
Suasana duka masih menyelimuti hati Via dan juga sang Ibu. Kini rumah mereka telah dipenuhi oleh para pelayat yang ingin melihat atau pun mendo'akan Ayah Chandra.
Mahen beserta keluarganya turut hadir untuk mendo'akan ayah Chandra, mereka juga ikut berbela sungkawa atas apa yang terjadi pada orang tua Via.
"Mama ikut berduka cita atas meninggalnya Pak Chandra, Via. Semoga segala dosa-dosa yang almarhum lakukan dapat diampuni oleh Allah," ucap mama Cemelia saat menyalami mantan menantunya itu.
"Aamiin, terima kasih karna Mama sudah datang. Aku harap Mama bisa memaafkan segala kesalahan yang sudah ayah lakukan," ucap Via dengan lirih. Matanya sudah sangat sembab akibat terlalu banyak menangis, begitu juga dengan wajahnya yang tampak sangat pucat.
Mahen yang sejak tadi diam disudut ruangan terlihat ragu untuk mengabarkan turut berduka cita pada Via. Dia merasa tidak tega melihat kesedihan dimata wanita itu, hingga membuatnya diam dan tidak melakukan apa-apa.
Vano sendiri saat ini sedang membawa Yara ke suatu kedai yang ada di sekitaran tempat itu. Dia ingin menenangkan Yara yang sejak tadi merasa sangat tidak nyaman, bahkan gadis kecil itu selalu ingin bersama dengan Via di tengah keramaian saat ini.
"Makan es krim nya satu aja ya, Sayang. Nanti mama marah."
Yara mengangguk paham sambil memasukkan es krim yang ada ditangannya ke dalam mulut. "Em ... es klim ini enyak."
Vano tersenyum melihat kebahagiaan diwajah Yara, sebelumnya dia takut kalau sampai gadis kecil itu merasa tidak nyaman bahkan sampai mengamuk seperti pada saat di rumah sakit.
"Em .... Yara, bolehkan Om Vano tanya sesuatu padamu?" Vano melihat ke arah Yara yang masih sibuk dengan es krimnya.
Yara melihat ke arah Vano lalu menganggukkan kepalanya. "Boleh, Om Pano."
Vano tersenyum gemas melihat raut wajah Yara yang saat ini sedang menatapnya penuh tanda tanya. "Apa Yara menyayangi om?"
Yara melihat Vano dengan bingung saat mendengar pertanyaan itu, tetapi kepalanya mengangguk. "Yala sayang sama Om, Yala sayang sama Mama, Yala sayang sama semuanya." Yara merentangkan tangannya seolah-olah sedang menunjukkan rasa sayangnya kepada semua orang.
__ADS_1
"Om juga sayang sama Yara."
Yara langsung tersenyum lebar saat mendengar ucapan Vano, sontak gadis kecil itu memeluk Vano dan melingkarkan tangannya di leher sang om.
Vano tentu saja senang dengan kedekatan antara dia dan juga Yara. "Kalau Mahen menggunakanmu sebagai alasan untuk menjauhkan aku dengan mamamu, maka aku juga akan menggunakanmu sebagai alasan untuk mendekati mamamu, Yara." Dia tersenyum dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Via yang saat itu sudah selesai menyalami semua tamu tampak sedang mencari keberadaan sang putri, dia merasa khawatir karena sejak tadi Yara tidak terlihat di matanya.
"Kenapa kau khawatir? Saat ini Yara sedang bersama Vano," ucap Riani yang tadi melihat Vano ke sana kemari sambil menggendong Yara.
"Benarkah?" tanya Via yang langsung di jawab dengan anggukan kepala Riani. "Syukurlah kalau Yara sedang bersama Vano." Dia bisa bernapas lega saat ini.
"Via!"
Via yang sudah akan berbalik mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu menoleh ke arah samping di mana Mahen sedang berjalan ke arahnya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Mas," jawab Via dengan senyum tipis.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayah."
Via menganggukkan kepalanya." Terima kasih, Mas."
Setelah itu Mahen diam karena tidak tau lagi harus mengatakan apa, sementara Via juga akan berbalik dan pergi untuk mengurus kesibukan yang lain.
"Oh ya, di mana Yara?" tanya Mahen kemudian.
__ADS_1
"Yara sedang bersama Vano, mungkin mereka sedang berada di luar." Via melihat ke arah luar rumah seolah sedang kenunjukkan keberadaan Yara dan juga Vano.
Mahen yang mendengar jawaban Via mendadak jadi emosi, padahal dia sudah menyuruh wanita itu untuk menjauhi Vano tetapi masih saja mendekatinya.
"Seharusnya kau menyerahkan Yara kepadaku saat seperti ini, dan bukannya pada orang lain," ucap Mahen dengan penuh penekanan.
Via mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Maaf, aku tidak ingat dan tidak sempat untuk menitipkan Yara padamu. Dan juga Vano itu bukanlah orang lain, tapi om nya Yara sendiri."
"Bukannya aku sudah memintamu untuk menjauhin Vano, hah? Tapi kenapa kau masih saja menempel padanya?" ucap Mahen dengan emosi membuat orang-orang yang masih berada di tempat itu mulai memperhatikan mereka.
Via sendiri ikut tersulut emosi. Dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya laki-laki itu malah membahas hal yang tidak penting. "Aku memang menuruti ucapanmu untuk menjauhinya, tapi bukan berarti kau bisa menjauhkan Yara dari dia juga." Dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Mahen sebelum keributan terjadi.
Mahen hanya bisa mengepalkan kedua tangannya penuh emosi. "Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Setelah Clara melahirkan, aku akan kembali mendapatkanmu, Via." Itulah tujuan mulia yang akan Mahen lakukan nanti. "Benar, aku harus mengatakannya pada Vano. Huh, liat saja nanti." Dia lalu beranjak keluar untuk mencari Vano dan juga Yara.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang menggerutu kesal di dalam rumahnya. Dialah Clara yang tidak diperbolehkan untuk ikut bersama Mahen ke rumah Via.
"Cih, aku yakin wanita kampung itu akan mencari simpati dari semua orang. Terutama Mahen. Dia pasti akan membuat Mahen kasihan padanya lalu mulai melancarkan rencanya untuk kembali pada suamiku."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1