
Tut. Mama Camelia langsung mematikan panggilannya, dia yakin kalau putranya itu pasti akan kebingungan dengan apa yang dia katakan tadi.
Sementara itu, Mahen dan Via saat ini sudah sampai di rumah. Mereka duduk di ruang keluarga dengan saling berhadapan, persis seperti beberapa hari yang lalu.
"Sayang, tolong dengarkan ucapan-"
Via mengangkat tangannya karna tidak mau mendengar ucapan Mahen, dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Baginya semua ini sudah cukup, rasa cintanya kini juga sudah tidak tersisa lagi.
"Aku tidak peduli dengan apa yang Mas lakukan, terserah Mas mau punya anak atau pun menikah dengan Clara. Semua itu hak Mas, jadi aku tidak akan melarangnya!"
Mahen terdiam mendengar ucapan Via, dia tau kalau wanita itu pasti sudah sangat kecewa padanya. Namun, dia juga tidak bisa melakukan apapun saat ini.
"Mari kita bercerai!"
Deg. Untuk sekali lagi Mahen mendengar kata cerai keluar dari mulut Via membuat tubuhnya beranjak bangun untuk mendekati wanita itu.
"Berhenti, aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulutmu, Mas!" Melihat Mahen mendekatinya, tentu membuat Via langsung beranjak dari tempat itu. "Aku katakan sekali lagi, aku ingin kita-"
"cukup, cukup Via!" bentak Mahen dengan rahang yang mengeras membuat Via terkesiap, wanita itu sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menceraikanmu! Suka atau tidak, kau harus menerima keputusanku ini!"
Via tersenyum sinis mendengar ucapan Mahen, dia yakin kalau saat ini laki-laki itu pasti sudah gila.
"kau akan tetap menjadi istriku sampai kapan pun, karna aku masih mencintaimu!"
"Hentikan omong kosongmu itu, Mas! Cinta cinta cinta, selalu saja kau mengatakan cinta. Padahal kau sendiri tidak tau apa arti dari sebuah cinta, dan kau tidak pantas untuk dicintai!" Via benar-benar baru sadar kalau suaminya sudah jauh berubah, atau memang selama ini dia tidak mengenal sifat asli dari laki-laki itu.
"Terserah kau mau mengatakan apa, Sayang! Yang pasti aku tidak akan pernah menceraikanmu, dan jangan lupa! Jika kau memaksa bercerai, akan ku pastikan kalau Yara jatuh ke tanganku!"
Deg. Tubuh Via langsung menegang sempurna saat mendengar ucapan Mahen, sementara laki-laki itu sudah pergi keluar entah ke mana.
__ADS_1
Bruk!
Tubuh Via kembali terjatuh di atas lantai dengan tangis yang tidak bisa lagi ditahan, sungguh Mahen sangat tidak berperasaan padanya.
Bagaimana mungkin laki-laki itu tega mengambil putri semata wayangnya? Walaupun Mahen adalah ayah kandung Yara, tetapi dia adalah Ibu yang sudah merawat dan menyayangi Yara dengan sepenuh hati.
"Tidak, aku tidak boleh seperti ini! Aku harus kuat demi Yara, aku harus segera berpisah darinya!"
Via berusaha untuk bangun dan berjalan ke lantai 2 untuk masuk ke dalam kamar, dia segera mencari buku nikah serta surat-surat lain yang selama ini dia simpan.
Tanpa sepengetahuan Mahen, selama ini Via menanamkan saham disebuah perusahaan yang bergerak dibidang fashion. Dia berniat untuk memberi kejutan pada suaminya jika saham yang dia miliki sudah mencapai 10%, walaupun saat ini masih diangka 7%.
Namun, semua mimpinya itu hanya tinggal kenangan saja. Sekarang dia hanya bisa menatap surat perjanjian yang ada ditangannya dengan pilu, dan bergegas memasukkannya ke dalam tas.
Selama ini Via memang hanya sibuk di rumah saja, tetapi dia selalu mengamati pergerakan pasar saham. Dia bahkan berniat untuk menanamkan saham di perusahaan yang bergerak dibidang perhiasan, walaupun keinginannya itu belum tercapai.
Dulu Via memang sempat mengenyam bangku kuliah sampai mendapat gelar D-III, itu sebabnya dia tau mengenai saham walaupun tidak semahir orang lain.
****
Keesokan harinya, Via segera berangkat ke rumah mertuanya untuk menjemput Yara. Dia tidak melihat keberadaan Mahen di rumah, dan sudah tidak peduli di mana laki-laki itu berada saat ini.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa!" Via melangkahkan kakinya untuk memasuki dapur karna memang kedua mertuanya sedang menikmati sarapan.
"Wa'alaikum salam, Via! Kau sudah sarapan?"
Via menganggukkan kepalanya. "Sudah, Ma! Mama dan Papa lanjut saja sarapannya, aku mau melihat Yara dulu!"
"Dia sedang bersama Mahen!"
Deg. Via yang sudah akan berbalik terpaku di tempatnya berdiri saat ini, dia lalu melihat kedua mertuanya dengan tajam.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin Mama dan Papa bicarakan denganmu, tunggu saja di ruang tengah!"
Via meremmas kedua tangannya dengan erat, dia yakin kalau Mahen pasti sudah mengatakan sesuatu pada kedua mertuanya itu. "Ba-baik, Ma!" Apapun itu dia tidak bisa membantah ucapan mertuanya, dengan cepat dia berjalan ke arah ruang tengah.
Setelah beberapa saat, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Namun, tidak ada Mahen di tempat itu membuat Via bertanya-tanya dengan heran.
"Apa kau baik-baik saja, Via?"
Via terlonjak kaget saat tiba-tiba Mama Camelia menyentuh tangannya. "Aku, aku baik-baik saja, Ma!"
Wanita paruh baya itu menghembuskan napas kasar mendengar jawaban Via, dia tau sekali kalau menantunya itu pasti sangat hancur sekarang.
"Sebelumnya, Mama ingin bertanya dulu padamu. Apa kau masih mencintai, Mahen?"
Genggaman tangan Via semakin erat mendengar pertanyaan Mama Camelia. "Ma, sungguh aku sangat mencintai Mas Mahen! Selama ini hanya dia satu-satunya laki-laki yang aku cintai selain Ayah!" Dia tidak sedang berbohong sekarang, karna Mahen memang cinta pertamanya.
Mama Camelia menganggukkan kepalanya sambil melirik ke arah suaminya. "Mama bukannya ingin membela Mahen, atau membenarkan apa yang sudah dia lakukan padamu. Bahkan dia juga sudah mencoreng nama baik keluarga ini, sungguh Mama dan Papa sangat malu sekali jika orang lain mengetahuinya!"
Via hanya bisa diam dengan kepala tertunduk, dia sedang mencoba untuk menerka-nerka apa yang ingin kedua mertuanya itu katakan.
"Mama tau kalau hatimu pasti sangat sakit, dan sebagai sesama wanita mama tau bagaimana rasa sakitnya. Tapi, kami tidak akan mengizinkan jika kau bercerai dengan Mahen!"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1