
Vano melajukan mobilnya menuju perusahaan, dia ingin menemui Mahen secara langsung karena ada sesuatu yang ingin dia katakan.
Sesampainya di perusahaan, dia langsung melangkahkan kaki dengan lebar menuju ruangan sang Kakak.
"Maaf, Tuan Vano. Tuan Mahen sedang-"
"Minggir!" Vano menatap karyawan yang sedang menahan langkahnya dengan tajam, membuat laki-laki itu terdiam.
Brak!
Vano membuka pintu dengan kuat membuat dua orang yang saat ini sedang berada di sofa terlonjak kaget.
Sontak Mahen langsung melompat dari atas tubuh Clara dan menaikkan celananya, begitu juga dengan Clara yang memunguti pakaian yang berserakan di atas lantai.
"Apa yang kau lakukan, Vano?" tanya Mahen dengan tajam, wajahnya memerah menahan rasa kesal dan juga malu akibat kegiatan panasnya dilihat oleh sang adik.
Vano terdiam diambang pintu saat melihat apa yang mereka lakukan. Dia tidak menyangka kalau Mahen sedang asyik-asyikkan dengan Clara sementara istri sah laki-laki itu berada di rumah sakit.
"Aku ingin bicara!" Vano berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu membuat Mahen menatap heran.
"Sayang!"
Mahen yang sudah mengikuti langkah Vano terhenti saat tangannya dicekal oleh Clara. "Aku harus bicara dengan adikku dulu."
"Lalu, bagaimana denganku? Rasanya tanggung sekali, Mahen." Ada rasa tidak nyaman yang Clara rasakan saat hasratnya tidak tersalurkan dengan baik.
"Aku akan segera kembali." Mahen melepas tangan wanita itu dan beranjak pergi, dia tau kalau saat ini Vano pasti ingin membicarakan hal penting padanya.
Vano menunggu di dalam ruangannya dengan geram. Entahlah kenapa dia jadi seperti itu, hanya saja ada rasa kasihan dalam hatinya pada Via yang saat ini sedang mengalami musibah.
__ADS_1
"Ada apa, Vano? Kenapa kau menemuiku?"
Vano yang sedang berdiri menghadap jendela langsung memutar tubuhnya. "Apa Kakak tau bagaimana kondisi istrimu saat ini?"
Mahen mengernyitkan kening dengan bingung. "Maksudmu, Via?"
Vano mengangguk membuat Mahen bingung. "Benar, dia sedang berada di rumah sakit."
Mahen terkejut saat mendengarnya. "Apa yang terjadi? Bukankah dia baik-baik saja?"
"Saat ini tidak baik. Ayahnya baru saja memukulnya dengan batu,"
"Apa?" Sungguh Mahen merasa sangat kaget sekali. "Bagaimana mungkin laki-laki itu sampai menyakiti Via?" Dia merasa tidak habis pikir. "Tunggu, atau jangan-jangan karena ...." Dia menjeda ucapannya saat mengingat sesuatu.
Vano menatap Mahen dengan penuh tanda tanya. "Karena apa?"
Mahen terdiam dengan ingatan beberapa waktu lalu, di mana ayah Chandra menelponnya dan meminta untuk bertemu.
"Aku tetap akan bercerai dengan Via, jadi Ayah harus mengembalikan uang yang Ayah pinjam waktu itu,"
"A-apa? Bukannya kau memberikan semua itu pada ayah?"
"Tentu saja tidak. Uang yang Ayah pakai sudah mencapai 50 juta, jika Ayah tidak membayarnya maka aku akan menjebloskan Ayah ke penjara,"
"Tidak, Mahen. Bagaimana mungkin kau melakukan itu pada ayah?"
"Itu mungkin saja karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan Via, dan itu artinya tidak ada lagi hubungan menantu dan mertua di antara kita."
Itulah percakapan yang terjadi antara Mahen dan ayah Chandra beberapa hari yang lalu, dia yakin kalau laki-laki paruh baya itu pasti memaksa Via untuk tidak bercerai dengannya. Lalu tidak sengaja melukai wanita itu.
__ADS_1
"Kenapa Kakak diam?"
Lamunan Mahen terhenti mendengar ucapan Vano. "Ah ya, kakak cuma teringat sesuatu saja." Dia mengulas senyum tipis.
"Kau belum memjawabku, Kak!" ucap Vano dengan tajam.
"Ah, tidak ada. Hanya masalah kecil antara aku dan mertuaku. Lagipula semua itu tidak penting lagi sekarang." Mahen yakin kalau ayah Chandra pasti sudah mengatakan tentang utang 50 juta pada Via, dan dia tinggal menunggu apa yang akan wanita itu lakukan.
"Bukankah sebaiknya Kakak pergi menemui istrimu?"
Mahen tertawa sambil menggelengkan kepala. "Itu tidak perlu, toh sebentar lagi kami akan bercerai. Suaranya terdengar getir. "Apa yang dia alami adalah buah dari keras kepalanya itu. Cih, dia tetap bersikukuh untuk cerai sampai akhir."
Vano terdiam mendengar ucapan Mahen. Bagaimana tidak? Dia merasa terkejut kalau sang kakak akhirnya setuju untuk bercerai dengan Via.
"Tapi Vano, apa kau menemuiku hanya untuk membahas ini?" tanya Mahen dengan heran. "Dan kenapa kau bisa tau kondisi Via?" Dia menatap penuh tanda tanya.
"Aku mengantar Yara pulang, dan tau semua yang terjadi."
Mahen menganggukkan kepala. "Biarkan saja wanita itu, dia harus merasakan buah dari keputusannya. Heh, sebentar lagi dia pasti akan menyesal sambil menangis di hadapanku." Mahen tersenyum sinis, dia akan terus menyiksa wanita itu sampai memutuskan untuk kembali.
Vano sendiri terus memikirkan apa yang Mahen katakan. Sejujurnya dia merasa tidak terima jika sang kakak melakukan hal seperti itu pada Via, apalagi wanita itu selama ini selalu bersikap baik.
"Apakah aku harus diam saja? Tapi, kenapa dadaku jadi sesak seperti ini?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.