Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 33. Lelah Dengan Semuanya.


__ADS_3

Vano yang saat itu kebetulan lewat dari depan kamar Mahen menghentikan langkah kakinya. Sayup-sayup dia mendengar suara jeritan seorang wanita, membuat Vano mencari dari mana asal suara tersebut.


"Benar, suaranya dari dalam kamar kak Mahen." Dia menempelkan telinganya ke daun pintu. "Apa yang terjadi? Apa mereka bertengkar?"


Tangan Vano sudah terulur dan hampir mengetuk pintu kamar itu, tetapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya karna tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, lalu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya ke dapur.


Pada saat yang sama, Mahen sedang menggendong tubuh Via dan membawanya keluar dari kamar mandi. Dia mengelap air yang masih menempel ditubuh wanita itu, lalu memakaikan pakaian untuk sang istri.


Cup. Kecupan singkat Mahen berikan ke kening Via yang saat itu sedang terpejam. "Tidurlah, Sayang. Aku mencintaimu." Dia kembali mengecup bibir sang istri lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Via.


Tanpa Mahen sadari, kedua tangan Via terkepal erat saat dia melabuhkan kecupan di wajahnya. Bahkan air mata kembali menetes saat kata cinta terucap. Bukan karena merasa bahagia, tetapi karena rasa sakit yang benar-benar menghancurkan cinta yang masih tersisa.


Via kemudian membuka matanya saat mendengar suara pintu tertutup, pertanda kalau suaminya sudah keluar dari kamar itu.


Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Jiwanya terasa dicabut paksa dari tubuh, hingga tidak menyisakan sedikit saja senyuman yang biasa menghiasi wajah.


"Ya Allah, aku serahkan semua hidup dan matiku padaMu. Ampuni aku jika rasa sakit dihati ini terlalu besar untuk suamiku sendiri, ampuni aku jika melakukan sesuatu yang akan Kau benci." Dia memejamkan mata yang terasa sangat berat, hingga akhirnya masuk ke dalam alam mimpi.


Mahen yang sedang berjalan ke arah dapur tampak bersiul ceria, bahkan mulutnya sampai bersenandung memperlihatkan kalau saat ini dia sedang bahagia.


"Ke mana Via, Mahen? Ini udah waktunya makan malam." Mama Camelia menyipitkan matanya saat melihat putra sulungnya itu tersenyum lebar.


"Dia sedang istirahat Ma, dia pasti kelelahan." Mahen duduk tepat di samping Vano yang sejak tadi memperhatikannya. "Oh ya, apa Yara belum bangun Ma?"


Mama Camelia menganggukkan kepalanya. "Biar saja Yara tidur dulu, nanti kalau udah bangun biar mama suapin."


Mereka semua lalu menikmati makan malam bersama-sama, tanpa sadar kalau di lantai atas sedang ada wanita yang tersiksa lahir dan batin atas apa yang sudah Mahen lakukan.


****


Tepat pukul 2 malam, Via terbangun saat tengorokannya terasa benar-benar kering. Perlahan dia turun dari ranjang dan mengambil ikat rambut yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Sssh." Via meringis saat melangkahkan kaki. Inti tubuhnya terasa perih dan berdenyut akibat ruda paksa yang suaminya lakukan.


Dengan perlahan dia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Suasana rumah sudah sangat sunyi, karena memang jam sudah menunjukkan waktu tengah malam.


Via membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin, dia juga menyambar puding yang ada di sana untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.


"Astaghfirullah!" Via terjingkat kaget saat berbalik dan melihat Vano berdiri tepat di belakangnya. Hampir saja dia menjatuhkan botol minum dan puding yang ada di tangannya.


Vano sendiri hanya diam sambil menatap Via dengan tajam, terlihat jelas kalau wanita itu habis menangis karena matanya yang sembab.


Tanpa memperdulikan adik iparnya itu, Via berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana. Dia menuang minuman itu ke dalam gelas, juga mulai menikmati puding yang ada di hadapannya.


Vano yang hendak mengambil minum malah terdiam dengan mata yang memperhatikan Via. Entah kenapa dia tidak bisa berpaling, padahal selama ini dia sama sekali tidak peduli dengan wanita itu.


"Hah, aku benar-benar sudah gila." Dia bergegas mengambil bir yang ada dalam botol kecil, lalu menenggaknya sampai botol itu menjadi kosong.


Setelah selesai menghabiskan pudingnya, Via beranjak membawa piring kotor itu ke westafel dan bersiap untuk mencucinya.


Tangan yang sudah hendak meraih sabun jadi diam saat mendengar suara seseorang, Via melirik sekilas ke arah Vano yang dia pikir sudah pergi dari tempat itu.


Vano mengernyitkan keningnya saat tidak mendapat balasan dari Via, wanita itu bahkan sudah selesai mencuci piring sekarang.


"Apa sudah terjadi sesuatu denganmu?" Vano menahan tangan Via yang sudah akan beranjak pergi dari tempat itu. Sumpah demi apapun juga, dia merutuki apa yang sedang di lakukan saat ini.


"Tidak. Bisa tolong lepaskan tanganku?"


Vano langsung melepaskan tangan Via dengan sedikit kaget, untuk pertama kalinya wanita itu berkata datar seperti itu padanya.


Setelah laki-laki itu melepaskan tangannya, Via segera kembali naik ke lantai dua tanpa sedikitpun melihat ke arah Vano. Tentu saja sikapnya itu membuat Vano tercengang, tetapi terserahlah. Dia tidak peduli lagi dengan semua itu.


Untuk beberapa saat Vano terdiam di samping meja makan. Tangannya masih menjuntai di depan tubuh setelah melepaskan tangan Via. "Apa yang terjadi dengannya?"

__ADS_1


Vano mengusap wajahnya dengan kasar. Untuk apa juga dia peduli dengan wanita itu, toh sebentar lagi mereka hanya akan menjadi orang asing.


Tidak mau berpikir yang aneh-aneh, dia memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun, saat akan menaiki tangga. Vano mendengar suara pintu terbuka, dengan cepat dia melihat siapa yang baru saja pulang ke rumah.


"Kak Mahen,"


Mahen yang sedang mengunci pintu terkejut mendengar suara Vano. "Oh, kau belum tidur?" Dia melihat sekilas ke arah laki-laki itu, lalu kembali fokus untuk mengunci pintu.


"Kakak dari mana?" Vano menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan tangan bersedekap dada.


"Biasalah, nemuin Clara." Mahen menyimpan kunci rumah itu ke dalam laci, lalu mendekat ke arah Vano.


"Kapan Kakak akan menikah dengannya?"


Mahen tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari adiknya itu. "Kenapa? Apa kau mau menyiapkan pesta yang sangat meriah?" Dia terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Tidak. Aku cuma mau bilang, jangan menikah dengannya sebelum kau resmi bercerai dengan istrimu,"


"Aku tidak akan bercerai dengan Via."


Vano mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Maksudmu?"


"Aku sudah memasukkan benihku ke dalam perutnya, aku yakin setelah ini dia pasti hamil."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2