
Via terdiam saat mendengar ucapan Vano. Lidahnya terasa kaku, dan suaranya seakan tercekat di tenggorokan.
Mama Camelia melepaskan pelukannya dari tubuh Mahen, lalu beralih mendekati Via. Dia tahu jika wanita itu pasti merasa bersalah saat ini, apalagi Via adalah seorang wanita yang lembut dan tidak tegaan.
"Kenapa menangis, Via? Hari ini adalah hari kebagiaanmu dan Vano, mama dan papa akan datang ke apartemen untuk melamarmu."
Via semakin terisak dengan apa yang mama Camelia katakan. "Maafkan aku, Ma. Maafkan aku."
"Kenapa kau minta maaf? Kau tidak salah apapun dalam hal ini, Via." Mama Cemelia mengusap air mata Via yang sejak dulu tidak pernah dia lakukan.
"Aku, aku wanita yang sangat egois. Seharusnya aku tidak melakukan ini, aku tidak menghancurkan perasaan semua orang. Aku tidak-"
"Hey, Via. Apa yang kau katakan? Kau tidak menghancurkan perasaan siapapun, tapi kau malah membahagiakan perasaan kedua putraku."
Via mendongakkan kepalanya dan menatap mama Camelia yang melihatnya dengan tersenyum.
"Dengar, Via. Mama tau apa yang kau rasakan saat ini, tapi semua itu tidak benar. Seperti apa yang Mahen katakan, semua ini sudah kehendak Allah, Allah lah yang menyatukanmu dan Vano. Sekuat apapun kita menentang, tapi jika Allah sudah berkehendak. Maka semua akan terjadi sesuai dengan jalan takdir, dan kau tidak boleh merasa bersalah atau apapun itu."
Via menatap dengan sendu. "Tidak, Ma. Semua karena keegoisanku, aku tidak-"
"Hentikan, Via. Apa kau tidak merasa kasihan dengan Vano?"
Via memgernyitkan keningnya lalu beralih melihat Vano yang juga sedang melihat mereka.
"Kau tidak lihat lingkaran hitam di bawah matanya itu? Dia tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu, dan setiap hari selalu merindukanmu. Dia sangat tersiksa dengan semua itu."
Vano menatap mamanya dengan kesal. Bagaimana tidak? Mamanya itu memfitnahnya habis-habisan. Memang sih, dia memikirkan Via. Namun, tidak berlebihan seperti apa yang mamanya itu katakan.
Paoa Adrian dan Mahan hanya menggelengkan kepala mereka saja. Tentu mereka sudah tahu jika mama Camelia mengarang semua itu.
__ADS_1
Sementara itu, Via menatap Vano dengan tidak percaya. Dia juga tidak menyangka jika Vano sampai seperti itu.
"Dia juga pergi karena terpaksa, Via. Jadi, maukah kau menikah dengan Vano?" tanya Mama Camelia membuat semua orang tersentak kaget, terutama Vano.
"Mama. Kenapa malah mama yang mengatakan semua itu, aku kan ingin mengatakannya sendiri." Vano merasa kesal, dan juga tidak terima.
Papa Adrian dan Mahen tergelak dengan apa yang Vano katakan, begitu juga dengan Mama Camelia.
Akhirnya keberangkatan Vano terpaksa ditunda dan mereka semua kembali ke rumah masing-masing, sementara Via juga kembali ke apartemennya dengan Yara.
***
Sesampainya di rumah, Vano kembali masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar, karena tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Mahen sendiri sedang duduk di balkon kamarnya. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan menatap langit yang mulai mendung.
Air mata kembali menetes dari kedua matanya. Sungguh, hatinya terasa sangat sakit saat ini. "Aku tidak menyangka jika rasa sakitnya sampai seperti ini, ya Allah. Apa Via dulu juga merasakannya, saat aku bersama dengan Clara?" Mahen menghela napas kasar.
Pada saat yang sama, Via berjalan gontai untuk masuk ke dalam apartemen. Terlihat Ibu Novi belum pulang, sementara Yara sedang tertidur dalam gendongannya.
Via membaringkan Yara di atas ranjang, setelahnya dia berjalan ke arah balkon dengan menyeret tubuhnya yang terasa lemas.
Dia mendudukkan tubuhnya kekursi, dan tidak lama cuaca mendung berubah menjadi rintik hujan.
Via memejamkan kedua matanya dan mendengarkan setiap rintik hujan yang terasa menenangkan. Sampai akhirnya air mata kembali menetes membasahi wajah.
"Ya Allah, apakah semua ini benar-benar takdir yang sudah Kau gariskan? Atau hanya keegoisanku saja yang mencintai Vano?" Dia kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu
"Sungguh aku tidak ingin menyakiti siapapun, ya Allah. Baik mas Mahen dan juga Vano, aku tidak ingin memberikan luka di hati mereka. Tidak seharusnya aku jatuh cinta dengan Vano, hingga semua ini terjadi." Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku mohon tunjukkan jalan kebenaran, ya Allah. Tunjukkan segala kebaikan untukku, untuk mas Mahen, dan juga untuk Vano." Via kembali memejamkan kedua matanya.
****
Malam harinya, suasana tampak seperti biasa saja di rumah Vano. Mereka belum membahas masalah yang terjadi pagi tadi karena butuh waktu untuk berpikir.
Setelah selesai makan malam, Vano beranjak mengikuti Mahen yang akan kembali masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Vano? Kenapa kau mengikuti kakak?" tanya Mahen.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak," ucap Vano. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam kamar Mahen.
Mereka duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangan itu. "Ada apa, Vano? Apa kau ingin bicara tentang Via?"
Vano langsung menganggukkan kepalanya, tentu saja Mahen tahu apa yang ingin dia katakan. "Aku tau kalau kakak masih mencintai, Via. Dan aku juga merasa tidak sanggup untuk menikah dengannya jika-"
"Kakak baik-baik saja, Vano," potong Mahen dengan cepat. "Yang kau katakan memang benar, aku masih mencintai Via. Tapi kisah kami sudah berakhir, dan kini saatnya antara kau dan juga Via. Kakak ikhlas, Vano. Kakak ikhlas melihatmu bahagia bersamanya, dan kakak juga ingin melihat Via bahagia bersamamu."
Vano menatap Mahen dengan sendu, dia lalu beranjak bangun sambil menarik tangan Mahen lalu memeluk tubuhnya.
"Terima kasih, Kak. Sejak dulu kau selalu baik dan mementingkan keinginanku, dan maafkan aku jika menyakiti hatimu,"
"Ayo, kita membuka lembaran baru! Kakak yakin kalau kita semua pasti akan bahagia."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.