Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 58. Penyerahan Semua Bukti.


__ADS_3

Via menggenggam tangan sang Ibu dengan sedih, sungguh hatinya sangat terluka saat melihat tubuh Ibunya dipenuhi luka lebam seperti ini.


Rasa bersalah karena tidak bisa melindungi sang ibu menyeruak dalam hati. Dia berjanji mulai saat ini akan selalu menjaga Ibunya, dan tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi.


"Maafkan aku, ayah. Kali ini aku tidak bisa membiarkan apa yang ayah lakukan, aku terpaksa melaporkan ayah ke kantor polisi atas apa yang ayah lakukan pada ibu." Via sudah sangat yakin untuk melaporkan ayahnya, karena laki-laki paruh baya itu tidak akan kapok jika dibiarkan saja.


Pada saat yang sama, Nanda sedang bertemu dengan seorang lelaki yang sebenarnya sangat tidak disangka-sangka. "Silahkan duduk, Tuan." Dia mempersilahkan orang tersebut saat sudah berdiri di hadapannya.


Vano segera duduk di hadapan Nanda, sementara River duduk di sampingnya. "Maaf sudah menunggu lama."


Nanda tersenyum dengan permintaan maaf Vano. "Saya juga baru sampai, Tuan. Tapi, saya tidak menyangka kalau Tuan akan meminta untuk bertemu." Dia sangat terkejut saat sekretaris pribadi Vano menghubunginya.


"Yah, aku juga tidak menyangka kalau aku akan menghubungimu," balas Vano, dia kemudian meletakkan sebuah amplop berwarna coklat ke atas meja.


Nanda mengernyitkan kening saat melihat amplop yang baru saja diletakkan oleh Vano. "Ini, ini apa, Tuan?"


"Buka dan bacalah. Itu adalah sesuatu yang sedang kau cari-cari."


Walaupum merasa bingung, Nanda langsung saja membuka amplop itu dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya.


Deg. Nanda tercengang saat melihat apa yang Vano berikan padanya. "I-ini, inikan-" Sangking kagetnya dia tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata.


"Ini adalah bukti perselingkuhan kakakku, dan aku memberikan semuanya padamu untuk bukti di persidangan."


Sungguh Nanda sangat terkejut dengan apa yang laki-laki itu lakukan, bagaimana mungkin dia memberikan bukti-bukti tentang kakaknya sendiri? "Kenapa Anda memberikan semua ini, Tuan? Bukankah Tuan Mahen adalah kakak Anda?"


Vano tersenyum sinis. "Benar, tapi bukan berarti aku membenarkan apa yang dia lakukan."


Nanda menganggukkan kepala dengan apa yang Vano katakan. "Baiklah, saya akan menerima semua ini. Saya benar-benar mengucapkan banyak terima kasih pada Anda."


"Saya harap Anda bisa menjaga rahasia ini, dan saya juga sudah mengurus masalah pengadilan, lusa adalah sidang kedua sekaligus putusan untuk mereka," ucap Vano kemudian.


Nanda tidak heran lagi dengan apa yang Vano katakan, tentu dia tau kalau laki-laki itu bisa melakukan apa saja dengan semua kekuasaannya. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan menyiapkan segalanya."


Vano segera beranjak bangun dari kursi membuat Nanda dan juga River ikut bangun. Dia harus segera pergi karena urusannya sudah selesai.

__ADS_1


Sejak tadi Nanda terus memperhatikan raut wajah Vano, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan laki-laki itu saat ini. "Mungkinkah dia menyukai Via?" Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan segala pemikiran yang tidak masuk akal.


"Baiklah, kalau gitu aku permisi,"


"Apa Anda tidak ingin menjenguk ibunya Via?"


Vano yang sudah berbalik kembali menoleh ke arah Nanda. "Apa maksudmu?" Dia merasa tidak mengerti.


"Saat ini, ibunya Via sedang dirawat di rumah sakit karena dihajar oleh suaminya sendiri,"


"Apa?" Vano sangat terkejut dengan apa yang Nanda katakan. "Bagaimana dengan Via? Apa tua bangka itu juga menyakitinya?"


Nanda menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kejadian itu terjadi di rumah mereka, dan saya sudah membuat laporan ke kantor polisi."


"Bagus. Bajing*an itu pantas untuk membusuk di dalam penjara, beraninya dia melakukan itu!" Tangan Vano terkepal kuat dengan amarah yang mulai naik. "Pastikan kalau bajing*an itu membusuk di dalam penjara, River. Dia harus menebus semua kesalahannya."


"Baik, Tuan."


Nanda sampai merinding dengan apa yang Vano katakan, tetapi semua itu membuktikan bahwa pikiran tidak masuk akalnya tadi ternyata benar-benar terjadi.


"Apa yang harus aku lakukan kalau bertemu dengannya, River?" tanya Vano membuat River melirik ke arah belakang.


"Lakukan seperti biasa saja, Tuan," jawab River.


"Memangnya seperti biasa itu, gimana?" Vano tidak paham dengan apa yang River maksud.


"Saya tidak tau, Tuan,"


"Dasar! Bilang aja kalau gak tau," ucap Vano dengan kesal, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah jalanan.


Sementara itu, di rumah sakit terlihat Via dan Riani sedang menemani ibu Novi. Wanita paruh baya itu sempat bangun, tetapi dia kembali tidur saat sudah minum obat.


"Pulanglah, Rin. Biar aku yang menjaga ibu," pinta Via. Dia tau kalau sahabatnya itu pasti sudah sangat lelah saat ini."


"Tidak apa-apa, Vi. Aku akan tetap-"

__ADS_1


Klek, brak.


Kedua wanita itu langsung melihat ke arah belakang saat mendengar suara pintu terbuka, dan betapa kagetnya mereka saat melihat keberadaan Vano.


"Vano, kau di sini?"


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Vano tanpa menghiraukan pertanyaan dari Via.


"Ibu baik-baik saja. Tapi, kenapa kau bisa di sini?"


"Baguslah. Aku hanya ingin melihat keadaan ibumu saja."


Riani terus memperhatikan apa yang sedang terjadi, terutama pada Vano. Walaupun sangat dingin, tetapi laki-laki itu sepertinya tidak bisa menutupi rasa sukanya pada Via. "Gila. Kalau Via sampai benar-benar dengan Vano, itu namanya dia lepas dari bebek dan mendapatkan angsa emas." Dia geli dengan apa yang dia pikirkan.


Via menganggukkan kepalanya, dia tidak ingin bertanya lagi dari mana laki-laki itu tau kalau ibunya sedang ada di rumah sakit karena percuma saja pasti Vano tidak akan menjawabnya.


"Em ... kalau gitu aku pulang duluan, ya Vi. Besok pagi aku datang ke sini sambil membawa pakaian dan sarapan." Riani memilih untuk pulang, tidak mungkin dia menjadi obat nyamuk.


Via beralih melihat ke arah Riani lalu kembali mengangguk. "Hati-hati di jalan, ya Rin. Kalau sudah sampai kabarin aku."


"Iya- iya. Kalau gitu saya permisi, Tuan Vano."


Vano hanya menganggukkan kepalanya lalu beralih melihat River. "Kau juga pulang saja, River. Besok jemput aku di sini."


"Baik, Tuan." River menganggukkan kepala lalu bersiap untuk pergi dari tempat itu.


"Em ... anu, kenapa kalian tidak pulang bersama saja?"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2