiba-tiba kata-kata yang diucapkan Via tadi melintas dalam pikirannya.
"Ayo kita ke klub, Van! Aku ingin menghilangkan semua masalah ini!"
Vano langsung menatap kakaknya itu dengan tajam. "Ini masih siang!"
"Ah, tidak ada bedanya mau siang atau pun malam. Ayo!" Mahen langsung saja merangkul tubuh Vano dan membawanya keluar dari rumah itu, kemudian mereka berdua segera pergi ke klub untuk bersenang-senang.
Pada saat yang sama, Via baru saja sampai di rumahnya. Suasana hening dan hampa menyambut kedatangannya, tetapi mulai sekarang dia harus terbiasa dengan semua itu.
Via membaringkan tubuh Yara yang sedang tidur di atas ranjang, dia mengecup kening putrinya itu lalu beranjak keluar dari sana.
Kini, tinggallah dia sendiri berteman sepi. Setiap sudut rumahnya ini mengingatkannya dengan Mahen, sekaligus dengan semua perbuatan yang telah laki-laki itu lakukan.
Via mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga, kepalanya mendongak ke atas untuk menatap langit-langit ruangan itu.
Segala ingatan tentang Mahen mulai berlarian dalam kepalanya, mulai dari pertama kali mereka bertemu sampai memutuskan untuk menikah. Momen itu sangat berarti untuknya, itu adalah kenangan terindah selama hidupnya.
Namun, sekarang semua kenangan itu sudah hancur berantakan. Laki-laki yang sangat dia cintai tega menghancurkan hatinya, suaminya sendiri tidak menghargai cinta yang selama ini dia berikan. Bahkan suaminya itu tidak menghormati ikatan suci pernikahan di antara mereka.
Lalu, untuk apa lagi dia bertahan? Untuk siapa lagi dia berjuang, jika seseorang yang menjadi harapannya kini sudah berpaling arah.
Tinggallah dia sendiri di sudut malam, yang hanya bisa menangisi semuanya. Berharap kalau hari esok akan baik-baik saja, tapi kenyataan yang terjadi malah membuatnya jatuh dalam pusara penderitaan.
Sudah cukup, semua sudah cukup sekarang. Sebesar apapun cintanya tidak akan bisa mengubah fakta bahwa suaminya telah bersama wanita lain, dan cintanya juga tidak bisa membuatnya bertahan. Keputusannya sekarang sudah tepat, dia akan mengakhiri segalanya walaupun rasa sakit terasa melummat seluruh hidupnya.
__ADS_1
Sekarang dia harus lebih menguatkan hati untuk perpisahan yang terjadi, apalagi sudah ada putrinya yang pasti akan terluka dengan keputusan ini.
"Yara, mari kita hidup berdua, Nak!"
Ya, kehidupan tidak akan berhenti hanya karna dia berpisah dengan Mahen. Dia harus membuka lembaran baru di atas puing-puing kehancuran, dan berusaha untuk menutup luka yang disebabkan oleh laki-laki itu.
Riani yang baru saja pulang dari luar negeri memutuskan untuk langsung ke rumah Via, dia merasa khawatir karna sudah 2 hari tidak mendengar kabar dari sahabatnya itu.
Dengan menenteng beberapa paper bag yang ada di tangannya, Riani melangkah lebar ke rumah Via dan langsung mengetuk pintu rumah itu.
Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan tampaklah Via yang sedang menatapnya kaget. "Riani?"
Riani langsung memeluk tubuh Via saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya, dia senang karna sahabatnya itu baik-baik saja.
"Wah, kau baru pulang? Ayo, masuk!"
"Bagaimana perjalananmu, Rin? Semuanya lancarkan?"
Riani menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Alhamdulillah lancar, Vi! Insyaallah bulan depan aku mau buka cabang di sana!"
"Diluar negeri?" Via merasa terkejut dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu.
"Iya, heheh! Ada temanku yang mau kerja sama bareng, jadilah aku buka di sana!"
Via tersenyum bangga dengan keberhasilan sahabatnya itu. "Aku sangat senang mendengarnya, Rin! Aku selalu berdo'a untuk kesuksesanmu!"
"Aamiin, kau memang yang terbaik!" Riani menggenggam kedua tangan Via dengan erat. "Tapi, bagaimana denganmu, Vi? Apa kau baik-baik saja?" Sebenarnya sejak tadi dia ingin menanyakan ini pada Via, karna wajah wanita itu terlihat sangat pucat dengan mata sembab.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Rin!" Via berusaha keras untuk menahan air matanya yang ingin meluncur bebas.
__ADS_1
Riani langsung memeluk tubuh Via yang memandangnya dengan sendu, dia tau kalau sahabatnya itu pasti sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Katakan padaku, Vi! Katakan apa yang terjadi, dan jangan menyimpan semua lukamu itu!"
Mendengar ucapan Riani, sontak membuat air mata Via mengalir deras. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan wanita itu, karna memang inilah yang sedang dia butuhkan.
"Menangislah, luapkan semua rasa sakitmu itu!" Riani semakin mengeratkan pelukannya seolah-olah sedang mengatakan kalau dia akan selalu bersama Via.
Setelah puas menangis, Via lalu menceritakan semua yang sudah terjadi pada temannya itu. Dia juga mengatakan perihal keputusannya untuk bercerai, karna memang sudah tidak kuat untuk bertahan.
"Dia benar-benar laki-laki brengs*ek! Tidak ada laki-laki lain yang serendah Mehen, yang dengan gampangnya memainkan hati seorang wanita!" Riani ikut terpukul dengan apa yang Via alami, dia tau benar bagaimana rasa sakit yang sedang dirasakan oleh wanita itu.
"Kalau kau sudah yakin untuk bercerai, maka aku akan mengurus segalanya, Vi! Sebenarnya aku senang dengan pilihanmu ini, lebih baik berpisah dari pada bersama tapi bermandikan luka!"
Via menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Rin! Aku akan segera memberitahukan masalah ini pada Ayah dan Ibu, aku harap mereka akan mendukung keputusanku ini!"
"Tentu saja Paman dan Bibi akan mendukungmu, Vi! Karna apa yang kau lakukan ini sudah benar!"
Via kembali menganggukkan kepalanya, semoga saja yang dikatakan oleh Riani itu benar. Jadi dia bisa segera melayangkan gugatan ke pengadilan agama.
"Ayah, Ibu! Aku berharap kalian mau mendukung keputusanku untuk berpisah!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1