Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 81. Rapat Umum Pemegang Saham.


__ADS_3

Setelah suasana menjadi tenang, papa Adrian segera membawa mama Camelia dan oma Erina untuk pulang ke rumah sementara Vano memilih untuk menaiki mobilnya sendiri.


Vano pergi ke sebuah danau di mana dia biasa untuk menyendiri. Dia terus memikirkan apa yang mamanya katakan tadi, hingga tidak terasa waktu bergulir dengan sangat cepat.


"Jika kehadiranku hanya menambah luka dan rasa sakit untukmu, maka aku tidak bisa lagi terus berada di sisimu, Via. Maaf, karna aku tidak sadar dengan semua ini dan malah terus mengganggumu."


Vano lalu beranjak pergi dari tempat itu setelah menghabiskan beberapa jam di sana. Dia sudah mengambil keputusan untuk menjauh dari kehidupan Via dan juga Yara, mungkin itulah yang terbaik untuk semua orang. Terutama Via, karena dia tidak mau lagi menyakiti hati wanita itu.


****


Beberapa hari telah berlalu sejak pertengkaran yang terjadi dalam keluarga papa Adrian. Kini semua kembali berjalan seperti mana biasanya, seakan-akan pertengkaran itu tidak pernah terjadi.


Begitu juga dengan Vano. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah lagi datang mengunjungi Via dan juga Yara, dia hanya sibuk mengerjakan pekerjaan sekaligus memantau pembangunan perusahaannya yang ada di luar negeri.


"Pembangunan sudah berjalan 70%, Tuan."


Vano mengangukkan kepalanya. "Urus semuanya sampai tuntas sebelum kita pergi, River. Aku tidak mau lagi kembali ke tempat ini."


River menganggukkan kepalanya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi pada Vano, apalagi sekarang laki-laki itu tidak lagi menemui Via dan juga Yara. Namun, dia merasa takut untuk menanyakannya.


Kemudian mereka berdua beranjak keluar dari ruangan itu menuju ruang rapat, karena hari ini rapat umum para pemegang saham akan dilaksanakan.


Saat ini, semua pemegang saham sudah berkumpul di dalam ruang rapat. Termasuk papa Adrian dan juga Mahen yang tampak duduk tenang di kursi mereka, ada juga beberapa orang luar yang memiliki saham Sky group.


Papa Adrian, selaku pimpinan sekaligus pemilik perusahaan generasi kedua memiliki saham sebesar 20%. Mahen dan Vano, mempunyai saham masing-masing sebesar 15%. Mama Camelia dan oma Erina juga punya saham masing-masing sebesar 5%, dan sisanya adalah milik dari orang-orang luar.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan segera memulai rapat pada hari ini karena semuanya sudah berkumpul di dalam ruangan," ucap Mahen untuk membuka rapat hari ini.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kehadiran semua pemegang saham di perusahaan Sky group ini, dan untuk nyonya Camelia dan nyonya Erina memilih absen dan ikut suara terbanyak dalam pengambilan keputusan. Untuk itu, saya persilahkan pada Anda semua untuk melihat laporan perkembangan perusahaan selama 6 bulan terakhir."


Semua orang langsung membuka berkas yang sudah terletak di hadapan mereka, dan membaca apa-apa saja yang tertulis di sana.


"Hari ini, kita fokus pada pembahasan tentang-" Mahen tiba-tiba menghentikan ucapannya saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, membuat semua orang ikut melihat ke arah pintu tersebut.


"Waah, sepertinya saya datang terlambat." Indra masuk ke dalam ruangan rapat itu dengan 3 orang lelaki membuat semua yang ada di ruangan itu menatap dengan heran, terutama papa Adrian dan juga Vano yang langsung berdiri dari duduk mereka.


"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mahen dengan tajam.


"Loh, masak Tuan Mahen sudah lupa pada saya sih? Baru beberapa hari yang lalu kita tidak bertemu."


Mahen mengernyitkan keningnya dengan bingung, sementara papa Adrian beranjak mendekati mereka.


Indra tersenyum ke arah mereka semua sambil meminta sesuatu dari anak buahnya. "Tentu saja saya harus masuk ke dalam ruangan ini, Tuan. Tidak mungkin Anda semua memulai rapat saat ada salah satu pemegang saham yang belum datang."


Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan laki-laki itu, terutama papa Adrian dan kedua putranya.


"Apa maksudmu?" tanya Mahen.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Indra Kenz. Saya adalah pemilik saham yang baru di perusahaan ini,"


"Apa?" Semua orang sangat terkejut dengan apa yang laki-laki itu ucapkan. Jelas saja mereka kaget, karena jika ada pemegang saham baru. Maka salah satu dari mereka pasti sudah menjual saham, dan yang lainnya seharusnya sudah tau tentang semua itu.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan, hah?" Papa Adrian melotot dengan rahang mengeras. "Jangan membuat masalah atau membuang-buang waktu kami, lebih baik kau pergi atau aku akan menyuruh petugas keamanan untuk menyeretmu keluar!"


"Hahahahah, Anda tidak bisa melakukan itu, Tuan. Karna saya adalah pemilik saham yang sah di perusahaan ini, bahkan saya punya 15% saham."


Semua orang semakin tidak mengerti dengan apa yang Indra katakan, membuat laki-laki itu langsung menunjukkan selembar kertas pada mereka semua.


"Ini adalah surat pernyataan pengalihan saham yang telah diberikan oleh tuan Mahen pada saya,"


"Apa?" Semua orang ikut beranjak dari duduk mereka melihat semua itu, sementara Mahen menatap dengan tidak percaya.


"Apa, apa maksudnya ini, Mahen?" Papa Adrian langsung melihat ke arah Mahen.


"Kau, apa yang kau lakukan ini, hah?" bentak Mahen. "Beraninya kau bicara seperti itu, sementara aku sama sekali tidak mengenalmu!" Mahen mencengkram kerah kemeja Indra membuat semua orang berubah panik.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan Mahen? Bagaimana mungkin Anda lupa dengan kesepakatan kita?"


"Apa, apa kau bilang?" Mahen menghempaskan tubuh Indra dengan kasar. "Aku sama sekali tidak mengenalmu, aku bahkan tidak pernah berurusan denganmu. Apalagi sampai mengalihkan semua sahamku padamu, apa kau pikir aku ini gila?"





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2