
Via dan Vano langsung berdiri saat melihat mereka semua, sungguh Via dan Vano sangat terkejut dan tidak menyangka jika mereka masih ada di tempat ini.
"Kenapa kalian diam? Apa tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku?" ucap Mahen sambil bersedekap dada.
"Kenapa kalian semua masih berada di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Mahen, Vano malah kembali bertanya pada mereka.
"Kami masih di sini karena Mahen mengatakan jika Via akan datang, dan ternyata apa yang dia katakan adalah benar," jawab mama Camelia.
Vano mengernyitkan keningnya sambil melihat ke arah Mahen seolah-olah bertanya kenapa laki-laki itu mengetahuinya.
"I-itu, itu karna Mas Mahen yang memberitahuku tentang kepergian mu, Vano. Maaf." Via menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. Rasa malu dan juga tidak enak hati menyelimutinya saat ini.
Bagaimana mungkin dia tidak malu saat semua keluarga Vano mendengar apa yang dia katakan? Dia juga pasti merasa tidak enak hati pada Mahen, apalagi pada kedua orang tua mereka.
Vano dan kedua orangtuanya tidak menyangka jika Mahen yang mengatakannya pada Via. Lalu, untuk apa dia mengatakannya?
"Jangan menatapku seperti itu, Ma, Pa, dan kau Vano. Seharusnya sudah sejak dulu aku melakukan semua ini." Mahen tersenyum simpul, walau dadanya terasa sangat sesak saat ini.
Kemudian Mahen mendekati Vano dan menepuk bahu adiknya itu. "Maafkan kakak, Vano. Seharusnya seorang kakak itu memberikan kebahagiaan untuk adiknya, tapi apa yang aku lakukan malah kebalikannya. Aku selalu merepotkanmu, dan tidak mengerti dengan apa yang kau rasakan."
Mama Camelia dan papa Adrian menatap kedua putranya dengan mata berkaca-kaca, sementara Vano sendiri masih diam karena tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya.
"Maaf karena sudah memaksamu untuk menjauhi Via, Vano. Itu adalah sesuatu yang sangat bod*oh yang pernah aku lakukan." Mahen terkekeh membuat air mata kedua orang tuanya menetes. "Maaf karena tidak mengerti akan perasaan cintamu, maafkan kakak."
Vano menghela napas kasar sambil memalingkan wajahnya ke arah samping, kemudian dia kembali melihat ke arah Mahen. "Apa Kakak sudah selesai bicara?"
__ADS_1
Mahen tergelak, lalu menggelengkan kepalanya. "Tentu saja belum, Vano. Sekarang dengarkan kakak baik-baik." Dia menatap sang adik dengan tajam. "Kakak merestui hubunganmu dengan Via. Pergilah, dan bawa dia bersamamu."
Deg.
Jantung Vano terasa berhenti berdetak saat ini juga, begitu pula dengan Via yang memandang Mahen dengan tidak percaya.
Dari awal dia sudah merasa aneh saat Mahen meneleponnya, dan mengatakan tentang keberatan Vano hari ini. Setelah itu, Mahen menyuruhnya untuk datang ke bandara karena Vano tidak akan lagi kembali ke Indonesia. Lalu telepon itu terputus, dan Mahen tidak mengatakan apa-apa lagi.
"A-apa, apa yang kau katakan?" Vano menatap Mahen dengan tatapan tidak percaya dan sangat terkejut.
Mahen menganggukkan kepalanya. "Seharusnya aku mengatakan semua ini sejak lama, Vano. Tapi yah, kau tau sendiri jika kakakmu ini orang yang sangat labil." Lagi-lagi Mahen tertawa sambil memalingkan wajahnya. Namun, Vano bisa melihat jelas rasa sakit yang tampak dikedua mata sang kakak.
"Berbahagialah, Vano. Kalian berhak mendapatkan semua itu." Untuk sekali lagi Mahen menepuk bahu Vano sampai beberapa kali sambil tersenyum lebar.
Vano terdiam dan menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak ingin hal lain selain kebahagiaan keluarga kita, Kak. Dan kau juga tau semua itu. Jika semua kembali seperti semula, dan kau menjadi seorang Mahendra Arkana yang membanggakan. Maka aku sudah sangat bahagia, hanya itu."
Via sendiri menundukkan kepalanya dengan terisak. Dia benar-benar merasa sangat bersalah, seharusnya dia tidak melakukan hal seperti ini.
"Apa yang sudah aku lakukan, ya Allah? Kenapa aku sangat egois seperti ini? Aku, aku menghancurkan hubungan persaudaraan di antara mereka." Dia benar-benar sangat menyesal.
"Kakak tau, Vano. Tapi semua itu masih kurang, dan jika kakak tidak melakukan ini. Kakak pasti akan merasa bersalah seumur hidup, dan bukannya kau sendiri yang mengatakan, tidak perlu izin siapa pun untuk mencintai Via?"
Vano terdiam. Ya, dia memang mengatakan semua itu. Namun, bukan perasaan seperti ini yang seharusnya terjadi.
"Bukan aku yang memberi izin pada kalian, Vano. Tapi Allah, Allah lah yang telah mentakdirkan semua ini. Aku hanya memberi restu untuk kebahagiaan adik, dan juga mantan istriku. Selebihnya, Allah yang turun tangan dengan semua ini. Aku benar kan, Ma, Pa?" Mahen menoleh ke belakang untuk melihat kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mama Camelia dan papa Adrian menganggukkan kepala mereka. "Kau benar, Nak. Apa yang kau katakan memang benar." Papa Adrian mengusap air matanya lalu beranjak mendekati Mahen.
"Sejak dulu kau memang selalu bisa diandalkan, dan sampai saat ini kau tetaplah seorang kakak yang sangat baik. Papa bangga padamu, Nak." Dia mengusap bahu Mahen lalu memeluk tubuhnya.
"Allah juga pasti akan memberikan kebahagiaan untukmu, Nak. Semuannya sudah berlalu, dan bukalah lembaran baru dengan menjadi manusia yang lebih baik lagi."
Mahen menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Pa." Air mata menetes dari kedua mata Mahen. Walau hatinya terasa sangat sakit, tetapi dia sama sekali tidak merasa menyesal dengan semua ini.
Mama Camelia juga tidak mau kalah, dia ikut memeluk Mahen dengan terisak membuat Mahen tergelak. Dia lalu memeluk tubuh sang Mama dengan erat.
"Kau memang putra mama, putra mama yang paling baik,"
"Tentu saja, Ma."
Untuk pertama kalinya air mata Vano menetes saat melihat semua keluarganya, dia lalu beralih melihat ke arah Via yang juga sedang melihatnya.
"Jika sudah seperti ini, sanggupkah kita untuk melawan Takdir?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Maaf karena dua hari kemaren tidak bisa update 🙏 hari ini aku akan kembali update, tetap setia ya karena tinggal beberapa bab lagi dan kisah mereka akan tamat 🥰