
Rumah yang tadinya terlihat ramai oleh para pelayat, kini mulai tampak sepi. Tinggallah beberapa orang yang masih berada di rumah Via, termasuk Mahen dan juga Vano.
"Aku ingin bicara denganmu, Vano," ucap Mahen pada saat lewat di depan Vano, dia berhenti sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya sata sudah mengatakan apa yang dia inginkan.
Vano menghela napas kasar, dia sudah bisa menebak kalau kakaknya itu pasti ingin mencari gara-gara dengannya.
Tidak mau Mahen menunggu terlalu lama, dia langsung saja beranjak pergi untuk menyusul langkah laki-laki itu. Namun, ketika akan melangkahkan kaki. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik ujung jaketnya membuat Vano langsung melihat ke arah belakang.
"Ada apa?" tanya Vano pada seseorang yang memegang jaketnya.
"Kau ingin menemui kakakmu?" tanya Via. Ternyata dia mendengar apa yang baru saja Mahen katakan, dan dia takut kedua lelaki itu bertengkar.
Vano menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Via. "Tentu saja, bukankah dia yang memintanya?" Dia menatap Via dengan heran, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu darinya.
"Em ... baiklah. Ta-tapi, aku mohon jangan sampai bertengkar."
Vano mengernyitkan keningnya semakin bingung, tetapi dia menganggukkan kepalanya dan segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Via terus menatap kepergian Vano dengan khawatir. Dia tidak ingin Mahen mencari gara-gara dengan Vano, karena biar bagaimana pun laki-laki itu sudah banyak membantu keluarganya.
Vano yang sudah keluar dari rumah Via, langsung mendekati Mahen yang sedang berdiri di bawah pohon mangga yang ada di samping rumah itu. Terlihat Mahen sedang melihat ke arah jalanan dengan sebatang rokok di tangannya.
"Sejak kapan kakak merokok?"
Mahen langsung melirik ke arah samping saat mendengar suara seseorang. "Sejak kau ikut campur dalam hal pribadiku."
Vano tergelak mendengar ucapan Mahen membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan erat. "Masalah pribadimu yang mana, hem?" Tantangnya.
__ADS_1
Mahen menatap Vano dengan geram, tetapi dia berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak terbawa emosi. "Sudahlah, percuma bicara dengan orang tidak waras sepertimu."
Vano rasanya ingin sekali tertawa sambil berguling-guling saat ini. Sebenarnya siapa sih, yang tidak waras? Dia, atau Mahen sendiri?
"Sudah aku katakan berkali-kali untuk menjauhi Via dan juga anakku, apa kau tidak punya rasa malu sama sekali?" ucap Mahen sambil menatap Vano dengan tajam, sementara laki-laki itu masih tersenyum tipis padanya.
"Sekarang begini, sebenarnya apa masalahmu kalau aku dekat dengan mereka, hah?" tanya Vano sambil bersedekap dada membuat darah Mahen kian mendidih.
"Tentu saja itu masalah, mereka itu keluargaku. Yara adalah anakku, dan Via-"
"Mantan istrimu!"
Deg.
Suara Mahen langsung tercekat ditenggorokan saat mendengar ucapan Vano, dan tentu saja dia tidak bisa membalas ucapan laki-laki itu.
Saat ini, mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang terus memperhatikan dari balik dinding. Dialah Clara, yang memilih untuk pergi ke rumah Via karena tidak ingin jika wanita itu mencoba untuk mencari perhatian pada Mahen.
"Kau benar-benar sudah tidak waras, Vano. Bagaimana mungkin kau menyukai mantan istriku, hah?" teriak Mahen dengan kesal, bahkan wajahnya sudah merah padam saat ini.
"Apa salahnya jika aku menyukai mantan istrimu? Toh dia sudah bukan lagi menjadi istrimu,"
"Diam!" Mahen menunjuk tepat ke wajah Vano. "Pokoknya aku tidak mau tau. Kalau kau masih menganggap aku sebagai kakakmu, maka jauhi Via."
"Kenapa, kenapa aku harus menjauhinya?" teriak Vano dengan tidak kalah emosi dari Mahen.
"Kenapa, kenapa kau bilang?" Mahen maju selangkah lebih dengan Vano. "Karna aku masih mencintai Via, dan dia akan kembali menjadi istriku."
__ADS_1
Deg.
Clara yang mendengar ucapan Mahen tentu saja menjadi sangat emos. Bisa-bisanya laki-laki itu mengatakannya saat mereka sudah menikah. "Tidak, aku tidak akan membiarkannya. Aku harus memberi pelajaran pada j*a*l*a*ng itu." Dia segera berjalan masuk ke dalam rumah Via di mana wanita itu sedang berada di dapur.
"Masih cinta kau bilang?" ucap Vano dengan sinis. "Kalau kau mencintainya, tidak mungkin kau bisa membagi cinta itu pada wanita lain."
"Tau apa kau tentang cinta, hah?" Mahen merasa tidak terima.
"Aku memang tidak tau apa-apa. Tetapi saat melihat Via dan juga rumah tangga kalian, maka aku tau bagaimana makna dari cinta itu. Dan tidak itu saja, aku bahkan sampai jatuh cinta pada Via," ucap Vano sambil mengalihkan pandangannya.
"Tutup mulutmu! Jika kau mengucapkan satu kata lagi, maka aku tidak akan segan-segan memukulmu." Mahen sudah tidak bisa lagi menahan emosinya saat ini. "Kau seharusnya malu karna sudah membuat aku dan Via berpisah, kau benar-benar laki-laki hina."
Ucapan yang Mahen lontarkan benar-benar memantik kobaran api dalam diri Vano. "Bukan aku yang malu dan hina, tapi kau, Kak." Dia balik menunjuk ke arah Mahen. "Seharusnya kau malu karna sudah menyelingkuhi istrimu, kau bahkan sampai membuat selingkuhanmu itu hamil. Dan sekarang, kau malah sibuk ingin kembali pada istri yang sudah kau sakiti, bahkan kalian juga sudah bercerai. Tidak ada perbuatan yang lebih hina dari semua itu."
"Vano!" teriak Mahen.
"Itulah kenyataannya. Aku juga tidak peduli apakah kau suka atau tidak dengan kedekatanku dan Via, karna aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk mencintainya." Vano langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah Via meninggalkan Mahen yang masih terpaku di tempatnya saat ini.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1