
Via tersentak kaget dengan apa yang mama Camelia tanyakan, begitu juga dengan ibu Novi yang ada bersama mereka.
"I-itu-" Via bingung harus menjawab bagaimana karena terkejut dengan pertanyaan itu.
"Apa mama ingin memintaku untuk rujuk dengan mas Mahen?" Dia benar-benar tidak habis pikir.
"Mama tau kalau kau pasti sangat terkejut, tapi mama hanya ingin tau bagaimana perasaanmu terhadap Mahen sekarang," ucap mama Camelia dengan menatap sayu.
Via diam sejenak untuk memilah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu, dia tidak ingin mama Camelia merasa tersinggung.
"Setelah semua yang terjadi padaku dan juga mas Mahen, aku banyak belajar tentang hal baru, Ma. Aku lebih bisa mengendalikan emosi dan juga perasaanku, aku bisa menghargai dan memaafkan orang-orang yang menyakiti hatiku dan mencoba untuk berpikir positif. Jujur saja, aku juga sudah memaafkan apa yang Mas Mahen lakukan," ucap Via dengan tersenyum.
"Tapi aku sudah tidak mencintainya, Ma. Aku sudah mengikhlaskan semuanya, dan berharap kalau kami akan bahagia dengan kehidupan masing-masing."
Mama Camelia menggenggam tangan Via dengan erat. "Kau sudah melewati banyak sekali cobaan dan masalah, Nak. Maafkan mama yang tidak bisa mendidik dan mencegah apa yang Mahen lakukan."
"Ma, itu semua diluar kendali mama atau pun orang lain. Dan semua itu sudah lama terjadi, kita harus melupakannya dan terus melangkah ke depan," ucap Via sambil mengusap punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Baiklah, Mama tidak akan lagi membahas masa lalu. Sekarang, mama ingin membahas tentang masa depan antara kau dan juga Vano, Via."
Via mengernyitkan keningnya dengan apa yang mama Camelia katakan, dia juga merasa sedikit terkejut. "Me-memangnya ada apa denganku dan Vano, Ma?" Tiba-tiba dia merasa gugup.
"Sayang, selama ini mama dan papa sudah banyak memperhatikan hubungan di antara kalian. Dan kami merasa tidak ada yang salah dengan semua itu, hanya saja-" Mama Camelia menjeda ucapannya membuat Via diselimuti kegelisahan.
"Hanya saja Vano mencintaimu, Via. Dia mencintaimu."
Deg.
Jantung Via langsung bergemuruh saat mendengar apa yang mama Camelia katakan. Tubuhnya terasa kaku dan lidahnya sama sekali tidak bisa untuk digerakkan.
__ADS_1
"Dia mengatakannya dengan lantang di hadapan kami semua, bahkan di depan Mahen juga." Mama Camelia tersenyum saat mengingat semua itu.
Via hanya bisa diam dengan tatapan kosong, sungguh dia benar-benar merasa sangat terkejut sekali.
"Tapi Mahen menentang semua ucapan Vano, bahkan kami juga melakukannya." Mama Camelia lalu menceritakan semua yang sudah terjadi pada malam itu, malam di mana Vano mengungkapkan semua perasaannya.
Air mata Via mengalir deras saat mendengar cerita mama Camelia, jantungnya berdebar-debar seperti akan meloncat keluar dari rongga dadanya.
"Mama tau kalau kau pasti sangat terkejut sekali mendengar semua ini, dan percayalah kalau Vano tidak akan pernah mengungkapkannya padamu. Tapi cintanya benar-benar tulus, dan kau mungkin juga bisa merasakannya." Mama Camelia juga meneteskan air mata.
"Setelah mendengar semua ini, mama mohon jangan benci Vano atau pun menjauh darinya. Dia hanya ingin kau dan Yara bahagia, tapi dia tidak bisa mengendalikan perasaannya walaupun kau adalah mantan istri dari kakaknya sendiri. Mama hanya ingin kalian bahagia. Baik Vano, Mahen dan juga kau. Hanya itu yang mama dan papa inginkan."
Via langsung memeluk tubuh mama Camelia dengan erat membuat wanita paruh baya itu terisak, dia sangat mengerti apa yang mama Camelia rasakan saat ini.
"Aku tidak menyangka jika kau mencintaiku, Vano."
Sementara itu, di tempat lain terlihat Mahen, Vano, dan juga River sudah sampai di rumah orang tua mereka. Mahen langsung masuk ke dalam kamar, sementara Vano dan River duduk di ruang keluarga.
"Ke mana mama dan papa, Bik?" tanya Vano pada salah satu pembantu.
"Nonya dan tuan belum pulang, Tuan,"
"Apa?" Vano merasa terkejut saat mengetahui kedua orangtuanya belum sampai rumah, dia lalu bergegas menelepon mereka dengan perasaan khawatir.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Ma." Panggilan itu terputus setelah mama Camelia mengatakan kalau baru saja pulang dari apartemen Via, karena habis bermain dengan Yara.
"Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Yara. Tapi, tadikan mama ingin membicarakan sesuatu dengan Via. Apa yang mama bicarakan ya? Apa aku harus menanyakannya pada Via?" Vano lalu menggelengkan kepalanya karena merasa tidak berhak untuk ikut campur urusan mamanya dan Via.
Brak.
__ADS_1
Brak
Suara nyaring dari barang-barang yang terlempar ke dinding menggema di kamar Mahen. Dia melampiaskan emosinya dengan menghancurkan apa saja yang ada di kamar tersebut.
"Kenapa, kenapa semua ini terjadi padaku?" teriak Mahen sambil meninju-ninju ranjang dan melemparkan bantal-bantalnya ke dinding.
"Aku tidak peduli siapa wanita si*alan itu. Tapi kenapa, kenapa bayi itu bukan darah dagingku. Kenapa?" Mahen benar-benar murka membuat seisi rumah menjadi gempar, termasuk Vano yang langsung berlari ke lantai 2.
"Aku sudah lama menunggunya, dan aku sudah mencurahkan semua rasa sayangku padanya. Tapi kenapa, kenapa Kau malah menjadikannya anak orang lain, Tuhan. Kenapa? Aaarggh!" Mahen semakin menggila hingga tidak ada lagi barang yang tersisa di kamar itu.
"Dasar p*e*l*a*c*u*r si*alan! Beraninya kau menipuku seperti ini, beraninya kau!"
Pyar.
Mahen meninju kaca yang ada di hadapannya membuat darah segar mengalir dari tangannya.
Jeglek.
Jeglek.
"Buka pintunya, Kak! Apa yang kau lakukan?" Vano berusaha untuk membuka pintu, tetapi si*alnya pintu itu terkunci dari dalam.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1