
Hari ini, adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh keluarga besar Vano dan juga Via. Walaupun ada pro dan kontra antara keluarga tentang pernikahan mereka, tetapi oma Erina berhasil meredamnya dan menenangkan semua orang.
Saat ini, hotel permata terlihat dipadati para tamu undangan yang akan mengadiri pernikahan Vano dan juga Via. Para petugas kepolisian dan tentara juga para satpol PP, terlihat mengamankan tempat itu. Tentu saja atas permintaan dari papa Adrian agar semuanya berjalan aman dan terkendali.
Para tamu undangan bukan hanya berasal dari para pengusaha dan teman-teman kedua mempelai saja, bahkan banyak pejabat, artis maupun para karyawan dari Sky Group juga ikut memeriahkan acara itu.
Semua keluarga sudah berkumpul di tempat acara untuk menyambut para tamu, sementara Vano dan Via masih berada di dalam kamar untuk bersiap.
"Kau merasa gugup?" Mahen menepuk bahu Vano membuat adiknya menoleh. "Lihat wajahmu, lucu sekali." Dia tergelak membuat Vano berdecak kesal.
"Jangan mengganggu adikmu, Mahen." Papa Adrian mengingatkan, dia tahu jika saat ini Vano pasti sangat tegang.
"Ayolah, Vano. Kau bisa mengatasi semua hal dengan kedipan mata, masa kayak gini saja sudah gugup sih?" Mahen merangkul tubuh Vano lalu menggoyangkannya.
"Jangan mengejekku, kau juga seperti itu 'kan, dulu." Vano langsung diam. Mengungkit masa lalu sama dengan menambah rasa sakit dihati Mahen.
"Aku baik-baik saja, Vano. Kenapa kau memasang wajah seperti itu." Mahen tau apa yang ada dalam pikiran sang adik. "Percayalah kalau aku sangat bahagia, jadi kau juga harus hidup bahagia bersama dengan Via." Dia tersenyum hangat, sehangat mentari pagi yang bersinar pagi ini.
Vano tersenyum dan ikut merangkul tubuh sang kakak. Rasa gugup dan gelisah yang sejak tadi dirasakan langsung hilang seketika.
MC acara pernikahan Vano dan Via sudah memulai acara, dia menyambut semua tamu yang berhadir pada hari ini dengan sangat meriah. Juga tidak lupa kata sambutan bagi para pejabat dan orang-orang penting yang juga sudah hadir di tempat itu.
Vano sudah berada di tempat acara dengan ditemani oleh Mahen, yang menggandengnya dari kamar menuju aula pesta. Banyak omongan dari orang-orang tentang apa yang terjadi, karena jelas saja pernikahan itu akan menjadi buah bibir bagi banyak orang.
Setelahnya MC acara meminta calon pengantin wanita untuk segera hadir di tempat acara karena akad akan segera dimulai.
Dengan digandeng Riani dan juga ibu Novi, Via melangkahkan kakinya dengan anggun menuju tempat acara. Semua mata memandang Via dengan kagum. Walaupun dia seorang janda yang sudah punya putri berusia 3 tahun, tetapi wajahnya masih sangatlah cantik karena memang umurnya masih muda.
Tepuk tangan yang sangat meriah mengiringi langkah Via menuju tempat di mana Vano dan juga Yara sudah menunggunya. Senyum lebar tidak luntur diwajahnya, dia merasa benar-benar bahagia saat ini.
Akhirnya Via dan Vano duduk bersampingan di depan pak penghulu, dan yang akan menjadi wali Via adalah adik dari almarhum ayahnya yang diseret paksa oleh River untuk datang.
__ADS_1
Pak penghulu membuka acara sebelum akad, dan meminta semua orang untuk tetap tenang agar akad berjalan lancar dan penuh khidmat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Silvia Maharani binti Candra Darmawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
SAH.
Satu kata itu menggema di seluruh aula sebagai tanda telah bersatunya Vano dan Via dalam ikatan resmi pernikahan. Tangis bahagia tampak diwajah seluruh keluarga saat menyaksikan momen sakral itu, begitu juga dengan sepasang pengantin yang baru saja mengikrarkan janji suci pernikahan di hadapan Allah.
Vano dan Via tampak menangis bahagia karena kini cinta mereka telah berlabuh dalam ikatan halal. Tidak ada sesuatu hal pun yang lebih membahagiakan dari semua ini.
Mereka berdua lalu menandatangi semua berkas pernikahan yang ada di atas meja, sebagai bukti bahwa mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Mahen tidak bisa membendung perasaannya hingga dia menunduk dengan deraian air mata. Rasa bahagia dan sakit bercampur aduk hingga membuat dadanya kian sesak. Namun, saat melihat senyuman Via dan juga Vano. Rasa sakit itu mulai memudar, dan berganti dengan do'a-do'a agar rumah tangga mereka selalu bahagia.
Pak penghulu lalu memanjatkan do'a agar rumah tanga Via dan Vano selalu diridhoi Allah, selalu diberi keberkahan dan kebahagiaan sampai maut memisahkan.
Semua orang mengaminkan do'a itu hingga terbang ke langit, dan semoga saja Allah mengabulkan semua yang mereka harapkan.
Setelah itu Via menjabat tangan Vano dan menciumnya, sementara Vano sendiri mengusap kepala Via sambil memanjatkam do'a. Kemudian dia mengecup kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Suasana tampak sangat bahagia dan juga meriah, semua keluarga dan para tamu undangan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Acara lalu dilanjutkan dengan berbagai macam adat istiadat pernikahan yang harus Vano dan Via lakukan, hingga menjelang Zuhur dan mereka baru istirahat.
"Apa kau lelah?" tanya Vano saat mereka sudah berada di dalam kamar. Dia duduk tepat di samping Via yang menganggukkan kepala.
"Lumayan, Mas." Via lalu tersentak kaget saat tiba-tiba Vano bersimpuh di kakinya lalu memegang kaki tersebut. "M-Mas, apa yang kau lakukan?" Dengan cepat dia menarik kakinya.
"Aku akan memijatnya, pasti lelah dari pagi terus berdiri."
__ADS_1
Via menggelengkan kepalanya dan kembali menarik kaki itu, tetapi Vano tidak membiarkannya dan tetap keukeh ingin memijat.
"Seharusnya aku yang melakukan itu, Mas. Tidak pantas rasanya seorang suami memijat kaki istrinya."
Sejenak Vano melihat ke arah Via dengan senyum manis, lalu kembali fokus memijat. "Siapa yang bilang, hem?"
"Mas, aku mohon hentikan. Duduklah di sampingku."
Vano menurut, dia lalu kembali duduk di samping Via dengan tetap tersenyum hangat.
"Semua yang terjadi ini tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, Mas. Bagaimana mungkin Allah membuat skenario seperti ini? Setelah bercerai, aku malah menikah dengan mantan adik iparku sendiri. Tapi dibalik semua itu, ada banyak sekali hikmah yang aku dapatkan. Terutama sosokmu yang sangat baik, dan rela mengulurkan tangan untuk membantuku. Terima kasih, Mas. Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku dan Yara. Terima kasih juga telah memilihku untuk menjadi istrimu."
Sungguh hati Vano bergetar hebat saat mendengar apa yang istrinya katakan, dan seperti Via. Dia juga sama sekali tidak pernah berpikir jika takdir akan mempersatukan mereka.
"Aku bersyukur karena dulu mengulurkan tangan untukmu, jika tidak mungkin hubungan kita tidak seperti ini. Tapi yah, jodoh pasti akan mencari jalannya sendiri dan kembali mempertemukan kita. Terima kasih juga karena membalas cintaku, dan bersedia untuk menjadi pendampingku. Aku mencintaimu, istriku."
"Aku juga mencintaimu, suamiku."
Begitulah takdir yang maha kuasa. Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahuinya, juga tidak ada satu makhluk pun yang bisa mencegahnya.
Apapun itu, segala sesuatu yang sudah digariskan oleh sang maha pencipta adalah yang terbaik. Mungkin ada rasa sakit, dan pengorbanan besar yang terjadi atas takdir itu sendiri. Namun, percayalah. Bahwa dikemudian hari, kau akan sangat bahagia dengan apa yang sudah terjadi selama ini.
Jika saat ini kalian berada dalam kesedihan, duka, dan masalah yang sangat berat. Maka tetap berusahalah, sabar, dan serahkan semuanya pada yang maha kuasa. Kita tidak akan pernah tahu takdir seperti apa yang akan terjadi dalam hidup kita, baik dan buruknya hanya Allah lah yang tahu.
•
•
•
__ADS_1
Tamat.
Akan ada beberapa bonus chapter lagi untuk kalian ya, silahkan di tunggu 🥰 jangan lupa mampir ke cerita baru aku juga ya 😍