Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 83. Perasaan Khawatir.


__ADS_3

Plak.


Papa Adrian melayangkan sebuah tamparan kewajah Mahen tepat saat Vano masuk ke dalam ruangan itu.


"Sudah ku katakan cukup, itu artinya cukup, Mahen!" teriak papa Adrian dengan wajah merah padam menahan emosi, membuat Vano dan para sekretaris terdiam di ambang pintu.


"Tidak cukup dengan membuat keributan dan merusak nama baik perusahaan, sekarang kau malah berniat untuk menghancurkannya. Apa kau belum puas juga, hah?" Papa Adrian mencengkram kerah kemeja Mahen membuat Vano langsung mendekati mereka.


"Hentikan, Pa. Kita bisa menyelesaikan semua ini dengan baik-baik,"


"Lepaskan tanganku!" Papa Adrian menghempaskan tubuh Mahen dengan kasar dan menepis tangan Vano yang memegang lengannya. "Sekarang pergi dari tempat ini sebelum kesabaranku habis." Dia menunjuk ke arah pintu keluar untuk mengusir Mahen.


"Tapi Pa, aku tidak-"


"Keluar dari perusahaanku sekarang juga!" teriak papa Adrian membuat suaranya menggema di ruangan itu.


Mahen menghela napas kasar dengan kepala tertunduk, dia lalu melihat ke arah Vano yang saat ini menepuk lengannya.


"Keluarlah dulu, Kak. Aku akan bicara pada papa."


Mahen hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu berjalan gontai ke arah pintu. Dia kembali menoleh ke arah papa Adrian berharap kalau papanya itu akan kembali memanggilnya, tetapi semua itu tidak mungkin terjadi.


"Dasar bajing*an. Aku akan segera menyelidiki semua ini dan menghancurkanmu, Indra. Tidak peduli siapa kau dan kenapa kau melakukan semua ini, yang pasti aku akan membalasmu dua kali lipat." Mahen segera meninggalkan tempat itu dengan kemarahan yang membara, dia harus segera menyelesaikan semua ini sebelum berimbas pada perusahaaan.


Pada saat yang sama, Via terlihat sedang melamun di ruang kerjanya. Sudah beberapa hari ini dia terus kepikiran tentang Vano, dia merasa khawatir karena tidak mendengar kabar dari laki-laki itu.


"Apa yang terjadi dengan Vano, kenapa dia tidak ada kabar?" Via terus menggenggam ponselnya di mana pun dia berada. "Apa dia sedang sakit? Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Dia merasa pusing sendiri sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Riani yang sejak tadi berdiri dipintu terkekeh pelan melihat apa yang terjadi pada sahabatnya itu, dia lalu berjalan masuk ke dalam ruangan tanpa membunyikan suara.

__ADS_1


"Apa aku telpon aja ya? Tapi, apa yang harus aku katakan pada Vano?"


"Duar!"


"Astaghfirullahal'adzim." Via terlonjak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang muncul di hadapannya, dan sepertinya memang sengaja untuk membuatnya terkejut. "Kau mau membuat aku kena serangan jantung?" Dia melihat Riani dengan tajam sambil mengusap dadanya yang berdebar keras.


"Hahahaha, maafkan aku, Vi. Abisnya kau melamun aja sih, dari kemaren loh aku perhatikan." Riani beralih duduk dikursi yang ada di hadapan Via, sementara Via sendiri menghela napas frustasi.


"Ada apa? Apa kau ada masalah?"


Via langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rin. Semuanya baik-baik aja, kok. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu."


"Apa sesuatu itu dalam bentuk Vano?"


Via langsung mengernyitkan keningnya membuat Riani kembali tergelak.


"Jangan memasang wajah seperti itu. Aku ini seorang cenayang, sudah pasti aku tau semua yang ada dalam hati dan pikiranmu,"


"Haha, ya enggak sih. Intinya aku tau apa yang sedang kau pikirkan saat ini, tertulis jelas diwajahmu,"


"Benarkah?" Via pura-pura merasa terkejut. "Tertulis di mana, apa dijidatku?" Dia memegang keningnya sendiri membuat Riani menggelengkan kepala.


"Ya ya ya, tertulis jelas di sana. Ada huruf, ka fa rā,"


"Astaghfirullahal'adzim, naudzubillahi minzalik. Jangan ngomong sembarangan ya." Via langsung mencubit lengan Riani membuat gadis itu memekik kesakitan.


"Ya abisnya kamu sih, orang ngomong benar-benar juga," ucap Riani sambil mengusap-usap lengannya yang terasa panas. "Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau bertengkar dengan Vano?" Jiwa kepo Riani mulai meronta-ronta.


Via kembali menggelengkan kepalanya. "Kami baik-baik saja, kok. Cuma udah beberapa hari ini aku tidak mendengar kabarnya, aku jadi merasa khawatir jika dia sakit atau sedang terjadi sesuatu. Apalagi Yara selalu menanyakan tentang laki-laki itu, padahal Yara selalu telponan dengan Vano." Ya, putrinya itu selalu saja telponan dengan Vano tetapi masih sibuk minta bertemu.

__ADS_1


"Itu hal yang wajar, Vi. Setelah kau dan Mahen bercerai, Yara selalu bersama dengan Vano. Apalagi ayahnya itu sama sekali tidak peduli padanya, tentu saja Yara sangat haus akan kasih sayang seorang ayah."


Via menghela napas kasar, dia jadi merasa bersalah atas semua yang telah terjadi. Andai dia dan Mahen tidak bercerai, Yara pasti tidak akan menderita seperti ini.


"Kenapa kau diam? Apa kau sedang meratapi penyesalanmu?" Riani mengusap punggung tangan Via dengan lembut. "Apapun yang terjadi sekarang, itu sudah menjadi takdir Allah, Vi. Inilah yang terbaik untuk kalian."


"Tapi Yara menjadi korban karena keegoisan kami, Rin. Andai aku dan Mas Mahen tidak bercerai-"


"Andai kalian tidak bercerai, lalu apa?" Potong Riani dengan cepat. "Apa kau akan menerima pernikahan keduanya, begitu? Lalu Yara, dia juga akan punya ibu tiri seperti Clara. Apa kau pikir Yara akan bahagia? Tidak, Vi. Jawabannya adalah tidak, karena apa yang terjadi saat ini sudah benar."


Via hanya bisa mengangguk lemah. Dia berharap agar Yara bisa hidup bahagia layaknya anak-anak yang lain walaupun tidak tumbuh dalam keluarga yang lengkap.


Sementara itu, Mahen yang baru sampai di rumah langsung membuka pintu rumah itu dengan kasar membuat Clara terlonjak kaget.


"Apa yang terjadi, Mahen? Kenapa kau pulang ke rumah dalam keadaan marah seperti ini?" tanya Clara yang saat itu sedang mewarnai kukunya.


"Kau diam saja, Clara. Jangan ikut campur dan semakin membuat kepalaku sakit." Mahen menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. "Si*alan. Kau lihat saja, Indra. Aku pasti akan mencari tahu dan menghancurkan hidupmu."


Deg.


Jantung Clara berdegup kencang saat mendengar nama seseorang yang terucap dari mulut Mahen, sampai-sampai membuat pewarna kukunya tumpah membasahi sofa.





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2