
Tepat pukul 4 sore, Via sudah kembali ke apartemen dan melihat putri kecilnya sedang bermain di lapangan dengan ditemani sang Ibu dan anak-anak yang lainnya.
Dia segera keluar dari mobil dan berjalan ke arah mereka sambil menenteng tas kerjanya. "Assalamu'alaikum."
Ibu Novi dan beberapa ibu yang lainnya menoleh ke arah Via. "Wa'alaikum salam, kau sudah pulang, Nak?"
Via menyalim tangan ibu Novi lalu duduk di sampingnya. "Sudah, Bu. Kerjaanya lebih cepat siap."
"Syukurlah kalau kayak gitu."
Mereka kemudian mengobrol ria dengan ibu-ibu yang lain sambil menunggu Yara selesai bermain. Sesekali Via akan tertawa saat mendengarkan ocehan mereka, dan untungnya lingkungan tempat tinggal mereka itu sangatlah baik dan juga ramah.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba ponsel Via bergetar membuatnya cepat-cepat mengangkat panggilan dari Mahen.
"Halo, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam, aku sudah di parkiran apartemenmu."
Via langsung melihat ke sana kemari untuk mencari keberadaan Mahen, lalu tatapannya tertuju pada mobil yang ada di ujung parkiran. "Baiklah. Kau tunggu disitu saja, Mas. Biar aku yang ke sana."
"Hem."
Tut.
Panggilan itu langsung terputus membuat Via tidak sempat mengucap salam. "Dasar, selalu saja seperti itu." Dia lalu beralih ke arah sang ibu. "Bu, Mas Mahen sudah sampai di sini. Ayo, kita bawa Yara pulang."
Ibu Novi mengangguk lalu segera memanggil Yara untuk pulang, tidak lupa berpamitan pada semua yang ada di tempat itu untuk masuk ke apartemen.
Via sendiri sudah berjalan ke arah Mahen yang memperhatikannya dari kejauhan, lalu laki-laki itu keluar dari mobil saat dia sudah hampir sampai.
"Ayo, Mas!"
Mahen mengangguk sambil membawa sesuatu yang akan dia berikan untuk Yara, kakinya mengikuti langkah Via untuk masuk ke apartemen itu. Dia memperhatikan setiap sudut apartemen yang tampak nyaman dan hangat, walaupun beda jauhh dengan rumah mereka dulu.
__ADS_1
"Papa!"
Yara yang melihat keberadaan sang papa langsung berlari dari dalam apartemen, membuat Mahen menjongkokkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh gadis kecil itu.
"Yala kangen Papa, huhuhu." Yara terisak dalam pelukan Mahen membuat Via memandang dengan sendu, dia lalu berbalik karena tidak tahan melihat kesedihan putrinya.
"Maafin papa ya, Sayang. Semalam papa sibuk kerja, tapi besok-besok udah enggak sibuk lagi kok." Mahen menatap ke arah Via yang membelakangi mereka.
"Benalkah? Papa janji?" Yara melepaskan pelukannya dan menatap Mahen dengan mata berbinar terang.
"Tentu saja, tapi kalau mama Yara bisa bekerja sama dengan papa," ucap Mahen membuat Via menghela napas kasar.
Yara lalu beralih pada mamanya membuat Via langsung tersenyum lebar. "Mama, mama mau kan bekelja sama sama Papa?"
Via tersenyum sambil memganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Sayang. Sekarang ayo, kita masuk!"
"Yeuy!" Yara langsung melompat dengan girang membuat kedua orang tuanya juga senang. "Aah, pasti lebih selu kalau Om Pano ada di sini juga. Nanti aku mau telpon om Pano." Dia langsung berlari masuk ke dalam apartemen untuk menghubungi Vano.
Via hanya bisa menghela napas berat karena tidak mau bertengkar dengan Mahen, apalagi dalam suasana seperti ini. "Aku tidak pernah berniat untuk mengganti posisimu dalam hidup Yara, dan itu tidak akan pernah terjadi. Tapi Yara juga tau siapa yang selama ini menemaninnya di saat papa yang dia rindukan sedang sibuk."
Mahen langsung diam mendengar ucapan Via, dia lalu memilih untuk masuk ke dalam aparteman karena tidak bisa membantah ucapan wanita itu.
Setelahnya Yara menghabiskan waktu dengan bermain bersama Mahen dan juga Via, mereka juga menikmati makan malam bersama seperti yang selalu mereka lakukan dulu.
Mahen terus memperhatikan tawa yang ada diwajah Via, sungguh dia sangat rindu sekali dengan wanita itu. Bahkan sekarang dadanya berdebar kencang setiap kali bersitatap mata dengan Via.
Tepat pukul 9 malam, Mahen menidurkan Yara di kamar bersama dengan Via. Biasanya mereka akan berbaring di kanan dan kiri gadis kecil itu, tetapi sekarang Via hanya duduk dikursi belajar sambil memperhatikan mereka.
Tiba-tiba saja mata Mahen berkaca-kaca kala kenangan-kenangan lama melintas dalam ingatannya, apalagi saat ini dia seperti hidup sendiri walaupun sudah menikah lagi.
Setelah resmi bercerai, Mahen langsung menikahi Clara karena paksaan dari wanita itu. Namun, keluarga Mahen tidak setuju jika mereka menikah secara sah dengan alasan perusahaan. Jika bayi yang ada dalam kandungan Clara sudah lahir, barulah mereka akan mengubah nikah siri dengan pernikahan yang sah.
Mahen lalu memutuskan untuk pulang saat melihat Yara sudah terpejam, dia melangkah keluar dengan di antar oleh Via setelah berpamitan pada Ibu Novi.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan, Mas. Dan terima kasih untuk hari ini," ucap Via dengan senyum tulus di wajahnya.
Deg.
Mahen meraba dadanya yang kembali bergejolak, matanya enggan untuk berpaling dari wajah Via yang saat ini tampak sangat bersinar terang dimatanya.
"Mas!"
Mahen tersentak kaget saat mendengar panggilan Via. "Ka-kalau gitu aku pulang dulu." Dia segera beranjak pergi dari tempat itu sebelum terjadi sesuatu hal yang mungkin dia inginkan.
Via lalu kembali masuk saat melihat Mahen sudah masuk ke dalam lift, dia melangkahkan kakinya ke kamar karna hari ini tubuhnya terasa sangat lelah. Dia berbaring di samping Yara sambil menarik selimut untuk putrinya itu.
Tanpa menunggu lama, kedua mata Via langsung terpejam begitu mencium bantal. Banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan membuat tubuhnya lelah, dan kedua matanya juga gampang sekali terpejam.
*
Tring, tring, tring.
Via menggeliatkan tubuh saat mendengar ponselnya berdering, dengan cepat dia mengambil benda pipih itu sebelum Yara terbangun karenanya.
"Iya, halo?"
"...."
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1