Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 41. Firasat Seorang Anak.


__ADS_3

Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di rumah sakit. Dokter dan beberapa perawat langsung membawa Via ke dalam ruang UGD agar bisa segera ditangani.


"Hah." Nanda mendudukkan tubuhnya ke kursi yang ada di depan ruang UGD, sementara pembantu yang bersamanya tadi sudah pamit pulang.


Riani yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit merasa sangat khawatir, apalagi saat pembantu memberitahu kalau banyak darah yang keluar dari kepala Via.


"Aku harap Via baik-baik saja, ya Allah." Riani semakin menekan pedal gasnya agar cepat sampai di tempat tujuan.


Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di rumah sakit dan langsung berlari ke meja resepsionist.


"Tolong beritahu di mana teman saya berada. Dia baru saja datang ke rumah sakit dengan luka di kepala, namanya Via." Riani langsung saja mengatakan apa yang dia inginkan.


"Nona Via masih berada di UGD, Nona. Ruangannya ada diujung lorong ini,"


"Baiklah, terima kasih banyak." Riani langsung berlari ke tempat yang ditunjuk oleh resepsionis dan melihat Nanda sedang duduk diujung lorong.


"Tuan Nanda!"


Nanda langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, dia lalu beranjak bangun saat Riani berlari ke arahnya.


"Ba-bagaimana keadaan Via? Apa, apa dia baik-baik saja?" tanya Riani dengan napas tersengal-sengal akibat berlari, wajahnya bahkan sudah memerah saat ini.


"Duduk dulu." Nanda menyuruh Riani untuk duduk, dan wanita itu mengikuti apa yang dia katakan. "Dokter masih memeriksanya, semoga dia baik-baik saja."


"Aamiin." Riani langsung mengaminkan ucapan Nanda, semoga apa yang laki-laki itu ucapkan menjadi kenyataan. "Oh ya, apa saya boleh bertanya tentang apa yang sudah terjadi pada Via?" Riani harus tau apa yang sudah terjadi sampai-sampai temannya itu masuk rumah sakit.


Nanda menganggukkan kepala lalu menceritakan semua yang sudah terjadi, tidak lupa dengan permintaan tidak masuk akal dari ayah Chandra.


"Dasar sint*ing! Apa dia itu tidak punya otak, sampai melakukan hal seperti ini pada putri kandungnya sendiri?" ucap Riani setelah Nanda selesai menceritakan apa yang terjadi, dia merasa sangat emosi dengan apa yang ayah Chandra lakukan.


"Apa sejak dulu ayahnya memang seperti itu?" tanya Nanda.


"Entahlah, aku tidak tau. Yang pasti paman Chandra itu suka sekali berjudi, aku yakin dia tidak mengizinkan Via bercerai karna tidak mau kehilangan uang Mahen," jawab Riani.

__ADS_1


Nanda menganggukkan kepalanya, kini dia tau kalau ayah Via sepertinya sering meminta uang pada suami wanita itu.


Tidak berselang lama, seorang Dokter keluar dari ruang UGD membuat Nanda dan Riani langsung beranjak dari kursi.


"Bagaimaan keadaan teman saya, Dokter? Dia baik-baik saja kan?" tanya Riani.


"Keadaan pasien baik-baik saja, Nona. Kami sudah menjahit luka yang ada di pelipisnya sebanyak 7 jahitan. Tetapi saat ini pasien masih sangat lemah karena banyaknya darah yang keluar, jadi dia butuh tambahan darah dan juga banyak istirahat."


Riani dan Nanda bernapas lega saat mendengarnya, kemudian para perawat membawa Via ke ruang perawatan.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Vi. Hampir saja jantungku copot karna khawatir denganmu." Riani menggenggam tangan Via yang ada di atas perut.


Setelah memastikan keadaan Via baik-baik saja, Nanda segera permisi untuk kembali ke kantor. Dia harus mengurus perceraian Via secepat mungkin, karena merasa tidak tega dengan apa yang wanita itu alami.


Riani tetap setia berada di samping Via sampai wanita itu sembuh, dia juga berharap agar Via segera sadar saat ini.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Yara sedang bersama dengan mama Camelia. Wanita paruh baya itu sengaja menelpon Via karna merasa rindu dengan Yara, lalu menjemput cucunya itu ke rumah Riani.


"Oma, Yala mau sama mama."


Yara langsung menganggukkan kepala, saat ini dia ingin sekali bersama dengan mamanya padahal tadi pagi dia bilang ingin pulang malam.


Mama Camelia sendiri sudah tau kalau Via dan Yara sudah keluar dari rumah, karena tadi pagi wanita itu sendiri yang mengatakan padanya.


"Biar aku saja yang ngantar Yara, Ma!"


Mama Camelia dan Yara langsung melihat ke arah pintu. "Om Pano!" Yara berlari untuk menghampiri laki-laki itu.


"Kau sudah pulang, Vano?"


Vano menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu Om ganti baju dulu ya, abis itu kita pulang."


Yara mengangguk dengan sangat antusias sekali, seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan sang mama.

__ADS_1


"Via sudah tidak tinggal di rumah itu, Van!"


Vano yang sudah akan menaiki tangga terpaksa berhenti. "Maksud Mama?" Dia melihat mamanya dengan bingung.


"Dia dan Yara sudah keluar dari rumah Mahen, sekarang mereka tinggal bersama dengan Riani," jawab mama Camelia.


Vano terdiam di tempatnya karna merasa sedikit kaget, tetapi sesaat kemudian dia menyunggingkan senyum tipis. "Baguslah kalau sudah keluar dari rumah, lagipula untuk apa lagi mereka tinggal dirumah yang sama."


"Hey, kok malah bengong." Mama Camelia menepuk bahu Vano membuat laki-laki itu terlonjak kaget.


"Aku mau ganti dulu, nanti Mama bisa kirim alamatnya padaku." Vano segera berbalik dan menaiki tangga menuju kamar.


Mama Camelia melihat Vano dengan heran, tetapi dia tidak mau ambil pusing dan memilih untuk kembali bersama Yara.


Setelah semuanya selesai, Vano segera mengantar Yara untuk pulang ke rumah wanita bernama Riani.


"Om Pano, kenapa papa enggak mau main sama Yala lagi?"


Vano yang sedang fokus menyetir, sekilas melihat ke arah Yara, lalu kembali melihat lurus ke depan. "Bukan enggak mau, Sayang. Papa Yara sedang sibuk."


"Sibuk? Tapi, kenapa papa enggak ikut Yala sama mama?" Yara kembali bertanya, dia bingung kenapa saat ini papanya sangat jarang sekali terlihat.


"Kan udah Om bilang kalau Papa Yara itu sibuk. Jadi, kalau Yara mau main. Main sama om aja ya, pasti seru."


Wajah yang tadi cemberut kini berubah jadi ceria. "Mainnya sama mama juga?"


"Tentu saja, nanti Om bakal mainin mama Yara."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2