Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 82. Keaslian Bukti Kepemilikan.


__ADS_3

Suasana di ruang rapat berubah tegang membuat para sekretaris yang ada di tempat itu juga ikut merasa bingung, terutama para pemegang saham yang saat ini sedang bertanya-tanya tentang apa yang terjadi sekarang.


"Hentikan omong kosong ini dan pergi dari sini!" usir Mahen pada Indra, tetapi laki-laki itu tidak bergeming dan malah menunjukkan semua kepemilikan atas aset-aset berharga Mahen yang lainnya juga.


"Anda jangan seperti itu, Tuan Mahen. Kita sudah membuat kesepakatan dan saya juga sudah menghabiskan banyak uang, jadi Anda tidak boleh membantah kepemilikan saham yang sudah Anda alihkan pada saya."


Papa Adrian langsung menarik kertas yang ada di tangan Indra untuk melihat apakah bukti kepemilikan saham itu resmi atau tidak. "Ini, ini-" dia tidak bisa berkata apa-apa dan beralih menatap ke arah Mahen.


"Tutup mulutmu atau aku akan menghajarmu sekarang juga." Mahen mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Aku bersumpah tidak pernah menjual atau pun mengalihkan saham kepada siapa pun, dan untuk apa aku melakukan itu, hah?"


Semua orang yang ada di ruangan itu saling pandang lalu menganggukkan kepala mereka, karena apa yang dikatakan oleh Mahen adalah benar. Untuk apa juga Mahen menjual saham dan kekuasaan atas perusahaan keluarganya sendiri?


"Itu karna Anda ingin membangun perusahaan sendiri. Bukannya Anda yang bilang, kalau Anda itu sangat iri dengan adik Anda. Itu sebabnya Anda mengalihkan semuanya pada saya, baik saham dan juga beberapa aset berharga milik perusahaan ini."


Buak.


Sebuah pukulan melayang tepat ke wajah Indra membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah ke belakang, tentu saja semua orang tersentak kaget dengan apa yang Mahen lakukan.


"Aku akan menuntutmu atas penipuan yang kau lakukan ini, aku pastikan kalau kau membusuk di dalam penjara,"


"Silahkan saja, Tuan Mahen. Anda berhak untuk melaporkan tuan Indra ke kantor polisi, tetapi kami juga akan melaporkan Anda dan juga menuntut perusahaan ini karena sudah bersikap tidak sopan kepada pemilik saham. Juga ada beberapa aset yang juga menjadi milik tuan Indra, dan tuan Indra akan menjual semua aset itu," ucap sekretaris Indra sambil menunjukkan bukti-bukti kepemilikan.


Mahen tercengang di tempatnya saat melihat semua itu. Dia yang sudah emosi tingkat dewa kembali menerjang tubuh Indra yang sedang dihalangi oleh anak buah lelaki itu.


"Hentikan. Cukup, Mahen!" Papa Adrian menarik tubuh Mahen agar putranya itu menghentikan apa yang terjadi.


"Aku harus menghajarnya, Pa. Aku tidak melakukan apapun, dan saat ini dia sedang-"

__ADS_1


"Sudah cukup. Sekarang kalian ikut ke ruanganku sekarang juga." Papa Adrian menunjuk ke arah Mahen dan juga Indra, dia lalu beralih melihat ke arah Vano. "Bereskan semua yang ada di sini, Vano."


Vano menganggukkan kepalanya membuat papa Adrian beranjak keluar dari ruangan itu, dengan diikuti oleh Mehan beserta Indra dan juga para anggotanya.


Setelah kepergian papa dan juga kakaknya, Vano segera mengambil alih keadaan rapat. Dia melakukan penundaan untuk rapat hari ini, dan meminta maaf pada semua pemegang saham aras keributan yang telah terjadi.


"Kami ingin kejelasan tentang apa yang terjadi tadi, Tuan Vano. Apakah tuan Mahen benar-benar sudah mengalihkan saham kepada orang lain tanpa persetujuan kami?"


"Itu tidak mungkin. Lagi pula, untuk apa kakakku melakukan semua itu? Dia bukan orang gila yang akan melepaskan kekuasaannya pada orang lain."


Para pemegang saham menyetujui apa yang Vano katakan. "Lalu, bagaimana dengan yang dikatakan laki-laki tadi? Apa saat ini, Anda sedang membangun perusahaan Anda sendiri?"


Vano terdiam saat mendengar pertanyaan dari salah satu pemegang saham, dan dia tidak berminat sama sekali untuk menjawabnya.


"Kami akan segera mengumpulkan Anda semua jika masalah ini sudah selesai. Jadi, saya harap Anda bisa menyimpan rahasia tentang keributan tadi untuk diri Anda sendiri. Selamat siang." Vano menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari tempat itu.


Sementara itu, papa Adrian dan yang lainnya sudah berada di dalam ruangan. Mereka duduk di atas sofa dengan saling menatap tajam satu sama lain.


Papa Adrian dan sekretarisnya segera memeriksa keaslian dari surat-surat itu, sementara Mahen terus menatap tajam ke arah Indra.


"Siapa laki-laki ini? Aku tidak pernah mengenal dia sebelumnya, tapi kenapa dia membuat masalah dengan menyeret-nyeret namaku?" Mahen merasa bingung. Tangannya terus terkepal erat dan ingin sekali menghunjam wajah laki-laki itu dengan pukulan-pukulannya.


Papa Adrian dan sekretarisnya saling pandang untuk beberapa saat, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Indra.


"Lebih baik Anda pergi dulu dari perusahaan ini, karena saya harus memeriksa beberapa hal yang terkait dengan kepemilikan yang Anda tunjukkan."


Indra tersenyum penuh arti lalu beranjak bangun dari sofa. "Baiklah, Tuan Adrian. Saya akan pergi dari perusahaan ini, tapi saya juga akan kembali dan menempati posisi yang sudah menjadi milik saya,"

__ADS_1


"Kau-"


Papa Adrian mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Mahen membuat laki-laki itu langsung diam.


"Baiklah, kalau gitu kami permisi." Indra menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar dari ruangan itu dengan diikuti para bawahannya.


"Panggil Vano ke ruanganku, Haikal." Papa Adrian melihat ke arah sekretarisnya yang langsung dijawab dengan anggukan laki-laki itu.


Akhirnya tinggal Mahen dan papa Adrian saja yang masih berada di dalam ruangan itu membuat suasana jadi kian dingin.


"Aku bersumpah tidak melakukan apapun, Pa. Aku bahkan tidak kenal dengan laki-laki itu," ucap Mahen memecah keheningan.


Papa Adrian menyentuh keningnya yang berdenyut sakit. "Lebih baik kau juga keluar dari ruanganku, Mahen."


Mahen tercengang dan menatap papanya dengan tidak percaya. "Apa papa lebih percaya dengan orang lain, ketimbang aku, anak papa sendiri?"


"Cukup, Mahen. Sekarang aku tidak ingin berdebat denganmu,"


"Kenapa, Pa? Apa karna papa lebih percaya dengan orang tadi dari pada aku, begitu?" Dia menatap papanya dengan sinis. "Aku tidak gila, Pa. Tidak gila."


Plak.




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2