
Semua orang terdiam mendengar ucapan Vano, terutama Via yang saat ini sedang memandang laki-laki itu dengan tajam.
"Wa-wanitaku? Dia mengatakan aku adalah wanitanya?" Via merasa terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Vano.
"Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kesabaranku habis," usir Vano. Dia tidak peduli ini rumah siapa, yang pasti dia tidak suka jika pasangan si*alan itu membuat keributan di tempat ini.
Mahen hanya bisa diam saat mendengar hinaan yang Vano layangkan untuk istrinya, sementara Clara merasa kesal karena Mahen tidak membelanya.
"Kau tidak berhak mengusirku, Vano. Karna ini bukanlah rumahmu," ucap Mahen dengan tajam.
"Dia berhak mengusirmu sesuai kemauannya, Nak Mahen." Ibu Novi yang sejak tadi diam kini angkat bicara membuat semua orang terdiam. "Dia sudah ibu anggap sebagai putra ibu sendiri, jadi dia berhak untuk mengusirmu dari sini."
Via dan Vano langsung melihat ibu Novi dengan heran, terutama Vano yang merasa tidak terima karena dianggap anak oleh wanita paruh baya itu.
"Tidak. Tolong jangan anggap aku anak, atau aku tidak akan bisa menikahi putrimu."
Mahen yang tidak menyangka kalau ibu Novi akan mengatakan hal seperti itu langsung beranjak mendekatinya, tentu saja membuat Clara benar-benar kesal.
"Tapi, Bu. Aku ini Mahen, aku-"
Ibu Novi mengangkat tangannya membuat ucapan Mahen terpaksa berhenti. "Sudah cukup kau merusak hidup putriku, dan sudah cukup kau menyakiti hatinya. Kau bahkan sudah membuat cucuku merasa sedih, dan itu tidak bisa lagi ku terima. Cepat pergi dan bawa istrimu itu, dan jangan muncul lagi dalam kehidupan putriku."
Mahen terdiam dengan pandangan tidak percaya dengan apa yang Ibu Novi katakan, sementara Vano dan Via hanya bisa memandang ibu Novi dengan tatapan bingung.
Mahen terpaksa pergi dari tempat itu karena sudah diusir oleh ibu Novi, bergitu juga dengan Clara yang mengikuti langkah Mahen untuk pergi dari sana.
Brak.
__ADS_1
Mahen menutup pintu mobilnya dengan kesal membuat Clara terjingkat kaget. "Sebenarnya apa yang kau lakukan, kenapa kau ada di sini?" Dia menatap Clara dengan tajam.
Clara menelan salivenya dengan kasar. "A-aku cuma mau memberi ucapan duka pada Via, ta-tapi wanita itu malah memperlakukanku seperti ini."
Mahen mengernyitkan keningnya. "Seperti ini bagaimana? Aku sangat mengenal Via, dan dia tidak mungkin melakukan hal buruk padamu. Kecuali kau yang melakukannya."
"Apa? Aku, aku tidak melakukan apapun padanya, kenapa kau lebih membela dia dari pada aku?" ucap Clara dengan tajam membuat kepala Mahen berdenyut sakit.
"Aw, ssshh." Tiba-tiba Clara memekik sakit saat perutnya terasa kram membuat Mahen langsung panik.
"Ada apa, apa terjadi sesuatu dengan anakku?" Dia memegangi perut Clara dengan khawatir.
"A-aku tidak tau. Tapi tadi Vano mendorongku dengan kuat, dan aku rasa terjadi sesuatu dengan anak kita," ucap Clara dengan lemah.
"Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang." Mahen segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit sebelum terjadi sesuatu dengan kandungan Clara, sementara Clara sendiri tersenyum sinis melihat kekhawatiran diwajah Mahen.
Setelah kepergian Mahen dan juga Clara, saat ini Via, Vano dan juga ibu Novi terlihat sedang duduk di ruang tamu. Suasana menjadi hening, karena tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara.
"Kalau gitu ibu mau melihat Yara sebentar, mana tau dia sudah bangun." Ibu Novi memilih untuk melihat Yara di rumah tetangga sebelah, tadi cucunya itu bermain di sana dan ketiduran. Dia juga tau kalau saat ini pasti ada sesuatu yang ingin Via dan Vano bicarakan.
Via menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan sang ibu, sementara Vano hanya diam sambil melihat ponselnya.
"Em ... apa, apa aku boleh bicara sebentar denganmu?"
Vano mengalihkan pandangannya dari ponsel, dan melihat ke arah Via. "Bicara saja, aku akan mendengarkannya." Dia lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana.
Via diam sejenak untuk menenangkan gejolak hatinya, karena dia ingin menanyakan sesuatu pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa, apa kau menyukaiku?" tanya Via dengan ragu-ragu, tetapi matanya menatap tajam ke arah Vano.
Vano terdiam mendengar pertanyaan Via, dia sedang berpikir keras haruskah mengatakan yang sejujurnya atau tidak pada wanita itu.
"Mungkin kau terkejut dengan apa yang aku tanyakan, dan mungkin saja aku salah memahami sesuatu. Hanya saja ada yang mengganjal dalam pikiranku, jadi, jadi aku memutuskan untuk menanyakannya langsung padamu," tambah Via kemudian. Jujur saja, saat ini dia merasa sangat malu sekali.
Vano menghembuskan napas kasar sebelum menjawab pertanyaan Via. Dia memperhatikan wajah wanita itu, juga kedua manik mata Via seolah meyakinkan diri kalau ini adalah waktu yang tepat untuk dia mengungkapkan seluruh perasaannya.
"Tidak, kau tidak salah. Aku memang menyukaimu, dan aku juga jatuh cinta padamu."
Deg.
Via tercengang mendengar jawaban yang keluar dari mulut Vano. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. "Ba-bagaimana mungkin?" Dia benar-benar sangat terkejut lahir dan batin.
"Entahlah, aku tidak tau." Vano menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau kenapa aku bisa jatuh cinta padamu, dan semua itu diluar kendaliku. Dan ya, bukankah rasa cinta itu datangnya dari Tuhan?" Dia menatap Via dengan tajam yang juga sedang menatapnya.
"Kau sangat dekat dengan Tuhan, kan. Jadi, bisa tolong tanyakan pada-NYA kenapa aku jatuh cinta padamu?" ucap Vano. "Dan katakan juga, bahwa aku benar-benar tersiksa dengan perasaan ini, karna cinta ini membuat aku ingin sekali memikimu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1